“Assalamu’alaikum, Mas Bara... Selamat datang di tanah Borneo. Ibu dan Umi menitipkan salam doa, semoga Mas betah di perkebunan ini.” — Getar pertama yang membuyarkan kepalsuan duniawi Bara dan membuka rahasia tanah seberang.
❖ ── ✦ ── ❖
Bagian 01 : Bayang-Bayang di Atas Air Keruh
Derap Mesin Diesel dan Siluet di Bawah Payung Ulin. Dermaga Kayu Ulin, Tepi Sungai Kahayan | 14:15 WIB
⚜
Deru mesin diesel Toyota Hilux dobel kabin itu akhirnya mereda, meninggalkan dengungan kasar yang tertinggal di gendang telinga Bara Kembara. Ketika pintu mobil berdecit terbuka, hawa lembap khas khatulistiwa langsung menyergap pori-pori kulitnya tanpa ampun—campuran pekat antara uap air gambut yang asam, lumut basah yang menempel pada gelondongan kayu terapung, dan aroma tajam solar tumpah yang berbaur dengan getah damar purba. Udara Borneo tidak pernah meminta izin untuk mendominasi siapa pun.
Bara menarik napas panjang, membiarkan dadanya terisi oleh beratnya atmosfer rimba yang telah delapan tahun lamanya ia tinggalkan. Sepatu bot kulitnya menjejak permukaan dermaga kayu ulin. Kayu besi Kalimantan itu menghitam dimakan usia dan ratusan pasang surut Sungai Kahayan yang liar, namun tetap bergeming kukuh, tak lapuk oleh kelembapan abadi. Di bawah pijakannya, arus sungai yang kecokelatan bergolak lambat namun perkasa, menyerupai naga lumpur raksasa yang menelan segala rahasia tanah pedalaman tanpa pernah memuntahkannya kembali.
“Kita sudah sampai di dermaga penyeberangan Afdeling Tiga, Den Bara,” suara serak Pak Rusdi memecah lamunan pemuda itu. Pria paruh baya bertopi pet kanvas itu turun tergesa, lalu mematikan rokok kreteknya pada tiang pancang ulin dengan gerakan gelisah. Matanya yang merah tidak menatap Bara, melainkan menyapu sekeliling dermaga dengan kewaspadaan ganjil yang tak wajar bagi seorang penjemput resmi.
Bara mengangguk samar, membetulkan letak tas ransel kanvas di pundaknya. Namun, sebelum ia sempat melangkah lebih jauh menuju bibir titian, pandangan matanya tanpa sengaja tertambat pada sebuah pemandangan di bawah kanopi payung kayu ulin di ujung dermaga. Di sanalah, seluruh keangkuhan logika metropolitan yang selama ini ia agung-agungkan di benua seberang runtuh seketika bagai tebing pasir diterjang banjir bandang.
Seorang gadis muslimah berdiri di sana. Tubuhnya dibalut gamis katun polos berwarna mocca hangat yang menjuntai rapi tanpa kerutan berlebihan, berpadu serasi dengan jilbab syar'i berwarna sage green yang menjulur anggun menutup dada. Tiupan angin lembap dari arah sungai memainkan ujung kain jilbabnya perlahan, menciptakan riak-riak lembut yang memantulkan semburat keemasan sinar matahari petang yang mulai condong ke ufuk barat.
Gadis itu sedang membungkuk di samping tumpukan kardus obat berlabel silang merah, membagikan botol-botol cairan antiseptik kepada tiga orang ibu buruh perkebunan yang menggendong balita berwajah pucat. Saat jemari lentiknya menyerahkan sebotol obat tetes kepada seorang bocah, gadis itu menyunggingkan senyuman. Senyum itu tidak meledak-ledak, melainkan merekah dengan keteduhan yang sedemikian suci, begitu tulus hingga sanggup menyulap udara dermaga yang pengap menjadi beraroma seribu embun surga.
Detik itu juga, sebuah dentang keras menghantam rongga dada Bara. Jantungnya berdegup dengan ketukan ganjil yang belum pernah ia rasakan seumur hidup. Langkah kakinya terpaku di atas papan ulin. Pupil matanya melebar tak terkendali. Delapan tahun yang lalu, di benaknya, Camilla Samairah hanyalah seorang bocah perempuan bertubuh kurus dengan rambut berkepang dua yang acap kali berkejaran di pematang sawah di belakang surau pesantren Kudus. Bocah cengeng yang sering menyeka ingus di lengan bajunya saat kalah bermain gundu, lalu merajuk hingga Bara terpaksa membelikannya kembang gula kapas.
Namun sosok yang kini berdiri di hadapannya bukan lagi bayang-bayang masa silam. Di hadapannya berdiri seorang perempuan dewasa yang memancarkan wibawa kesalehan yang tak terbantahkan, kecantikan batiniah yang terlindung rapat dalam benteng adab dan rasa malu. Rasa hangat menjalar liar dari ulu hati Bara langsung ke pangkal lehernya, membakar kesadarannya hingga ia hampir saja lupa diri.
‘Astagfirullahal'adzim...’ jerit batin Bara tertahan. Bagai tersengat aliran listrik tegangan tinggi, pemuda itu memaksa lehernya menunduk dalam-dalam. Ghaddul bashar. Perintah suci itu bergaung keras di dinding nuraninya: tundukkan pandanganmu, wahai jiwa yang beriman. Bara memejamkan mata sesaat, menatap ujung sepatu botnya yang berlumur debu tanah merah, berusaha menertibkan gemuruh di dadanya yang berdentam seperti genderang perang suku Dayak di tengah belantara.
❖ ❖ ❖
Bagian 02 : Getar Salam yang Menembus Dada
Adab Pertemuan, Bau Karat Rahasia, dan Sorot Mata yang Berbisik. Bibir Dermaga Ulin | 14:30 WIB
⚜
Langkah kaki yang mendekat di atas papan ulin menghasilkan bunyi ketukan berirama pelan. Suara derit kayu itu seolah meniti saraf-saraf kesadaran Bara, membuatnya menahan napas. Wangi lembut tanaman nilam dan aroma sabun zaitun sederhana menyapu indra penciumannya, menyingkirkan aroma pekat belerang sungai dalam sekejap.
“Assalamu’alaikum warahmatullah, Mas Bara... Selamat datang di tanah Borneo. Ibu dan Umi menitipkan salam doa, semoga Mas betah dan diberkahi selama di perkebunan ini.”
Suara itu mengalun begitu tenang, berbobot rendah namun bergetar dengan kejernihan kristal yang menembus hingga ke rongga dada terdalam Bara. Pemuda itu mengangkat pandangannya sedikit—tidak langsung ke wajahnya, melainkan terhenti setinggi batas jilbab sage green yang menutupi bahu gadis itu. Camilla berdiri berjarak tiga langkah, menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada sebagai isyarat takzim yang menjaga batas suci kemahraman.
Tenggorokan Bara tercekat kering. Butuh beberapa detik baginya hanya untuk mengumpulkan kembali pecahan-pecahan konsentrasi yang berserakan. Seluruh kefasihan bahasanya saat memimpin sidang dewan teknokrat di ibu kota lenyap tak bersisa.
“Wa... wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh, Camilla,” sahut Bara, suaranya parau dan sedikit bergetar sebelum ia berhasil mendehem menetralkannya. “Alhamdulillah. Terima kasih banyak. Salam takzimku untuk Umi dan keluarga di barak induk. Aku... sungguh tidak menduga engkau yang akan menyambut di dermaga sekecil ini.”
Sepasang mata bulat bening berhias bulu mata lentik itu memandang Bara sejenak, sebelum kelopaknya dengan santun ikut merunduk ke arah tumpukan kardus di sisi mereka. Ada binar kelegaan yang teramat tipis di sudut bibir Camilla, namun ada pula bayang-bayang mendung kepedihan yang teramat tebal menggelayut di keningnya yang bersih.
“Tadinya Pak Rusdi hanya diminta menjemput Mas Bara sendirian dari pangkalan perahu,” ujar Camilla lirih, jemarinya yang terbungkus manset katun merapikan segel kardus bertuliskan huruf stensil tebal. “Tetapi saya mendesak ikut menyeberang. Barak buruh di Afdeling Tujuh sedang dilanda demam aneh sejak lima hari lalu. Tiga balita sudah kejang-kejang karena kekurangan cairan. Saya harus memastikan kardus-kardus antibiotik dan larutan elektrolit ini sampai sebelum matahari tenggelam.”