Cinta di Ufuk Khatulistiwa

Amrullah Ibrahim
Chapter #12

Sambal Terasi Kalimantan

"Bumbunya mengingatkanku pada masakan Bunda di ndalem. Ternyata tanganmu mewarisi kelembutan almarhumah Bibi Maryam, Camilla."

❖ ── ✦ ── ❖


Bagian 01 : Aroma Bumbu di Dapur Kayu Ulin

Dapur Wisma Afdeling 3 | Alunan Shalawat dan Petikan Paku Merah

⚜

Gemuruh hujan tropis yang mengguyur perkebunan sawit Afdeling Tiga sepanjang sore akhirnya meluruh, menyisakan desau angin dingin yang merayap di sela-sela dinding kayu ulin tua. Suara tetesan air dari talang atap seng masih berdetak teratur, menimpa drum penampungan di samping wisma dengan irama yang menenangkan. Di luar sana, jalanan tanah merah membubur pekat, sementara hutan belantara Kalimantan yang mengepung afdeling tampak hitam legam bermandikan kabut uap bumi.

Di dalam dapur wisma, kehangatan perlahan terbangun dari perapian dan kompor gas semawar. Nyala api biru keemasan menjilati dasar panci enamel tebal. Asap tipis membumbung, membawa kepulan aroma yang segera mengusir hawa dingin basah yang membekukan persendian. Camilla Samairah berdiri anggun di depan meja kerja ulin hitam yang guratan kayunya telah menghitam oleh usia dan minyak. Ia mengenakan gamis katun sederhana warna biru malam dengan celemek kain linen krem yang terikat rapi di pinggangnya. Jilbab instan berwarna hijau sage membingkai wajahnya yang bersih tanpa riasan, dengan anak-anak rambut yang terselip rapi tak bercela.

Tangannya yang lentik dan terampil sedang memilah pucuk-pucuk daun kelakai merah—tanaman paku liar khas rawa gambut Kalimantan yang baru saja dipetik Bu Marti sore tadi menjelang senja. Ujung daun yang melingkar mirip ekor bunglon itu dipatahkannya satu demi satu dengan bunyi renyah yang khas. Getah bening berlendir alami yang menempel di ujung jarinya sama sekali tak membuatnya risih.

"Nak Camilla ini tangannya luwes sekali," puji Bu Marti dengan aksen Jawa Timuran yang medok sembari menepuk-nepuk lesung batu di sudut meja. Wanita paruh baya pengurus wisma itu tersenyum hangat, menatap Camilla dengan binar mata penuh kasih seorang ibu. "Biasanya anak-anak muda dari kota kalau disuruh pegang kelakai suka geli sama lendirnya. Padahal paku merah ini obat manjur warisan leluhur Dayak dan Banjar. Buat orang yang kurang darah atau badannya lagi remuk kena flu, kuah kelakai ini ibarat jamu penyegar sukma."

Camilla menoleh lembut, bibirnya mengembang simpul. "Ibu saya dulu sering bercerita tentang tanah Borneo ini, Bu Marti. Almarhumah Bibi Maryam selalu berpesan, di mana pun kaki kita berpijak di bumi Allah, alam selalu menyediakan penawarnya. Tanaman kelakai ini kaya zat besi dan antioksidan. Kalau dipadukan dengan temu kunci geprek, bawang merah iris tipis, dan sedikit jagung manis pipil, rasanya akan sangat segar tanpa perlu penyedap kimiawi buatan."

"Dan bumbu ayam ungkepnya itu lho, Nak... aromanya sudah semerbak sampai ke beranda depan!" Bu Marti menggeleng-geleng kagum saat menghirup uap wajan di sebelah panci sayur. Di dalam wajan besi tempa itu, potongan ayam kampung muda sedang bergolak pelan di dalam rendaman bumbu kuning yang pekat: parutan lengkuas segar melimpah, kunyit tua bakar, ketumbar sangrai yang digerus halus bersama kemiri, batang serai memar, serta lembaran daun salam segar yang dipetik dari pekarangan wisma.

Camilla tersipu pelan. Tangannya terus bergerak mengaduk rebusan kuah dengan centong kayu kelapa. Namun jika diperhatikan lebih dekat, bibir gadis itu tidak pernah diam. Ada getaran tasbih yang mengalir tanpa henti: *"Bismillâhirrahmânirrahîm... Allâhumma shalli 'alâ Sayyidinâ Muhammadin thibbil qulûbi wa dawâ'ihâ, wa 'âfiyatil abdâni wa syifâ'ihâ..."* Shalawat penyembuh hati dan raga terucap lirih, nyaris menyatu dengan desis uap kaldu yang mendidih.

Bagi Camilla, memasak bukan sekadar meracik bahan mentah menjadi santapan lezat. Sejak belia di asrama dan ndalem pesantren, almarhumah ibunya mendidiknya bahwa dapur adalah mihrab kasih sayang seorang wanita. Makanan yang dimasak dalam keadaan berwudhu, dengan hati yang bersih dari prasangka, serta diiringi shalawat, akan bertransformasi menjadi butir-butir keberkahan dan obat penenang jiwa bagi siapa pun yang memakannya.

Malam ini, ada niat tulus yang bersemi di sudut hatinya. Sejak maghrib tadi, Bara Kembara pulang dari patroli kanal afdeling dalam kondisi mengenaskan. Pakaian lapangannya basah kuyup berlumpur, tubuhnya menggigil menahan dingin, dan bersin-bersin tiada henti akibat flu yang menyerangnya mendadak. Pria tangguh yang biasanya tak kenal lelah itu kini terbaring lemah di kamarnya setelah memaksakan diri mandi air hangat dan shalat Isya berjamaah dengan suara serak tertahan.

Camilla merasa berhutang budi yang amat besar. Dua hari lalu, saat jembatan darurat anak sungai di Afdeling Tiga nyaris runtuh tergerus banjir lumpur, Bara-lah yang menerjang derasnya air untuk menyeberangkannya dengan selamat, melindungi dokumen inventaris puskesmas pembantu tanpa mempedulikan keselamatannya sendiri. Dan malam ini, ketika melihat Bara terbaring menahan demam, Camilla merasa wajib mempersembahkan yang terbaik untuk memulihkan tenaga sang manajer lapangan.

"Nah sekarang, terasinya sudah matang dibakar, Nak Camilla," ujar Bu Marti seraya mengangsurkan capit seng berisi sebongkah terasi pedalaman Kalimantan yang telah membara harum di atas arang tempurung kelapa. Aroma terasi bakar itu begitu khas—gurih pekat, menyengat manis, dan beraroma asap alami yang membangkitkan selera makan siapa pun yang menciumnya.

Camilla menyambutnya dengan senyuman tulus. Ia meletakkan terasi berasap itu di atas cobek batu andesit hitam bersama segenggam cabai rawit Dayak yang merah menyala, dua siung bawang merah bakar, sedikit garam laut kasar, dan serutan gula merah aren kelapa. Dengan gerakan mantap namun anggun, ulekan batunya menari menggilas bumbu-bumbu itu hingga menghasilkan sambal terasi bakar yang bertekstur kasar namun lumat sempurna. Sebagai sentuhan pamungkas, ia membelah dua butir limau kuit—jeruk khas Kalimantan berkulit tebal berkerut—lalu memeras airnya yang harum asam menyengat langsung ke atas ulekan sambal.

Percikan minyak atsiri dari limau kuit berpadu dengan asap terasi bakar, menciptakan wangi menggoda yang begitu kaya rasa. "Alhamdulillah, bumbunya sudah menyatu dengan sempurna, Bu Marti. Mari kita sajikan di meja sebelum kuahnya mendingin."


Lihat selengkapnya