Cinta di Puncak Mahameru

Amrullah Ibrahim
Chapter #31

Chapter tanpa judul #31

=== IJAB QOBUL BERSAHAJA DI BAWAH KAKI MAHAMERU ===

Babak V: Tautan Abadi & Rajutan Kalimat C.I.N.T.A

Lokasi: Masjid Al-Ikhlas Ranupani (2.100 mdpl), Lereng Gunung Semeru


[01. Fajar Berkabut di Ranupani]

Ketika Udara 2.100 mdpl Membekukan Debar Dada


Kabut tebal merayap lambat di atas permukaan Danau Ranupani, serupa selendang sutra putih kumal yang diseret oleh jemari gaib melintasi perbukitan pinus. Di ketinggian dua ribu seratus meter dari permukaan laut, udara pagi laksana serpihan es halus yang menghunjam pori-pori kulit tanpa ampun. Setiap hembusan napas yang terlontar menjelma kepulan uap putih pekat, membubung lalu lebur bersama aroma getah pinus basah dan bau tanah vulkanik yang baru saja dibasahi embun upas.


Di tepi pelataran tanah liat yang memadat, berdirilah Masjid Al-Ikhlas. Bangunan bersahaja berdinding papan kayu pinus tua yang telah menghitam oleh gilasan musim dan asap perapian warga, dinaungi atap sirap kayu ulin yang tersusun rapi berlapis-lapis. Tidak ada kubah emas berkilauan yang menjeritkan kemegahan duniawi di sini; hanya sebuah menara kayu kecil bersahaja dengan pucuk bulan sabit tembaga yang menghadap lurus ke arah puncak Mahameru—puncak para dewa yang pagi ini masih menyembunyikan wajah angkuhnya di balik selimut halimun perak.


Puluhan warga desa adat Tengger telah duduk bersila di selasar hingga meluber ke dalam ruangan masjid. Pria-pria paruh baya berselubung sarung motif kotak-kotak khas Tengger yang dililitkan melintang di dada, lengkap dengan udeng penutup kepala yang diikat simpul rapi. Wajah-wajah mereka legam terbakar matahari pegunungan, namun gurat ketulusan yang terpahat pada kerutan dahi mereka memancarkan takzim yang luar biasa. Mereka tidak sedang menghadiri pesta perayaan yang bising dengan bebunyian terompet atau hidangan bergelimang kemewahan; mereka hadir untuk menjadi saksi atas sebuah ikatan yang telah lama dibicarakan oleh angin lembah dan bisikan dedaunan cemara.


Di atas karpet hijau sederhana beraroma kapur barus dan benang wol basah, Arganata Ar Rimbai duduk bersila kaku. Baju koko putih polos berbahan katun kasar yang dikenakannya tampak kontras dengan lantai kayu yang kelam. Telapak tangannya terasa sedingin lelehan gletser Mahameru. Ada perang saudara yang berkecamuk hebat di dalam rongga dadanya—sebuah gemuruh yang jauh lebih bising daripada gempa vulkanik Semeru.


Matanya menatap lurus ke arah hamparan sajadah di depannya. Di sanalah tergeletak sebuah mushaf Al-Qur'an bersampul hijau tua dan sebuah kotak kayu jati kecil berisi segenggam tanah humus yang ditaburi biji kecambah cempaka kuning. Maskawin yang bagi kebanyakan mata duniawi mungkin tampak tak bernilai, namun di hadapan arasy langit, merupakan timbangan takwa yang sanggup meremukkan kesombongan gunung-gunung.


---


[02. Detak Kayu Pinus & Janji Dua Alam]

Kilasan Retrospeksi di Ambang Pintu Takdir


Suara gemertak kayu pinus di bawah injakan langkah kaki mengalihkan kesunyian yang mencekam. Dari balik tirai pembatas kain putih tipis di sudut kiri mimbar, sosok itu duduk dengan ketenangan yang menyayat kalbu. Baiza Sabilah binti Abdullah. Ia mengenakan gaun putih tertutup dengan sulaman benang emas sederhana di tepian kerudungnya. Tidak ada bedak tebal yang menutupi rona wajahnya; hanya cahaya wudu dan keteduhan mata yang menyimpan misteri samudra tak bertepi.


Melihat bayangan siluet Baiza di balik tirai, ingatan Arganata mendadak tersedot ke dalam pusaran lorong waktu yang sunyi. Ia teringat pada malam hening beberapa purnama silam, ketika batas antara dimensi kasatmata dan alam malakut seolah merekah di tepian Kalimati. Kala itu, dalam mimpi ruhiyah yang teramat nyata, suara Baiza menggema dengan keanggunan yang tak tertandingi oleh keindahan bidadari mana pun.


'Aku tidak menuntut istana megah dari seorang imam,' bisik Baiza dalam ingatan masa lalunya yang kini terngiang kembali di telinga batin Arganata bagai genta perak. 'Melainkan dada yang lapang dengan zikir, dan tangan yang sanggup membimbingku meniti titian shirathal mustaqim menuju jannah. Jika cintamu hanya sebatas debu dunia yang beterbangan ditiup angin lembah, mundurlah. Namun jika engkau berani mengikat jiwamu dalam takwa, biarlah puncak Mahameru menjadi saksi bahwa dua alam telah tunduk pada satu syariat yang mulia.'


Janji itu! Janji yang dulu terasa mustahil bagi seorang pemuda pengembara seperti Arganata. Baiza bukanlah perempuan sembarangan. Ia adalah putri dari keturunan penjaga mata air suci yang telah berakar ratusan tahun di rahim Semeru—jiwa yang terikat pada kemurnian alam gaib yang tak terjamah oleh noda keduniawian. Mengawininya bukan sekadar urusan administrasi catatan sipil atau pembagian harta gono-gini; ini adalah penyerahan jiwa secara mutlak kepada Sang Pemilik Jiwa.


Di sebelah kanan Arganata, Fardhan duduk terpaku. Sahabat karib sekaligus saksi pernikahan dari pihak mempelai pria itu memegang map berkas dengan buku-buku jari yang memutih. Matanya yang biasanya jenaka kini menatap Arganata dengan tatapan yang begitu kompleks: ada kekaguman yang teramat dalam, namun terselubung kabut kesedihan tak terkatakan yang ia tahan sekuat tenaga agar tidak tumpah di hadapan para sesepuh Tengger. Fardhan tahu persis harga yang harus dibayar untuk pagi ini.


---


[03. Lafaz yang Menggetarkan Singgasana Semesta]

Ijab Qobul Bersahaja di Bawah Kaki Mahameru


Penghulu KUA Kecamatan Senduro yang bertugas pagi itu adalah Kyai Mansur—seorang pria bersahaja berusia enam puluhan dengan jenggot kelabu tipis dan sorot mata elang yang teduh namun menembus hingga ke dasar sukma. Ia membetulkan letak kacamata berbingkai peraknya, lalu membuka kitab panduan nikah dan daftar maskawin yang tertulis dengan tinta hitam rapi.


Suasana di dalam masjid mendadak hening total. Bahkan suara desau angin yang biasanya mempermainkan daun-daun cemara gunung di luar dinding kayu mendadak lenyap seketika, seolah semesta alam menahan napasnya untuk menyimak sebuah peristiwa sakral. Udara dingin yang semula menggigit terasa membeku dalam keheningan yang agung.


Kyai Mansur mengulurkan tangan kanannya yang kokoh berurat. Arganata menarik napas panjang, memasukkan udara pegunungan sedalam mungkin ke dalam dadanya, lalu menyambut genggaman tangan sang penghulu. Kulit mereka bertaut. Seketika itu juga, sengatan getaran metafisik merayapi lengan Arganata. Tangannya terasa begitu dingin, namun di dalam relung jiwanya, api tauhid berkobar dahsyat.

Lihat selengkapnya