Sebuah Perjamuan di Ambang Senja dan Rahasia yang Menuntut Penebusan. "Diminum tehnya, Mas Bara. Hujan di pedalaman Kalimantan selalu datang tiba-tiba, tapi kehangatannya selalu terasa kalau kita pandai bersyukur."
❖ ── ✦ ── ❖
Bagian 01 : Melangkah ke Rumah Panggung Ulin
Latar: Beranda dan Tangga Wisma Afdeling 3 | Pukul 17.15 WIB | Sore hari menjelang Maghrib, mendung pekat menggelayut - Tokoh: Bara Kembara, Camilla Samairah, Bu Marti
⚜
Kabut petang merayap turun laksana selubung kain kafan raksasa, menelan punggung perbukitan kelapa sawit Afdeling Tiga ke dalam remang yang murung. Dari kejauhan, desau angin yang menghempas ribuan pelepah berduri terdengar mirip geraman binatang buas yang tertahan di balik pekatnya belantara Kalimantan Timur. Udara berbau tajam: perpaduan antara getah sawit yang masam, uap gambut basah yang menguap dari parit-parit drainase, serta aroma kayu ulin purba yang tersiram hujan lebat selama dua hari berturut-turut.
Bara Kembara menghentikan langkahnya tepat di undakan pertama tangga wisma. Napasnya memburu, mengembun tipis di udara dingin yang mulai menusuk tulang. Tas kanvas usang di pundaknya terasa seberat balok timah, basah kuyup oleh percikan lumpur merah dari jalan rintis afdeling yang baru saja ia taklukkan dengan berjalan kaki sejauh enam kilometer dari dermaga sungai. Sepatu bot kulitnya telah kehilangan warna aslinya, terbungkus kerak lempung lengket yang seolah hendak menahannya agar tidak pernah melangkah lebih jauh.
Di hadapannya, wisma tamu perkebunan itu menjulang dengan keagungan yang ganjil. Seluruh bangunannya didirikan di atas tiang-tiang kayu ulin gelondongan berdiameter nyaris satu meter—kayu besi hitam legam yang konon tak akan lapuk meski direndam seratus tahun dalam rawa. Atap sirapnya yang bersusun meruncing tampak berkilau keperakan di bawah sisa bias senja yang sekarat. Ada aura kekekalan yang dingin dari arsitektur rumah panggung itu; ia berdiri kukuh menantang hukum alam rimba tropis, seolah menertawakan fana dan ringkihnya manusia yang menumpang di bawah naungannya.
"Mas Bara... akhirnya sampai juga antum di puncak bukit ini," sebuah suara lembut memecah desing serangga malam yang mulai berdengung di semak belukar.
Bara mendongak. Di ambang beranda atas, berdiri seorang perempuan berbalut jilbab bergo panjang warna abu-abu asap. Tidak ada bedak tebal di wajahnya, tidak ada gelang emas bergemerincing seperti perempuan kota. Namun keteduhan paras Camilla Samairah—adik sepupu yang telah lima tahun menghilang dari silsilah keluarga besar di pesisir utara Jawa—menghantam dada Bara dengan kekuatan yang meremukkan. Matanya yang bening, dinaungi bulu mata lentik yang basah oleh tempias gerimis, memancarkan ketenangan yang teramat janggal bagi seseorang yang terdampar di pelosok konsorsium sawit ini.
"Naiklah, Nak Bara. Jangan biarkan angin petang merasuk ke dada yang lelah," timpal seorang wanita paruh baya bertubuh gempal yang muncul dari balik pintu krei bambu. Bu Marti, istri mandor Rusdi yang menjadi induk semang wisma itu, tersenyum ramah seraya menyeka tangannya pada celemek bermotif batik parang yang pudar. Namun Bara, dengan naluri seorang buronan yang terbiasa mencium ancaman dari arah angin, menangkap kilatan ganjil pada raut Bu Marti: sebuah binar belas kasihan yang tergesa-gesa dipalingkan, seolah wanita tua itu sedang memandang seorang pesakitan yang tak menyadari bahwa tali jerat telah dikalungkan ke lehernya.
"Terima kasih, Bu Marti. Maaf saya mengotori lantai beranda," gumam Bara seraya menanggalkan bot berlumpurnya di ambang tangga kayu. Kakinya yang hanya berbalut kaus kaki lembap menyentuh bilah-bilah ulin yang dingin dan licin, menghantarkan getaran aneh langsung ke ubun-ubunnya.
Camilla melangkah mundur dua tindak dengan sangat anggun, memastikan jarak syar'i di antara mereka tetap terjaga bahkan sebelum Bara melangkah masuk ke beranda tengah. "Paviliun sayap timur sudah disiapkan Bu Marti untuk Mas Bara istirahat. Kain sarung dan handuk kering ada di atas dipan. Sementara saya... saya tetap tinggal di paviliun barat bersama keluarga Pak Rusdi. Kita jaga adab, Mas, agar malaikat rahmat tidak enggan menaungi rumah ini."
Bara mengangguk kaku, menelan ludah yang mendadak terasa getir. Kata-kata Camilla begitu jernih, mengalir dengan ketundukan santun pada hukum-hukum langit yang dulu diajarkan almarhum Kiai Hasan di pesantren. Namun di balik kesantunan itu, Bara merasakan sebuah jurang tak kasatmata yang sengaja digali Camilla—jurang yang dingin, dalam, dan dipenuhi kabut misteri yang belum mampu ia selami.
❖ ❖ ❖
Bagian 02 : Cangkir Antik dan Percakapan Beranda
Latar: Ruang Tamu Terbuka Beranda Wisma Ulin | Pukul 17.35 WIB | Senja beranjak muram, rintik hujan menderas di atap sirap. Tokoh: Bara Kembara, Camilla Samairah
⚜
Setelah membasuh debu perjalanan dan berganti kemeja katun abu-abu yang kering, Bara kembali ke ruang tengah beranda. Ruangan itu didesain dengan konsep terbuka tanpa dinding kaca di sisi timur, membiarkan panorama lembah sawit yang membentang tak bertepi terpampang telanjang di hadapan mata. Di luar, hujan sore yang semula hanya gerimis halus kini mulai berubah menjadi rintik-rintik deras yang menghantam lembaran atap sirap ulin dengan bunyi berderak ritmis, mirip rentetan ketukan jemari gaib yang menuntut jawaban.
Di atas meja bundar dari lempengan kayu jati tua yang berurat pekat, telah tersaji sepoci keramik pudar bermotif krisan biru dan dua cangkir antik buatan Eropa dengan lis emas yang mulai terkelupas. Uap tipis mengepul dari bibir teko, membawa kepulan wangi yang seketika memenuhi rongga dada Bara: aroma harum serai segar yang baru digeprek, berbaur dengan legitnya uap rebusan gula aren asli rimba Dayak yang kental dan pekat.
Camilla duduk bersila di seberang meja di atas tikar purun anyaman tangan. Ia duduk dengan punggung tegak, kedua tangannya tertangkup di atas pangkuan gaun panjangnya yang bersahaja. Pintu menuju beranda luar sengaja dibiarkan terbuka selebar-lebarnya, memperlihatkan tempias hujan yang sesekali membasahi pagar kayu, sementara dari arah dapur belakang sayap barat, suara gemerincing wajan dan batuk kecil Bu Marti terdengar jelas—sebuah pagar adab yang kokoh agar tidak tercipta ruang khalwat di antara dua orang yang bukan mahram.
Dengan gerakan yang teramat lembut dan terkontrol, Camilla meraih gagang teko keramik. Tangannya yang putih pucat menuangkan cairan berwarna kuning keemasan itu ke dalam cangkir porselen di hadapan Bara, disusul potongan kecil gula aren padat yang diletakkan di atas piring tatakan kecil dari tanah liat.
"Diminum tehnya, Mas Bara," ucap Camilla pelan, suaranya terdengar merdu menembus derai air di atas atap. "Hujan di pedalaman Kalimantan selalu datang tiba-tiba, tapi kehangatannya selalu terasa kalau kita pandai bersyukur."
Kutipan itu menghujam jantung Bara. Sederhana, namun diucapkan dengan getar nada yang menyiratkan kedalaman luka yang terlampau purba untuk disuarakan. Bara menatap kepulan asap teh serai itu. Warna keemasannya memantulkan bayangan wajahnya sendiri yang tirus dan kuyu oleh pelarian panjang dari tanah Jawa.
"Bagaimana kabarmu sebenarnya di sini, Camilla?" Bara bertanya tanpa menyentuh cangkirnya terlebih dahulu. Suaranya serak, sarat dengan beban batin yang selama berbulan-bulan mencekik lehernya. "Tiga tahun kamu menghilang tanpa sepucuk surat pun ke Ndalem. Umi Salamah di Jawa... beliau sering menangis di sujud tahajudnya, mengira keponakan kesayangannya ini telah terkubur di bawah lumpur perkebunan kelapa sawit."