Cinta di Ufuk Khatulistiwa

Amrullah Ibrahim
Chapter #7

Gemuruh Ketel Uap

Mesin-mesin ini punya bahasa sendiri, Camilla. Ketika tekanannya pincang, yang menderita bukan cuma neraca keuntungan, tapi keselamatan buruh yang berdiri di dekatnya."

— Bara Kembara kepada Camilla Samairah

❖ ── ✦ ── ❖


Bagian 01 : Kabut Gambut dan Bau Sangit Asam Palmitat

Lokasi: Gerbang Loading Ramp & Timbangan Buah | Waktu: 07:30 WITA. Tokoh: Bara Kembara, Pak Rusdi, Camilla Samairah.

⚜

Cahaya matahari pagi di bumi Borneo tidak pernah menyapa dengan kelembutan. Pada pukul tujuh lewat tiga puluh menit, sang surya sudah serupa lempengan tembaga membara yang dipaksa menembus selimut kabut uap gambut yang pekat. Di atas pelataran Pabrik Kelapa Sawit Tirta Borneo Mandiri, bau itu menyergap indra penciuman tanpa ampun: perpaduan sengit antara asam palmitat dari tandan buah sawit yang mulai terfermentasi, sengatan jelaga cangkang terbakar dari cerobong setinggi empat puluh meter, serta amis karat basah yang menguap dari kisi-kisi besi lantai kerja.

Bara Kembara menarik napas dalam-dalam melalui hidungnya, membiarkan aroma berat itu memenuhi rongga dadanya sebelum mengembuskannya perlahan. Helm keselamatan putih bertuliskan stempel inspeksi teknis terasa dingin di keningnya. Kacamata polikarbonat antipantul bertengger kokoh melindungi matanya dari tempias serbuk arang. Di balik rompi oranye dengan garis reflektor fosfor yang menyala, jari-jari tangannya meraba saku dada—memastikan buku catatan bersampul kulit pudar milik almarhum ayahnya masih tersimpan di tempat paling aman, tepat di atas debar jantungnya yang berkejaran.

"Jangan terlalu tegang, Nak Bara," suara parau Pak Rusdi memecah desau angin pagi yang terselip di sela raungan mesin pembelah udara. Manajer pabrik berusia setengah baya itu mengusap lehernya yang berkeringat dengan handuk kecil bernoda minyak gemuk. "Pabrik ini sudah berdiri delapan belas tahun. Suara derit rantai konveyor dan desis uap bocor itu adalah lagu pengantar tidur kami. Kalau telingamu belum terbiasa, logam-logam ini memang terdengar seperti hendak meledak setiap lima menit sekali."

Bara menoleh, menatap senyum tipis Pak Rusdi yang tersamar di balik kumis lebatnya yang mulai memutih. Ada kelelahan menahun yang tercetak di sudut mata pria itu—kelelahan seorang penanggung jawab lapangan yang terjepit di antara target harian enam puluh ton per jam dari direksi di Balikpapan dan keausan mekanikal pabrik yang terus dipaksa beroperasi tanpa jeda pemeliharaan memadai.

"Bukan derit rantainya yang merisaukan saya, Pak Rusdi," sahut Bara santai namun dengan nada yang terukur tegas. Diksi anak muda itu tenang, terlatih dari disiplin sorogan kitab kuning di bilik pesantren sekaligus ratusan jam simulasi mekanika fluida di laboratorium kampus. "Tetapi interval dengung harmonik pada pipa header utama di stasiun ketel uap. Frekuensinya terlalu rendah untuk kapasitas suplai dua puluh dua bar. Ada kavitasi atau penyumbatan kondensat di salah satu jalur bypass."

Pak Rusdi tertegun sejenak. Alisnya yang tebal bertaut. Belum sempat ia menimpali, derap langkah sepatu bot karet berukuran sedang terdengar berirama di atas lantai beton bertulang.

"Dan Bara tidak pernah menduga-duga jika belum melihat manometernya sendiri, kan?"

Suara itu jernih, memotong kekasaran deru logam seperti tetesan embun yang jatuh di atas wajan panas. Bara tak perlu menoleh untuk mengetahui siapa pemilik suara itu, namun tatapannya secara naluriah tetap bergeser.

Camilla Samairah melangkah mendekat. Gadis itu mengenakan jilbab katun berwarna hijau zaitun yang dimasukkan rapi ke dalam kerah kemeja lapangan lengan panjang abu-abu. Rompi proyeknya berstempel divisi CSR dan Relasi Ketenagakerjaan. Meskipun debu fiber dan serpihan brondolan kering berhamburan di udara, ada semacam aura keheningan yang selalu dibawanya ke tengah hiruk-pikuk industri yang beringas ini. Di tangannya, Camilla membawa tas jinjing kanvas berisi puluhan paket masker respirator dan botol-botol suplemen elektrolit untuk para buruh sortir.

Bara menundukkan pandangannya sejenak—sebuah kebiasaan santri yang tak pernah pudar oleh gelar sarjana teknik mesin dari pulau seberang. "Pagi, Nona Camilla. Anda sudah berkeliling sejak subuh?"

"Para ibu di loading ramp sudah mulai menyortir sejak lori pertama tiba dari Divisi Tiga jam enam tadi, Bara," jawab Camilla seraya tersenyum lembut. Tatapannya beralih pada tumpukan Janjang Berduri—Tandan Buah Segar yang bertumpuk menyerupai bukit-bukit berduri gelap di pelataran stasiun penerimaan. "Jika saya menunggu matahari tinggi untuk membagikan masker dan air bersih, debu sawit ini sudah terlanjur mengendap di paru-paru mereka. Ayah saya mungkin memikirkan ekstraksi minyak sawit mentah per ton, tapi tugas saya memastikan mereka yang memilah buah ini pulang ke rumah dengan napas yang tetap lega."

Bara tertegun. Di balik senyum Camilla yang santun, tersimpan keteguhan prinsip yang jarang ia temukan pada anak-anak pemegang saham korporasi perkebunan. Gadis itu bukan sekadar pajangan filantropi perusahaan; ia hadir dengan lutut yang rela berdebu dan telapak tangan yang tak enggan menyentuh luka lecet buruh akibat duri tajam janjang sawit.


❖ ❖ ❖


Bagian 02 : Janjang Berduri dan Peluh di Bawah Matahari

Lokasi: Stasiun Loading Ramp & Penyortiran Buah | Waktu: 07:55 WITA. Tokoh: Camilla Samairah, Bara Kembara, Mbok Darmi (Buruh Sortir)

⚜

Mereka melangkah menaiki titian baja stasiun penerimaan buah (loading ramp). Bau asam manis tajam menguar semakin pekat dari lantai miring berpelat baja tempat truk-truk jungkit menumpahkan muatan tandan buah segar seberat ratusan ton. Ratusan janjang berduri teronggok dalam susunan raksasa—serupa binatang purba berduri tembaga yang menunggu dieksekusi.

Di bawah terik yang kian membakar atap seng bergelombang, belasan buruh wanita paruh baya bertopi caping anyaman bergerak lincah. Tangan-tangan mereka yang berbalut sarung tangan kain kumal memegang dodos dan gancu baja, memilah janjang matang bertangkai pendek dari buah mentah atau buah busuk berpenyakit. Butir-butir brondolan sawit yang gugur—berwarna merah jingga menyala berminyak—disapu ke corong lori dengan gerak ritmis yang tak kenal jeda.

"Mbok Darmi," sapa Camilla lembut seraya berlutut setengah jongkok di samping seorang wanita tua yang punggungnya basah kuyup oleh peluh. Camilla mengulurkan masker kain berlapis tiga yang higienis serta botol vitamin larut air. "Tolong pakai masker yang baru, Mbok. Yang lama sudah menghitam terkena debu tandan busuk."

Wanita tua itu menengadah. Garis-garis keriput di wajahnya yang legam terpahat oleh puluhan tahun sengatan matahari pesisir Kalimantan. Matanya yang sayu seketika berbinar saat menatap wajah Camilla. "Gusti berkahi njenengan, Nona Mil. Kalau bukan Nona yang rajin kemari membawakan penawar batuk dan masker, kami cuma bisa menyumpal hidung dengan sobekan daster bekas."

Camilla meremas pelan pundak Mbok Darmi yang keras berotot. "Jangan memaksakan mengangkat janjang di atas tiga puluh kilo sendiri, Mbok. Gunakan tuas pengungkit bersama kawan yang lain. Pinggang Mbok belum sembuh dari cedera minggu lalu."

Dari jarak dua langkah di belakangnya, Bara mengamati interaksi itu dengan dada yang bergetar aneh. Di dunia teknik yang digelutinya, manusia kerap direduksi menjadi angka efisiensi: man-hours, output tenaga per jam, atau variabel biaya operasional. Namun di sini, di hadapan Camilla, para buruh kasar yang kerap tak kasatmata bagi para petinggi di kantor pusat kembali menemukan martabat kemanusiaan mereka.

Bara memalingkan pandangannya ke arah jajaran hopper pintu hidrolik loading ramp. Matanya yang jeli menangkap sesuatu yang tidak beres pada susunan tandan buah yang sedang digelontorkan ke dalam lori transfer.

"Pak Rusdi," panggil Bara, menunjuk ke arah tumpukan buah di kompartemen empat. "Kenapa buah dengan fraksi nol—buah mentah yang masih hitam pekat tanpa ada brondolan lepas—ikut dimasukkan ke dalam lori rebusan? Itu bukan cuma menurunkan rendemen minyak, tapi menuntut waktu sterilisasi lebih lama dan tekanan uap yang jauh lebih agresif."

Pak Rusdi menghela napas panjang, menoleh ke kiri dan ke kanan seolah dinding baja pabrik memiliki telinga. "Perintah dari kantor perwakilan, Nak. Target produksi bulan ini dinaikkan dua puluh persen. Truk dari kebun plasma terus berdatangan tanpa henti di pos timbang. Kalau kita sortir terlalu ketat, antrean truk di luar gerbang bisa mencapai dua kilometer sampai ke jalan provinsi. Para sopir bisa mengamuk, dan manajer kebun akan menyalahkan kita karena dianggap memperlambat arus tandan."

"Tetapi memasukkan buah mentah ke stasiun sterilisasi berarti memaksa boiler bekerja di luar kurva termal standarnya!" sergah Bara. Suaranya meninggi satu oktaf, mencerminkan ketegangan batin yang mulai bergolak. "Buah mentah memiliki perikarp yang keras liat. Untuk melunakkannya agar bisa dipipil di thresher, operator sterilizer pasti akan menaikkan tekanan uap jenuh melebihi batas tiga bar! Itu sangat berbahaya bagi bejana tekan yang usianya sudah belasan tahun!"

Lihat selengkapnya