"Di Istanbul, langitnya penuh kubah megah, Camilla. Tapi di sini, di bawah langit Borneo bersamamu... aku baru mengerti apa artinya ketenangan hati." — Bara Kembara kepada Camilla Samairah
❖ ── ✦ ── ❖
Bagian 01 : Uap Pisang Goreng dan Dingin Malam
*Dermaga Ulin Belakang Wisma | Latar: Dermaga Kayu Ulin Tua, Sungai Kahayan | Angin malam pekat berselimut kabut gambut tipis*
⚜
Malam merayap turun dari puncak-puncak kanopi meranti, memuntahkan kabut dingin yang perlahan menenggelamkan dermaga ulin di belakang wisma perkebunan. Di bawah sana, Sungai Kahayan mengalir pekat laksana jelaga cair—tenang di permukaan, namun menyimpan pusaran purba yang tak pernah memaafkan kekhilafan langkah manusia. Bara Kembara menarik napas panjang. Udara yang terhirup terasa tajam menusuk paru-paru: kombinasi aroma tanah gambut basah, getah damar liar, dan sengatan ozon yang menandakan uap rawa sedang memadat.
Di atas pangkuannya, sebuah laptop industri berselubung serat karbon masih menyala dengan pendar biru pucat. Layar itu menampilkan deretan kurva kalkulasi termal rekahan sumur nomor tujuh belas. Angka-angka desimal di kolom deviasi tekanan berkilat merah seperti peringatan bisu. Jari-jari Bara yang liat berhenti di atas papan ketik. Ada sesuatu yang ganjil, sesuatu yang sejak sore tadi memilin ulu hatinya dengan firasat buruk. Data kalor metana di bawah kubah gambut ini melonjak dua kali lipat melampaui toleransi aman, namun di server pusat anak perusahaan di Jakarta, grafik yang terbit justru datar dan menipu.
Derit langkah pelan di atas papan ulin tua membuyarkan lamunan ilmiahnya. Ulin itu berusia puluhan tahun, hitam mengilap karena terpaan hujan tropis dan lumut sungai, namun setiap langkah kaki di atasnya menghasilkan resonansi padat yang tak bisa berbohong. Bara menoleh cepat dengan refleks seorang pengawas lapangan.
Camilla berdiri di pangkal dermaga. Gadis itu mengenakan gamis katun tebal berwarna terakota gelap dipadu pasmina abu-abu yang disematkan rapi menutupi dada. Di tangannya bertengger piring porselen putih beralas daun pisang. Uap tipis mengepul dari tiga potong pisang goreng madu yang masih keemasan, menebarkan wangi karamel manis dan wijen sangrai yang seketika melumpuhkan bau pesing lumpur gambut.
"Belum tidur, Bara? Bu Marti menyuruhku mengantarkan ini sebelum kompor dimatikan," suara Camilla meluncur bening, nyaris teredam oleh desau dedaunan kelapa sawit di batas konsesi.
Bara segera menutup separuh layar laptopnya, menegakkan punggung dengan canggung. Rasa hangat mendadak merambati tengkuknya, sebuah reaksi jasmani yang kerap ia kutuk setiap kali berhadapan dengan gadis itu. "Terima kasih, Camilla. Seharusnya kamu tidak perlu repot-repot keluar. Angin malam Kahayan terkenal jahat bagi yang belum terbiasa."
Camilla tersenyum tipis. Lesung pipit samar di pipi kirinya muncul sekilas sebelum ia melangkah mendekat. Namun ia tidak mendekat sembarangan. Dengan keanggunan alami yang dipelajari dari adab keluarga santri terpelajar, Camilla meletakkan piring itu di atas bangku ulin yang melintang, persis berjarak dua meter dari tempat Bara duduk bersila. Jarak dua depa yang disengaja. Jarak yang membentang bukan karena kebencian, melainkan pagar kesucian—sebuah komitmen tak terucap antara dua insan yang saling menaruh takzim.
"Aku lahir di hilir sungai ini, Bara. Angin Kahayan tidak pernah memusuhiku," ujar Camilla seraya duduk bersimpuh di ujung dermaga yang berseberangan. Kedua lututnya terlipat anggun, pandangannya diarahkan ke permukaan air yang mulai menangkap serpihan pantulan bintang-bintang pertama yang menyembul dari sobekan awan. "Justru kamu yang terlihat sedang berperang dengan dirimu sendiri. Dari jendela dapur, aku melihat pendar layarmu tak padam sejak Isya tadi. Apa mesin-mesin turbin itu begitu rewel hingga membuat insinyur lulusan Bosphorus melupakan hak tubuhnya untuk beristirahat?"
Bara menghela napas, jemarinya menyentuh cangkir seng dingin di sampingnya. "Turbin hanyalah besi tempa, Camilla. Ia patuh pada hukum termodinamika. Yang rewel adalah manusia yang memanipulasi parameternya demi memotong biaya peredaman asam metana." Bara menatap pisang goreng madu di hadapannya. Madu hutan asli lebah dorsata yang berkilau mengundang selera. Namun di balik kehangatan camilan itu, Bara merasa ada jurang rahasia yang sedang memisahkan mereka berdua di dermaga sunyi ini.
"Kayu ulin ini," gumam Camilla pelan, jemarinya yang lentik mengusap permukaan dermaga yang dingin dan basah oleh embun pertama, "makin lama terendam di dalam air rawa, ia justru makin mengeras laksana besi tempa. Orang Dayak menyebutnya kayu besi karena ia menolak membusuk. Manusia mestinya begitu juga, bukan? Saat dihimpit arus kepentingan, kejujurannya harusnya membatu, bukan malah melunak dan larut menjadi lumpur."
Perkataan itu menghunjam tepat ke pusat kegelisahan Bara. Apakah Camilla mengetahui anomali sumur tujuh belas? Ataukah wanita ini hanya sedang berbicara tentang filosofi hutan? Bara menatap sisi wajah Camilla yang diterpa temaram lampu soliter wisma. Ada keteduhan di sana, namun di sudut matanya, tersimpan kegetiran purba yang enggan tumpah.
❖ ❖ ❖
Adegan 02 : Kisah Istanbul dan Kerinduan Jiwa
Tepian Sungai Kahayan Berlatar Siluet Hutan | Latar: Tepian Dermaga Ulin | Latar desiran rimba belantara dan hamparan langit Bima Sakti