Cinta di Ufuk Khatulistiwa

Amrullah Ibrahim
Chapter #3

di Atas Selat Karimata

“Dari atas sini, batas-batas ego manusia lenyap ditelan samudra rimba. Yang tersisa hanyalah amanah yang harus ditunaikan.” — Refleksi Batin Bara Kembara di Ketinggian 9.500 Kaki Selat Karimata

❖ ── ✦ ── ❖


Bagian I: Melipat Catatan Istanbul

Kabin ATR-72 di Atas Laut Jawa dan Selat Karimata (Ketinggian 9.500 kaki | Udara tipis berkabut di atas Selat Karimata)

⚜

Dengung monoton dari sepasang baling-baling Pratt & Whitney PW127M merambat melalui dinding tipis kabin ATR-72, menggetarkan ujung-ujung jemari Bara Kembara hingga ke sumsum tulang. Di pangkuannya, sebuah buku catatan bersampul kulit kambing cokelat tua—oleh-oleh musim gugur terakhir dari kawasan Sahaflar Carsisi di balik bayang-bayang pilar Masjid Beyazit, Istanbul—terbuka pada halaman empat puluh delapan. Di atas lembaran kertas bergaris kekuningan itu, coretan tinta hitam memuat diagram siklus Rankine regeneratif bersanding dengan persamaan diferensial neraca massa entalpi uap. Setiap garis kurva dan simbol integral itu dahulu ia goreskan dengan keyakinan absolut bahwa alam semesta dan mesin-mesin industri tunduk pada kepastian hukum fisika yang adil dan dapat diprediksi.

Bara menghela napas panjang, sebuah tarikan udara kering bercampur aroma khas kabin bertekanan rendah, karpet sintetis lembap, dan sisa bahan bakar avtur yang terbakar tak sempurna di balik knalpot turboprop. Di luar jendela akrilik yang tergores halus oleh debu es stratosfer, perairan Selat Karimata terbentang luas tanpa cela seperti lelehan pualam kelabu keperakan. Jauh di batas cakrawala timur laut, garis pesisir Kalimantan mulai menampakkan siluetnya: sebuah sabuk zamrud gelap tak bertepi yang tampak begitu angkuh, menelan pantulan cahaya matahari pagi dalam pekatnya kanopi hutan hujan tropis tertua di muka bumi.

"Enam puluh ton tandan buah segar per jam," gumam Bara lirih, bibirnya bergetar nyaris tanpa suara. Suara desisnya langsung ditelan oleh raungan mesin baling-baling. "Dan ketel uap biomasa bertekanan empat puluh lima bar... mengapa mereka memaksakan tekanan setinggi itu pada instalasi pedalaman yang terisolasi ratusan mil dari pasokan suku cadang resmi?"

Pikirannya melayang mundur, melintasi jarak tujuh ribu kilometer menuju tepian Selat Bosphorus yang berangin dingin menusuk tulang. Dua bulan lalu, ia masih berdiri di dermaga kayu Eminonu saat azan Asar berkumandang dari menara-menara Yeni Cami, memandangi camar-camar putih yang menukik menyambar remah roti di dekat perahu penjual balik ekmek. Di sana, Profesor Demirci—ahli termodinamika terkemuka di Istanbul Technical University yang membimbing tesisnya—telah menepuk pundaknya dengan tatapan penuh kebanggaan akademis yang sarat peringatan filosofis. 'Ilmu termodinamika dan mekanika fluida yang kau kuasai ini, Bara, bukan sekadar ornamen gelar di atas selembar ijazah bertinta emas. Di tanah airmu, energi adalah darah yang menghidupkan jutaan nasib. Namun camkan baik-baik: kalor dan tekanan yang tak dikendalikan oleh etika dan nurani hanya akan melahirkan neraka mekanis yang memangsa penciptanya sendiri.'

Kini, lembaran catatan kalkulus efisiensi termal itu terasa asing di tangannya, seolah berasal dari peradaban lain yang terlalu suci untuk kenyataan rimba tropis. Teks teknis yang ia susun dengan presisi matematis Eropa mendadak terasa begitu ringkih saat dihadapkan pada berkas laporan berstempel 'RAHASIA INTERNAL KONSORSIUM' yang terselip di balik saku jaket kanvasnya. Laporan itu dikirim langsung oleh kurir khusus Pak Arga ke kamar indekosnya di kawasan Tebet, Jakarta, tiga hari sebelum keberangkatan: lonjakan oil losses pada stasiun janjang kosong (Empty Fruit Bunch) yang mencapai angka tak masuk akal—2,8 persen dari total berat olahan pabrik.

Bagi seorang insinyur proses yang waras, angka 2,8 persen itu adalah anomali yang menjeritkan bahaya besar. Secara teori termodinamika ekstraksi dan neraca bahan, kehilangan minyak setinggi itu seharusnya mengubah seluruh area penumpukan limbah padat menjadi kubangan bubur minyak mendidih yang rentan mengalami pembakaran spontan di bawah terik matahari khatulistiwa. Namun catatan log harian yang ditandatangani manajemen lapangan menyatakan semuanya 'normal, stabil, dan terkendali dalam batas toleransi musiman'.

Sebuah kebohongan mekanis yang telanjang dan memuakkan. Atau lebih mengerikan lagi: sebuah rekayasa neraca massa yang terorganisasi rapi untuk melegalkan pengalihan ratusan metrik ton minyak sawit mentah (CPO) setiap bulannya ke luar jalur resmi pembukuan korporasi.

Pesawat mendadak terguncang keras saat menembus gumpalan awan kumulonimbus yang menggantung rendah di atas perairan Ketapang. Bara refleks mencengkeram sandaran lengan kursinya hingga buku-buku jemarinya memutih. Rasa mual yang mendesak dari ulu hati bukan semata akibat turbulensi udara khatulistiwa yang menghantam sayap ATR-72, melainkan badai psikologis yang telah menggeliat di dalam dadanya sejak ia menandatangani surat penugasan sebagai Kepala Seksi Efisiensi Proses di Pabrik Kelapa Sawit Rimba Khatulistiwa Tiga.

Ia menatap cincin perak berukir kaligrafi kufik di jari kelingking kirinya—pemberian Asyifa sebelum gadis itu memilih tetap tinggal menyelesaikan riset biokimia organiknya di Uskudar. Memori malam perpisahan itu kembali menghunjam sanubarinya. 'Jika kau pulang untuk mengabdi pada kebenaran dan mengangkat martabat kaum yang tertindas, Bara, melangkahlah tanpa keraguan sedikit pun,' bisik Asyifa di bawah temaram lampu kubah Suleymaniye malam itu, air matanya tertahan oleh ketegaran seorang wanita terpelajar. 'Tetapi jika kepulanganmu hanya untuk membayar utang budi pada mereka yang membiayaimu dengan air mata dan darah orang lain, kau sedang mempercepat kehancuran nuranimu sendiri.'

Kata-kata itu berdentang seperti palu godam di dalam rongga dada Bara, beradu dengan rasa bersalah yang telah bertahun-tahun ia pendam. Apakah Pak Arga—pria terpandang yang membiayai seluruh biaya hidup dan kuliahnya di Istanbul sejak sang ayah meninggal secara mendadak di areal perkebunan dua belas tahun silam—mengirimnya ke pedalaman Kalimantan ini sebagai bentuk kepercayaan tulus? Ataukah Bara sengaja diposisikan sebagai pion muda yang naif untuk melegitimasi pembukuan curang dan menutup mulut kementerian dengan prestise ijazah teknik luar negeri?

Bara memejamkan mata, membiarkan dahinya menyentuh dinding kabin yang dingin bergetar. Dalam keremangan batinnya, ia berbisik melafalkan ayat-ayat perlindungan, memohon keteguhan iman dan kejernihan nurani. Dari ketinggian sembilan ribu kaki ini, memandangi bentangan laut yang menyerahkan diri pada belantara tanpa batas, ia merasakan betapa kerdilnya manusia. Semua gelar kesarjanaan, ambisi karier, dan kebanggaan intelektual lebur menjadi debu tak berharga di hadapan keluasan samudra ciptaan Allah. Namun dari kesadaran akan kekerdilan itulah lahir rasa tanggung jawab yang murni: bahwa hidup bukan tentang seberapa tinggi derajat yang digapai, melainkan tentang seberapa teguh amanah ditunaikan di saat badai fitnah menghadang.


Lihat selengkapnya