Cinta di Ufuk Khatulistiwa

Amrullah Ibrahim
Chapter #1

Galata dan Khatulistiwa

"Ilmu yang kau bawa dari tanah Utsmani itu tidak boleh hanya diam di kepala, Bara. Ia harus turun ke bumi, menyentuh tanah dan keringat orang-orang yang membutuhkan keadilan."

— K.H. Qomaruddin Al Quthuz kepada Bara Kembara

 𓆩༺✧༻𓆪 


Bagian 01 — Salam Terakhir di Tepi Bosphorus

⚜

Angin musim gugur dari arah Laut Hitam menusuk kisi-kisi mantel wol hitamku seperti serpihan es halus yang tak kasat mata. Di dermaga Eminönü yang beraroma amis tiram dan arang kestane panggang, aku berdiri membatu memandangi perahu-perahu feri yang membelah permukaan Selat Bosphorus yang pekat laksana tinta cina. Di seberang perairan, Menara Galata menjulang congkak menembus langit senja yang memar oleh sapuan warna tembaga dan ungu padam. Selama tiga tahun mengadu peruntungan pikiran di lorong-lorong batu Istanbul Technical University, aku kerap mendaki puncak bukit berbatu itu hanya untuk mengukur seberapa jauh jarak antara mimpi rekayasaku dengan tanah kelahiranku yang berjarak delapan ribu kilometer di selatan khatulistiwa.

Kugenggam gulungan ijazah magister teknik industri bertorehkan lambang lebah sarang lebah emas di dalam tas ranselku. Nilai sempurna, predikat kehormatan summa cum laude, serta sebuah tawaran kontrak kerja di konsorsium manufaktur kedirgantaraan di pinggiran Ankara kini serasa tak lebih dari tumpukan kertas rapuh yang tak bertenaga. Di saku dada mantelku, selembar boarding pass Turkish Airlines bernomor penerbangan TK-66 tujuan Jakarta transit Surabaya berderak pelan setiap kali napasku tercekat. Pulang. Sebuah kata sederhana yang bagi kebanyakan anak rantau adalah nyanyian pembebasan, namun bagiku adalah genderang panggilan tugas yang menuntut penyerahan diri secara total.

"Kau bukan sekadar anakku, Bara," bisik suara Abah di relung ingatanku, menyelinap di antara lengkingan camar yang berputar-putar di atas tiang layar perahu nelayan Karaköy. "Kau adalah darah dan tulang dari pesantren ini. Tiga ribu santri yang melantunkan bait-bait Imrithi setiap bakda magrib itu memandang pundakmu sebagai tempat bertumpu ketika mataku kelak terpejam untuk selamanya."

Kalimat itu diucapkan Abah melalui sambungan telepon internasional dua pekan sebelum sidang tesisku. Nada suaranya saat itu terdengar lebih serak daripada biasanya, tersengal oleh deru napas pendek yang sengaja ia sembunyikan dengan deheman panjang. Saat itu aku menduganya hanyalah kelelahan musiman seorang kiai sepuh yang tak henti melayani tamu dari seantero pulau. Namun kini, di bibir dermaga Istanbul yang kian temaram, getaran kecemasan purba merayap di sepanjang tulang punggungku. Ada firasat ganjil yang meracuni darahku: kepulanganku bukan sekadar upacara peletakan serban di atas kepalaku, melainkan awal dari sebuah perangkap takdir yang tak pernah kurancang dalam diagram alir mana pun.

Mataku beralih menatap kubah-kubah Masjid Süleymaniye yang siluetnya bertakhta anggun di punggung bukit belahan Eropa. Arsitek Mimar Sinan membangun lengkungan kubah raksasa itu bukan semata-mata dengan doa, melainkan dengan kalkulasi tegangan batu kapur, perimbangan gravitasi, dan resonansi akustik yang presisi melampaui zamannya. Sejak hari pertama menjejakkan kaki di kampus İTÜ, aku berikrar dalam hati bahwa kejayaan peradaban Islam masa lalu runtuh bukan karena kurangnya lantunan zikir, melainkan karena umatnya memutus urat nadi sains dan teknologi dari denyut keadilan sosial.

Aku ingin membangun pabrik pengolahan hasil tani terpadu di lembah pesantren, merancang rantai pasok logistik modern bagi para petani tebu yang selama puluhan tahun diperas oleh tengkulak pabrik gula, dan membebaskan para santri dari kutukan kemiskinan struktural. Namun, apakah dunia pesantren yang sunyi, yang dibalut kesakralan tradisi ratusan tahun, bersedia membuka gerbang bagi seorang insinyur yang berbicara tentang otomasi industri, efisiensi termodinamika, dan kecerdasan algoritma? Ataukah kepulanganku ini hanyalah upaya pemotongan sayap, memaksaku bersila di atas dampar kayu untuk sekadar mengulang-ulang fatwa kuno tanpa berani menyentuh luka zaman?

Kulepaskan pandangan dari riak ombak Bosphorus ketika azan magrib mulai berkumandang serentak dari puluhan menara di kedua sisi benua. Suara muazin dari Masjid Baru di belakangku saling bersahutan dengan panggilan dari Üsküdar di daratan Asia, melintasi selat, bertaut di udara dingin menjadi simfoni kerinduan yang menggetarkan dada. Aku berbalik, merapatkan kerah mantelku, dan melangkah mantap menuju stasiun tramvay yang akan membawaku ke bandara baru di Arnavutköy. Selamat tinggal, Istanbul. Kota seribu kubah telah menempaku menjadi pedang; kini saatnya melihat apakah tanah Jawa akan menerimaku sebagai pembaharu, ataukah justru mematahkan mataku hingga remuk tak berdaya.


❖ ❖ ❖


Bagian 02 — Langkah Kaki di Ndalem Pesantren

⚜

Lihat selengkapnya