Cinta di Ufuk Khatulistiwa

Amrullah Ibrahim
Chapter #6

di Belantara Gambut

BAGIAN 01 : GEMERICIK AIR GAMBUT DAN SUCI YANG TERANCAM

Latar: Tempat Wudhu Pancuran Bambu & Titian Papan Ulin, Tepian Sungai Batang Gambut | 17.45 WIB

⚜

Senja di atas belantara gambut itu runtuh laksana tumpahan air tuba. Cakrawala barat tidak mempersembahkan semburat jingga keemasan yang meninabobokan, melainkan warna merah tembaga yang mengeruh, tercekik oleh kepulan asap tipis dari petak-petak pembakaran liar di pelosok konsesi kelapa sawit. Di bawah naungan pelepah-pelepah berduri yang merunduk kaku bagai mata tombak legion Romawi, udara berdenyut kental; aroma humus purba yang membusuk bercampur dengan bau asam belerang dan uap air payau yang mengapung dari permukaan sungai. Sungai itu sendiri—Sungai Batang Gambut yang berkelok bagai ular piton raksasa—mengalir dalam keheningan yang menakutkan, memantulkan warna hitam kecokelatan serupa seduhan teh pahit yang terlalu pekat.

Bara Kembara menapakkan kakinya di atas titian papan kayu ulin yang licin berlumut. Kayu besi Kalimantan itu telah menghitam dimakan usia, berderit parau setiap kali menopang bobot tubuhnya yang liat. Ia menggulung lengan kemeja katun kelabunya hingga ke atas siku, membiarkan angin senja yang dingin dan lembap menerpa kulit lengannya yang terbakar matahari khatulistiwa. Di ujung titian, sebuah pancuran bambu tua mengalirkan air sungai yang disaring sekadarnya melalui ijuk dan pasir silika. Dinginnya air itu menusuk tulang ketika Bara menangkupkan kedua telapak tangannya.

“Bismillah…” bisik Bara lirih. Getar suaranya tertelan desau pelepah sawit.

Air gambut yang cokelat tua itu membasuh wajahnya. Dingin, getir, dan menyisakan sedikit aroma tanin daun-daun bakau yang terkubur ratusan tahun di kedalaman tanah basah. Setiap tetes yang mengalir di pelipis dan jenggot tipisnya terasa seperti sabetan cemeti yang mencambuk kesadarannya. Mengapa ia ada di sini? Di sebuah tepian dunia yang dilupakan Tuhan dan diperebutkan manusia-manusia rakus, ratusan mil dari kubah-kubah marmer pesantren ayahnya di pesisir utara Jawa?

“Air sungai kita memang pekat, Mas Bara. Tapi ia jujur,” suara serak itu memecah lamunannya. Pak Rusdi melangkah mendekat dengan langkah hati-hati. Mandor sepuh itu menyampirkan handuk dekil di lehernya. Wajahnya yang legam dipahat oleh guratan-guratan keriput yang dalam, seolah setiap garis di dahinya adalah catatan hutang upah yang tak pernah lunas dari kantor konsorsium. “Ia tidak menyembunyikan lumpurnya. Beda dengan orang-orang kota yang datang berjas necis, mulutnya semanis madu lebah madu sialang, tapi di dalam dadanya mengalir racun tuba pembantai hutan.”

Bara tersenyum pahit sembari menyela-nyela jemari kakinya dengan air wudhu. “Tidak semua orang kota datang untuk meracuni, Pak Rusdi.”

“Mungkin,” sahut Rusdi datar, seraya memutar kran bambu di samping Bara. Air mengalir membasahi lengannya yang kurus namun liat seperti akar jelutung. “Tapi sampai hari ini, belum ada orang berdasi yang datang membawa berkah kemari. Mereka datang membawa ekskavator, menenggelamkan kuburan leluhur kami, lalu memberi kami surat perjanjian bermeterai yang tak bisa kami eja artinya. Katanya besok surat penggusuran kanal baru akan diteken direksi. Musholla As-Salam ini… kabarnya kena pancang garis merah.”

Kata-kata itu menyengat ulu hati Bara. Pancang garis merah. Istilah birokrasi korporat yang dingin untuk menamai kepunahan. Jantung Bara berdegup kencang. Ia tahu betul perusahaan apa yang menguasai konsesi ini: PT Swarna Gambut Raya. Dan ia tahu betul siapa pemilik saham terbesarnya—pamannya sendiri, Hamzah Samairah, dan yayasan keluarga Kembara yang dipimpin oleh ayah kandungnya, Kyai Mukhtar Kembara.

Ingatan Bara melesat mundur ke malam terkutuk enam bulan lalu di serambi ndalem pesantren. Bau kayu cendana yang mahal, karpet Persia setebal ibu jari, dan bantalan sofa beludru. Di sana ayahnya duduk berhadapan dengan komisaris bank, tersenyum tenang sembari meneken akad hibah dan penyertaan modal atas nama ‘dakwah peradaban’. Ketika Bara memprotes bahwa modal itu berasal dari perampasan tanah ulayat dan pemerasan buruh gambut, sang ayah hanya menatapnya dingin: “Agama butuh kekuasaan dan biaya untuk membangun menara, Bara. Jangan bersikap seperti darwis dungu yang hanya bisa berdoa di atas sajadah robek!” Malam itu juga, Bara menanggalkan jubah kemuliaannya, menyandang tas ransel usang, dan menaiki kapal barang menuju tanah seberang. Sebuah pelarian moral yang kini justru mempertemukannya kembali dengan monster yang sama di pedalaman ini.

“Mari, Mas. Bedug sudah dipukul anak-anak,” ajak Pak Rusdi, menyentuh lembut pundak Bara. “Buruh-buruh sudah berkumpul di dalam. Mereka letih setelah dua belas jam memikul tandan buah segar di rawa. Tapi kalau mendengar adzan, lutut mereka yang gemetar dipaksa berdiri lagi. Mereka butuh pegangan, Mas Bara. Sebelum malam menelan kami semua.”


❖ ❖ ❖


BAGIAN 02 : IMAM MUDA DI BALIK MIHRAB KAYU ULIN

Latar: Ruang Shalat Utama Musholla As-Salam | Waktu Maghrib 18.10 WIB

⚜

Musholla As-Salam berdiri di atas tonggak-tonggak kayu gelondongan yang ditancapkan ke dalam lumpur gambut. Bangunannya bersahaja: dindingnya terbuat dari bilah-bilah papan jelutung yang belum diserut licin, atapnya seng bekas yang mulai berkarat, dan lantainya beralaskan terpal plastik hijau yang dilapisi beberapa helai sajadah lusuh dengan jahitan benang yang terlepas di tepinya. Namun ruangan itu memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh masjid-masjid megah ber-AC di ibu kota: kehangatan aroma keringat manusia-manusia yang bersujud dengan ketelanjangan jiwa.

Tiga puluh buruh kebun telah bersaf-saf di sana. Baju-baju mereka compang-camping, bernoda getah sawit hitam pekat yang tak bisa hilang dicuci deterjen murahan. Ada aroma lumpur gambut, aroma tembakau lintingan rokok nipah, dan minyak angin yang menyeruak kuat. Di sudut depan, sebuah genset kecil berderu pelan di luar jendela, menyuplai daya untuk dua buah bohlam pijar lima watt yang bergoyang pelan tertiup angin rawa, menciptakan bayang-bayang panjang yang bergoyang murung di dinding papan.

Saat Bara melangkah masuk ke ruang utama, suasana mendadak hening. Pak Rusdi melangkah ke depan mikrofon tua yang diikat kawat ke kayu tiang tengah. Ia berbisik kepada seorang tetua buruh, lalu menoleh ke arah Bara dengan mata yang memancarkan permohonan tulus.

“Mas Bara,” bisik Pak Rusdi, suaranya sarat dengan penghormatan yang membuat Bara merasa kerdil. “Malam ini giliran antum yang maju. Anak pesantren, hafidz Quran… jangan biarkan kami yang buta huruf ini memimpin shalat sementara ada mata air di tengah dahaga kami. Imami kami, Mas.”

Bara tercekat. Tenggorokannya mendadak kering bagai gurang pasir. Memimpin shalat di hadapan orang-orang tertindas ini terasa seribu kali lebih berat daripada saat ia memimpin shalat sunnah di hadapan para syekh di Istanbul. Di sana, di bawah kubah biru dan kaligrafi emas Süleymaniye, ia dilindungi oleh kemegahan arsitektur dan sanjungan para peziarah. Di sini, di balik mihrab kayu yang lembap berbau lumut, ia berdiri telanjang di hadapan kepedihan nyata para hamba sahaya zaman modern. Setiap lembar daun sawit yang mereka petik telah memperkaya rekening keluarganya di Surabaya.

Dengan dada bergemuruh, Bara melangkah ke mihrab. Mihrab itu hanyalah ceruk kecil beratap seng miring, dihiasi selembar kaligrafi surah Al-Ikhlas yang ditulis tangan di atas karton manila kuning yang telah melengkung. Ia merapatkan kedua tumitnya, meluruskan saf dengan suara bergetar: “Istawuu… tarashuu… luruskan dan rapatkan saf kalian, semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya…”

Lihat selengkapnya