"Pergilah ke bumi Borneo sebagai insinyur yang melayani, bukan sebagai juragan yang menagih laba. Di sana ada adik sepupumu, Camilla, yang menjaga anak-anak buruh. Jadilah pelindungnya." — K.H. Qomaruddin Al Quthuz
❖ ── ✦ ── ❖
Bagian 01 : Kitab Kuning dan Berkas Neraca Industri
Dua Paradigma yang Bersilangan di Bawah Cahaya Pagi Ndalem - Lokasi: Perpustakaan Pribadi Ndalem Pesantren Luhur Al-Quthuz | Waktu: Pukul 06.15 WIB | Ba'da Pengajian Subuh
⚜
Aroma minyak cendana tua, lapuknya kulit kambing penjilid naskah, dan sangit tembakau lintingan mengendap pekat di udara perpustakaan pribadi ndalem. Di ruangan berdinding kayu jati berukir itu, ribuan jilid kitab kuning tersusun rapat hingga menyentuh langit-langit yang remang. Deretan Fathul Wahhab, Bidayatul Mujtahid, hingga lembaran tebal Al-Mabsut karya Imam As-Sarkhasi seolah menjadi saksi bisu peradaban yang hening selama ratusan tahun. Namun pagi ini, kesakralan ruangan itu dirobek oleh derak kertas kalkir berukuran A0 yang dibentangkan di atas meja kayu trembesi, bersanding kontras dengan secangkir kopi tubruk hitam yang masih mengepulkan uap tipis.
K.H. Qomaruddin Al Quthuz menyandarkan punggungnya yang kian membungkuk pada sandaran kursi goyang jati. Tasbih kayu koka di jemari kanannya berhenti berputar. Tatapan matanya yang cekung—namun menyimpan kilatan elang yang belum padam—terhunjam tepat ke wajah Bara Kembara. Di hadapan sang kiyai, Bara duduk dengan postur tegak seorang insinyur lulusan Eropa. Punggungnya kaku, jari-jarinya yang terbiasa memegang kaliper digital dan perangkat lunak simulasi elemen hingga kini menggenggam erat sebuah pulpen baja.
"Perhatikan garis merah di koordinat hulu Sungai Mahurip itu, Bara," suara Kiyai Qomaruddin terdengar parau, terayun di antara batuk kering yang ia redam dengan sapu tangan putih bersulam surai hijau. "Di sanalah tiga ribu hektar tanah wakaf produktif pesantren kita dipertaruhkan. Yayasan berutang pada sindikasi bank syariah untuk mendirikan pabrik kelapa sawit itu demi membiayai makan tiga ribu santri yatim, menggaji ratusan asatidz di pelosok, dan mendirikan rumah sakit tanpa bayar. Tapi apa yang terjadi tiga bulan terakhir? Neraca laba-rugi ini berdarah, Le."
Sang kiyai menyodorkan map kulit berlogo timbul burung garuda dan cap yayasan. Bara membuka map tersebut. Matanya yang terlatih menyapu kolom-kolom neraca keuangan industri, grafik distribusi termal ketel uap, dan diagram alir proses ekstraksi minyak. Seketika denyut di pelipis Bara berdenyut tegang.
"Rendemen ekstraksi CPO anjlok ke enam belas koma dua persen?" bisik Bara, suaranya sarat ketidakpercayaan teknis. "Ini mustahil untuk perkebunan usia tanam prima sepuluh tahun, Bah. Standar pabrik kelapa sawit modern paling rendah memeras dua puluh satu persen. Jika angka ini jatuh ke enam belas persen, pabrik ini bukan hanya bocor, tapi membuang ratusan ton minyak mentah ke parit limbah setiap hari. Tekanan hidrolik screw press pasti ambruk, atau proses sterilisasi buah di autoclave kehilangan tekanan uap jenuhnya."
"Aku tidak memanggilmu untuk mendengar kuliah termodinamika Jermanmu, Bara," potong Kiyai Qomaruddin lembut namun dingin, memotong kalimat Bara seperti sebilah pisau menyayat kain sutra. "Angka enam belas persen itu bukan sekadar rumus matematika yang kehilangan variabel. Di balik angka itu, ada puluhan mandor buruh harian dari suku Dayak Kahayan yang gajinya tertunda tiga pekan. Ada gesekan parang yang mulai terhunus di gerbang timbangan buah. Pihak manajemen menuduh pekerja lokal menyabotase mesin, sementara para tetua adat menuduh pesantren kita membawa kutukan sial dan mencemari air sungai suci tempat ikan seluang mereka bertelur."
Bara menelan saliva yang terasa sepahit getah gambir. Di dinding di belakang punggung sang kiyai, jam bandul kayu jati antik berdentang enam kali dengan gema yang lambat dan berat. Setiap dentangannya terdengar seperti vonis takdir. Selama tujuh tahun Bara melarikan diri dari bayang-bayang sarung dan surau, membenamkan kepalanya ke dalam mekanika fluida dan getaran turbin uap di ruang-ruang laboratorium dingin Surabaya dan Aachen. Ia mengira sains adalah benteng pelindung paling aman dari intrik manusia dan dogma keluarga. Namun pagi ini, di hadapan kitab-kitab fiqih warisan leluhurnya, sains yang ia puja justru diseret ke dalam gelanggang hisab pertanggungjawaban moral yang mengerikan.
"Baharuddin, abahmu almarhum, mewakafkan separuh saham kepemilikan pabrik itu sebelum ia wafat," lanjut Kiyai Qomaruddin dengan tatapan yang kian menukik tajam. "Dia percaya bahwa wakaf tidak boleh hanya menjadi tanah kuburan dan masjid yang lengang di waktu siang. Wakaf harus menjadi pohon yang mengalirkan air susu bagi kaum dhuafa. Tapi kini, pohon itu sedang digerogoti ulat dari dalam akarnya. Dan engkaulah satu-satunya orang yang memiliki dua kunci sekaligus: darah pendiri pesantren ini, dan akal insinyur yang mengerti bagaimana mesin berputar."
❖ ❖ ❖
Bagian 02 : Nama yang Tercecap Kembali
Bayang-Bayang Sepuluh Tahun Silam dan Teka-Teki Air Merah - Lokasi: Meja Kayu Jati Perpustakaan Ndalem | Waktu: Pukul 06.40 WIB
⚜
Kiyai Qomaruddin bangkit dari duduknya. Jubah luarnya yang berwarna gading terseret pelan di atas permadani Kashan. Beliau melangkah ke sebuah laci jati berukir kaligrafi ayat kursi, lalu mengeluarkan sebuah amplop tebal bersampul kertas cokelat manila yang terkunci segel lilin merah darah. Di atas amplop itu, tertera sebuah tiket penerbangan kelas ekonomi tujuan Bandar Udara Tjilik Riwut, Palangka Raya, bersambung carter helikopter logistik ke pedalaman Seruyan.
"Kau akan berangkat besok fajar, Bara. Tanpa pengawal. Tanpa surat rekomendasi komisaris yayasan. Dan yang paling penting: lepaskan arloji mewahmu, tanggalkan kartu namamu. Kau akan masuk ke kompleks pabrik itu sebagai staf inspeksi mekanik lapangan independen bernama Bara Prasetya. Kenakan pakaian bengkel yang bernoda jelaga. Rasakan bagaimana peluh para kuli bercampur dengan uap panas bejana perebus sawit."
Bara mengernyit. Logika pragmatisnya memberontak. "Mengapa harus menyamar, Bah? Jika yayasan adalah pemilik mayoritas saham istitsmar itu, aku memiliki hak hukum penuh untuk memanggil dewan direksi, memerintahkan audit forensik mekanik, dan membongkar screw press bermasalah dalam empat puluh delapan jam!"
Kiyai Qomaruddin menghentikan langkahnya. Ia menoleh perlahan, dan untuk pertama kalinya, Bara melihat seberkas kegelisahan yang menyayat di dasar pupil sang kiyai—sebuah ekspresi yang meruntuhkan topeng kewibawaan ulama besar yang selama ini Bara kagumi.
"Karena musuh yang merusak pabrik itu tidak memakai seragam perusak, Bara. Mereka tersenyum di meja rapat yayasan, membaca basmalah sebelum menandatangani laporan fiktif, dan mengutip ayat-ayat muamalah untuk melegitimasi pemerasan keringat kaum papa," bisik sang kiyai, suaranya bergetar menahan amarah yang telah ia kubur berbulan-bulan. "Dan di sana... kau tidak akan sendirian. Ada adik sepupumu, Camilla. Dia sudah mendahuluimu lima bulan lalu di barak buruh hulu sungai."
Deg.
Nama itu menghantam dada Bara bagaikan pukulan palu hidrolik berkekuatan ratusan bar. Seluruh persendian Bara mendadak kaku. Camilla Samairah. Seketika, dinding perpustakaan ndalem ini melebur ke dalam lorong waktu sepuluh tahun yang silam. Di sudut rak kitab tafsir Jalalain di samping jendela sana, terbayang kembali sosok gadis remaja berkulit gandum dengan kerudung putih katun sederhana. Gadis yang selalu menyembunyikan senyumnya di balik buku catatan bersampul kain perca ketika Bara melintas; gadis yang dulu memandang Bara dengan tatapan penuh binar kagum saat Bara merakit miniatur kincir air dari kayu sisa bangunan pesantren.