Cinta di Ufuk Khatulistiwa

Amrullah Ibrahim
Chapter #8

di Balik Dapur Buruh

Bagian 01 : Gemuruh Pabrik dan Semerbak Dapur Buruh

Latar & Waktu: Dapur Komunal Afdeling Belakang, Perbatasan Blok 14 | Pukul 12.15 WIB — Pergantian Giliran Istirahat Siang*

⚜

Sirine uap cerobong pabrik melolong membelah udara siang lembap pekat. Lengkingan itu penanda kaku bagi seribu dua ratus buruh lepas untuk meletakkan dodos dan menyeka peluh bercampur debu gambut. Bagi Bara Kembara, lengkingan itu hanyalah penanda matematis antara waktu henti mesin dan throughput tandan buah per jam. Namun siang ini, di bawah bimbingan langkah Camilla Samairah yang tenang, denging pabrik menjelma latar kenyataan yang tak pernah sanggup dirangkum rumus regresi korporat mana pun.

Mereka melintasi jalan setapak bertanah merah di balik deretan afdeling belakang. Udara berbau asam fermentasi tandan busuk dan oli traktor, sebelum tercium aroma gurih mengejutkan: tumisan bawang putih, daun salam, dan kaldu kacang merah dari bangunan beratap seng.

"Selamat datang di jantung Afdeling Tujuh, Mas Bara," suara Camilla memecah kesenyapan. Bening dan tenang bagai riak telaga bukit kapur. Ia mengenakan gamis katun hijau lumut dengan jilbab syar'i senada yang menutupi dada. Tak ada riasan tebal di wajahnya; hanya kesegaran wudhu dan sepasang mata teduh yang sanggup melucuti arogansi Bara sejak hari pertama kedatangannya.

Bara melangkah hati-hati di atas titian meranti basah. Di depannya berdiri Dapur Komunal: tiga kawah wajan baja tempa di atas tungku bata merah berbahan bakar cangkang sawit. Empat orang ibu paruh baya—janda pemanen dan buruh pemilah—mengaduk sayur sop bergizi dengan centong kayu panjang. Tawa mereka renyah bersama letup kuah mendidih.

"Dapur ini menyediakan tujuh ratus porsi makanan berprotein untuk para buruh angkut dan anak balita mereka," ujar Camilla seraya menyodorkan mangkuk kecil kuah bening kepada Bara dengan jarak adab terjaga. "Sebelum dapur ini ada, anemia kronis dan malnutrisi anak di barak belakang mencapai empat puluh satu persen. Mandor hanya tahu target tonase, tetapi lupa bahwa otot pemikul gancu adalah milik manusia yang butuh asupan, bukan roda mesin yang cukup diminyaki oli."

Bara menerima mangkuk itu, merasakan kehangatan yang merembes ke jemarinya yang dingin. Di dalam map kulit hitam di ketiaknya, tersimpan draf restrukturisasi rahasia: 'Eliminasi Biaya Subsidi Pangan Buruh dan Fasilitas Informal demi Efisiensi Margin 4,8%'. Keputusan itu telah disetujui dewan komisaris; Bara diutus mengesahkan stempel verifikasinya.

"Apakah biaya ini seluruhnya dari pos CSR perusahaan, Camilla?" tanya Bara dingin, berusaha menegakkan tameng profesionalitasnya.

"Hanya tiga puluh persen dari sisa CSR yang sering terlambat cair, Mas," jawab Camilla seraya menatap Bara lurus tanpa gentar. "Sisanya adalah gotong royong sayur kebun mandiri ibu-ibu buruh, zakat mal staf lapangan, dan sedekah mereka yang paham bahwa keberkahan rezeki melampaui saldo tanpa jiwa. Sekarang, mari ikut saya ke balai sebelah. Ada yang lebih berharga daripada sepiring nasi yang ingin saya perlihatkan kepada Anda."


❖ ❖ ❖


Bagian 02 : Tawa Anak-Anak di Balai Kayu

Latar & Waktu: Balai Belajar Darurat Berdinding Bambu, Naungan Pohon Angsana | Pukul 12.45 WIB — Sesi Hafalan dan Tilawah Al-Qur'an

⚜

Balai belajar itu sejatinya bekas gudang perkakas yang dialihfungsikan swadaya. Dindingnya dari anyaman gedek bambu lapuk, beralaskan papan meranti bekas bantalan lori yang diamplas halus. Di sudut ruangan tergantung papan tulis tripleks hitam dan meja pendek tempat anak-anak duduk bersila di atas tikar pandan.

Begitu Camilla melangkah ke ambang pintu tanpa daun kayu, suasana gaduh seketika pecah menjadi sorak bahagia. Dua puluh lima pasang mata jernih menoleh serempak. Anak-anak berusia lima hingga sebelas tahun berkaos lusuh dan bersarung pendek berebut menyambut guru mereka. Tak ada kepura-puraan; hanya kerinduan murni yang meluap dari jiwa-jiwa kecil.

"Assalamu'alaikum, Bu Guru Camilla!" seru mereka bersahutan laksana paduan suara burung rimba.

"Wa'alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh, permata-permata surga," jawab Camilla manis. Wajahnya berseri mengikis kelelahan di kelopak matanya. Ia bersimpuh di atas tikar pandan paling depan, merapikan ujung gamisnya dengan anggun, lalu mengisyaratkan Bara duduk di bangku kayu dekat tiang.

Bara terpaku. Kemeja katun mahal dan jam tangan mewahnya terasa amat janggal di antara kepolosan ini. Ia duduk di sudut, mengamati apa yang belum pernah ia saksikan seumur hidupnya.

Camilla memperlihatkan karton bertuliskan huruf-huruf hijaiyah beraneka warna lukisan tangannya sendiri. Pembelajarannya hidup, memadukan ketukan ritmis rebana kayu kecil dengan nada riang yang lekas dihafal anak-anak kebun.

"Jim... Ha... Kha... Dal... Dzal!" teriak seorang bocah laki-laki berusia tujuh tahun dengan gigi depan tanggal, mengangkat telunjuknya tinggi-tinggi. Bara mengenali bocah itu dari berkas: Farhan, putra bungsu almarhum Danu, mandor ukur yang tewas dalam kecelakaan kerja di rawa gambut tiga tahun silam.

"Masya Allah, pintar sekali Farhan!" puji Camilla seraya mengusap lembut kepala anak itu. "Ingat sabda Nabi ya, Nak. Siapa yang menuntut ilmu agama dan membaca satu huruf Kitabullah, baginya sepuluh kebaikan. Di kebun ini mungkin tak ada gedung megah, tapi dada kalian bisa menjadi istana yang diterangi cahaya Al-Qur'an."

Camilla memimpin mereka melantunkan hafalan surat An-Naba'. Suara jernih anak-anak membubung ke langit-langit balai, berbaur desau angin siang yang menggesek pelepah sawit di luar. Getaran tartil yang jujur itu menghantam dada Bara dengan guncangan tak terduga.

Lihat selengkapnya