Cinta di Ufuk Khatulistiwa

Amrullah Ibrahim
Chapter #13

Menghadapi Kebocoran Pipa

Kutipan Dialog Emas:

"Jangan panik! Selama kita masih punya akal sehat dan bismillah di lisan, tidak ada pipa yang tidak bisa kita jinakkan. Saya yang bertanggung jawab penuh!" — Bara Kembara

❖ ── ✦ ── ❖


Bagian 01 : Raungan Sirene di Keheningan Malam

Lokasi: Halaman Luar Wisma Karyawan hingga Gerbang Pabrik | Waktu: Pukul 02.14 Dini Hari. Tokoh: Bara Kembara, Camilla Samairah

⚜

Pukul dua lewat empat belas menit dini hari, keheningan pedalaman Riau robek tanpa aba-aba.

Bukan oleh deru angin malam yang menyisir pucuk-pucuk kelapa sawit seluas puluhan ribu hektare, melainkan oleh raungan sirene darurat *Level-1*—suara melengking berulang dengan interval dua detik yang hanya dinyalakan saat bencana mekanis fatal mengancam nyawa pabrik. Udara dingin yang basah oleh sisa hujan lebat mendadak terasa pekat dan menyesakkan, seolah seluruh molekul oksigen di sekitar wisma karyawan terhisap ke arah cerobong uap.

Di dalam kamar nomor tujuh yang bersahaja, Bara Kembara tidak terbangun dengan keluhan mengantuk. Jiwa santri yang bertahun-tahun ditempa bangun sebelum sepertiga malam terakhir membuatnya langsung terlempar ke posisi duduk tegak dalam hitungan sepersekian detik. Jantungnya berdentum kencang, memompa adrenalin ke ujung-ujung jemari, namun sorot matanya jernih tanpa sisa kantuk. Di atas meja kayu lapuk di sudut kamar, Al-Qur'an terjemahan dan buku saku diagram hidrolik stasiun klarifikasi bergetar halus akibat resonansi sirene yang memantul dari dinding batako.

"Tiga nada pendek berturut-turut... itu bukan stasiun thresher ataupun genset," gumam Bara dengan suara serak yang tenang. Napasnya teratur. "Itu stasiun klarifikasi. Jalur distribusi uap dan CPO primer."

Tanpa menyalakan lampu kamar agar pupil matanya lekas beradaptasi dengan kegelapan, tangan Bara menyambar kemeja kerja drill warna biru laut yang tergantung di balik pintu, mengenakan rompi reflektor oranye, lalu melesakkan kedua kakinya ke dalam sepatu *safety* bertulang baja. Sebelum menyentuh gagang pintu, lisannya reflek melafalkan doa penyerahan diri: *"Bismillahi tawakkaltu 'alallah, la haula wala quwwata illa billah."* Di pesantren dulu, Kyai Ahmad selalu menancapkan satu ajaran tak tertulis di benaknya: bahaya tidak pernah mencari orang yang siap, tetapi orang yang bertawakal akan selalu menemukan ketenangan di tengah badai.

Pintu kamar dihempas terbuka. Koridor wisma staf berdinding papan semen langsung menyambutnya dengan angin dingin.

Dari arah sayap kanan wisma, pintu ruang kantor administrasi terbuka keras. Sesosok tubuh berkelebat keluar dengan napas memburu. Camilla Samairah.

Putri tunggal pemilik konsorsium PT Surya Sawita Perkasa itu tidak mengenakan pakaian sutra atau blazer formal seperti saat memimpin rapat anggaran mingguan. Ia hanya berbalut jaket parka kanvas tebal berwarna hijau zaitun di atas piyama katunnya, kerudung instan berwarna abu-abu gelap terpasang tergesa-gesa dengan helai rambut halus mencuat di pelipis. Di tangannya, ia mencengkeram tas medis darurat dan lampu senter taktis berkekuatan seribu lumen.

Wajah Camilla pucat pasi di bawah temaram lampu selasar. Namun di balik kepanikan yang membayang di bola mata cokelat terangnya, ada getaran lain yang lebih subtil—ketakutan yang tidak semata-mata ditujukan pada nilai kerugian mesin miliaran rupiah, melainkan pada sesosok pemuda yang kini berdiri hanya dua langkah di hadapannya.

"Bara!" seru Camilla, suaranya tercekat di tenggorokan. "Radio komunikasi sentral terputus. Operator stasiun klarifikasi melapor terjadi lonjakan tekanan mendadak sebelum sambungan mati. Jarum manometer melompat melampaui delapan bar!"

Bara menatap mata perempuan itu. Dalam sepersekian detik yang hening di antara lolongan sirene, ia menangkap kerapuhan Camilla yang selama ini terkunci rapat di balik dinding arogansi putri konglomerat Jakarta. Camilla dikirim ke pelosok tanah gambut ini oleh ayahnya bukan semata untuk magang eksekutif, melainkan sebagai bidak uji coba dalam perebutan kekuasaan internal korporasi. Bara tahu persis, jika pabrik ini meledak malam ini, bukan hanya karier Camilla yang tamat, melainkan harga diri dan masa depannya akan dikubur hidup-hidup oleh dewan komisaris.

"Tetap di wisma, Mbak Camilla. Siapkan posko medis di ruang logistik dan amankan jalur evakuasi menuju lapangan helipad," ujar Bara, suaranya rendah, tegas, dan meneduhkan laksana gemericik air wudhu di keheningan subuh.

"Tidak! Aku ikut ke pabrik!" tolak Camilla keras kepala, jemarinya meremas tali tas P3K hingga buku-buku jarinya memutih. "Pak Rusdi dan empat operator shift malam ada di bawah tanki sedimentasi. Kalau jalur uap utama pecah, uap sembilan puluh lima derajat Celsius akan memanggang mereka hidup-hidup dalam hitungan menit! Aku tidak bisa duduk diam di sini menunggu laporan kematian!"

Bara tidak mendebat. Waktu adalah darah yang terus menetes. Ia berbalik dan melesat menuruni anak tangga semen, membelah kabut malam yang meneteskan embun dingin ke kulit wajahnya. Di belakangnya, derap langkah sepatu bot Camilla menyusul tanpa ragu, menolak untuk ditinggalkan di belakang rasa takut.

❖ ❖ ❖


Bagian 02 : Komando di Bawah Semburan Minyak Panas

Lokasi: Stasiun Klarifikasi Lantai Dasar (Clarification & Centrifuge Station) | Waktu: Pukul 02.25 Dini Hari. Tokoh: Bara Kembara, Pak Rusdi, Camilla Samairah, Operator Pabrik

⚜

Pintu besi stasiun klarifikasi berderit keras ketika dihantam angin bertekanan dari dalam. Begitu daun pintu terkuak, hawa panas laksana mulut tungku neraka langsung menerpa wajah Bara dan Camilla.

Pemandangan di dalam ruangan seluas dua ratus meter persegi itu adalah mimpi buruk setiap insinyur pabrik kelapa sawit.

Uap putih pekat bergulung-gulung memenuhi langit-langit berkerangka baja, menelan sorot lampu sorot merkuri hingga hanya menyisakan pendar temaram kuning keemasan yang menakutkan. Di lantai dasar, lelehan cairan kental berwarna jingga kemerahan—minyak kelapa sawit mentah (*Crude Palm Oil*) bersuhu delapan puluh lima derajat Celsius—menggenang setinggi mata kaki, meluap dari sambungan *flange* pipa bypass delapan inci yang mengalami *seal rupture*. Bunyi desis uap bertekanan tinggi terdengar memekakkan telinga, bersahut-sahutan dengan bunyi ketukan hidrolik (*water hammer*) yang menghentak-hentak dinding pipa baja laksana godam raksasa yang dihantamkan dari dalam.

*Klakkk! Dhuuummm!*

Lihat selengkapnya