Cinta di Ufuk Khatulistiwa

Amrullah Ibrahim
Chapter #11

di Balik Lembaran Wakaf

"Mas Bara, bahu Mas basah kuyup... jangan dimiringkan ke saya terus payungnya. Tidak apa-apa, Camilla. Gamismu lebih patut dijaga dari lumpur dan dingin daripada kemeja saya."

❖ ── ✦ ── ❖


Bagian 01 : Roda Terbenam Lumpur Gambut

Jalan Poros Afdeling 14 & Raungan Mesin yang Menyerah

⚜

Langit pedalaman Kalimantan tidak pernah memberi peringatan yang sopan. Kurang dari lima belas menit setelah azan zuhur mereda di kejauhan pos induk, gumpalan awan hitam pekat sewarna jelaga kuali mendadak menggulung cakrawala afdeling, menelan matahari sore tanpa ampun. Hujan tropis runtuh seketika—bukan berupa rintik santun, melainkan tirai air raksasa yang dihantamkan angin barat ke kanopi kelapa sawit dengan gemuruh yang menyerupai derap ribuan kaki kuda perang.

Kendaraan dobel kabin warna perak tua yang mereka tumpangi berguncang keras. Roda depan bertapak kasar tergelincir ke sisi kiri jalan poros Afdeling 14, tepat di titik di mana tanah liat merah berbaur dengan sisa gambut basah. Tanah itu seketika berubah menjadi bubur pekat licin yang menghisap baja seberat dua ton layaknya jebakan rawa tanpa dasar.

"Astagfirullah!" Camilla Samairah memekik tertahan. Jemari tangannya yang ramping mencengkeram erat pegangan pintu di atas jendela. Tubuhnya terlempar sedikit ke kanan, nyaris menyentuh lengan Bara Kembara yang duduk tegak di samping kemudi, sebelum ia buru-buru menarik kembali tubuhnya dengan rasa canggung yang menusuk.

Pak Rusdi menginjak pedal gas dalam kepanikan. Raungan mesin diesel empat silinder itu memekakkan telinga, melengking tinggi memecah deru badai. Namun roda belakang hanya berputar liar di tempat, menyemburkan gumpalan lumpur merah setinggi atap kabin dan mengikis tanah semakin dalam hingga rangka gardan terduduk kandas di atas gundukan liat.

"Matikan starternya, Pak Rusdi. Jangan dipaksa," suara Bara terdengar sangat tenang, membelah kepanikan kabin dengan nada bariton yang padat berwibawa. "Gardan belakang sudah duduk di kubangan tanah lempung. Makin digas, as rodanya bisa patah terpelintir."

Pak Rusdi memutar kunci kontak. Dengung mesin padam, menyisakan suara jutaan kubik air yang menghantam atap pelat mobil seperti berondongan peluru senapan angin. Kaca depan seketika buram total oleh lelehan lumpur dan air bah yang menggila.

"Ampun, Mas Bara... Bu Camilla," Pak Rusdi menoleh ke belakang dengan wajah pias, peluh dinginnya berbaur dengan uap pendingin udara kabin yang melemah. "Jalan poros empat belas ini memang rawan amblas kalau parit blok meluap. Kalau tidak ditarik traktor roda empat dari basecamp afdeling tengah, mobil kita tidak akan bisa bergerak sampai besok pagi."

Bara menatap ke luar jendela yang buram. Jarak pandang tidak lebih dari tiga meter. Di sebelah kiri jalan, parit afdeling sudah meluap menenggelamkan pangkal pelepah sawit terendah. "Berapa lama jalan kaki ke basecamp pos satu, Pak Rusdi?"

"Sekitar dua kilometer lewat jalan tikus pematang, Mas. Saya kenal jalurnya meski buta hujan begini. Tapi kalau jalan kaki..."

"Biar saya yang menyusul, Pak Rusdi. Bapak tunggu di sini bersama Camilla," sahut Bara seraya tangannya bergerak membuka kunci pintu.

"Jangan, Mas Bara!" Pak Rusdi cepat menyela seraya mengangkat kedua tangannya. "Di pos alat itu semua operator traktor anak buah saya. Kalau Mas Bara yang datang, mereka malah keder dan sungkan. Biar saya yang lari ke sana meminjam traktor Massey Ferguson milik Divisi Dua. Tapi Mas Bara dan Bu Camilla tidak bisa diam di mobil ini. Posisi mobil miring tiga puluh derajat ke bibir parit buangan. Takutnya kalau tanggul gambut di bawah roda jebol terseret arus, mobil bisa terguling masuk rawa."

Bara memeriksa kemiringan mobil melalui spion luar yang basah. Analisis mandor tua itu benar. Tanah bahu jalan sedang terkikis oleh arus deras parit. Tinggal di dalam kabin yang miring adalah jebakan maut.

"Ada tempat berteduh terdekat?" tanya Bara tegas.

"Ada, Mas. Lima puluh meter di depan tikungan itu ada pos timbang buah afdeling. Gardu kayu atap seng. Sempit, tapi tanahnya di atas bukit batu padas kecil. Aman dari luapan air. Saya tinggalkan payung dinas di belakang jok Mas Bara. Segeralah mengungsi ke sana selagi saya menerobos ke pos traktor!"


❖ ❖ ❖


Bagian 02 : Naungan Payung Hitam & Seng Berdenting

Langkah Tercekat di Bawah Amukan Langit

⚜

Pak Rusdi menyambar jas hujan terpal kuningnya yang kaku dari bawah jok dan menerobos badai tanpa menunggu aba-aba kedua. Bayangannya seketika raib ditelan tirai air kelabu pekat, menyisakan debur lumpur yang terciprat ke kaca.

Di dalam kabin yang miring, keheningan mendadak terasa mencekik. Bara meraih sebuah payung berukuran ekstra besar bertangkai baja hitam legam dari celah belakang kursinya. Payung model golf manual yang kokoh, dengan kain nilon hitam tebal berpendar kusam. Begitu Bara meraihnya, jemarinya sempat terhenti sejenak di gagang kayu yang telah tergores waktu—sebuah sentuhan hening yang tak luput dari pengamatan mata Camilla.

Lihat selengkapnya