"Ya Allah, jika rasa yang bergetar di dadaku ini adalah fitrah yang Engkau ridhai, mudahkanlah jalannya. Namun jika ini hanya ujian nafsuku, cabutlah tanpa meninggalkan luka bagi Camilla."
— Bara Kembara ·
# Lembayung di Atas Kanopi Afdeling
## Bab 14: Sajadah Panjang di Sepertiga Malam Terakhir
*Munajat Sunyi Dua Jiwa di Ambang Rahasia Wisma Afdeling*
> "Ya Allah, jika rasa yang bergetar di dadaku ini adalah fitrah yang Engkau ridhai, mudahkanlah jalannya. Namun jika ini hanya ujian nafsuku, cabutlah tanpa meninggalkan luka bagi Camilla."
> — Bara Kembara (Sujud terakhir shalat Istikharah di keheningan Paviliun Timur, pukul 03.40 pagi.)
---
### Adegan 1: Rukuk dan Sujud di Kesunyian Paviliun Timur
Latar: Kamar Bara, Paviliun Timur Wisma Afdeling | Waktu: Pukul 03.30 WIB | Sudut Pandang: Bara Kembara
Air sumur tanah gambut yang mengucur dari keran kuningan itu terasa sedingin lelehan es yang menikam pori-pori kulit. Bara Kembara membasuh mukanya untuk kali ketiga, membiarkan butir-butir air membasahi cambang tipisnya yang kaku oleh jelaga minyak mentah. Di bawah temaram bohlam pijar tiga puluh watt yang bergoyang ditiup angin selasar, aroma minyak kelapa sawit hangus dan uap belerang masih tertinggal lekat di sela-sela kukunya. Beberapa jam silam, boiler bertekanan empat puluh bar di stasiun sterilisasi nyaris meratakan pabrik menjadi puing dan arang, seandainya ia terlambat memutar tuas pembuang darurat.
Namun bukan luka bakar derajat dua di lengan kanannya yang kini membuat dada pemuda itu berdegup tak keruan. Bukan pula rasa perih saat kain kasa berlumur salep perak bergesekan dengan kemeja katun lusuhnya. Rasa sakit yang sesungguhnya bersemayam di dalam rongga dadanya—sebuah ngilu yang sunyi, tajam, dan meremukkan kewarasan.
Bara melangkah ke sudut kamar tidur paviliun timur. Ruangan berketinggian empat meter warisan administratur kolonial Belanda itu terasa terlampau luas untuk kesepiannya sendiri. Lantai teraso abu-abu yang dingin menyambut telapak kakinya yang basah. Di atas lemari jati tua, jam dinding berbandul kuningan berdenting tiga kali dengan nada rendah yang menggema di langit-langit berkerangka kayu ulin. Pukul tiga lewat tiga puluh menit pagi.
Ia membentangkan selembar sajadah beludru hijau zamrud yang sudah pudar pinggirannya. Sajadah itu peninggalan almarhum Pak Surya—paman yang telah memungutnya dari gubuk reyot di pinggiran dermaga Belawan dua puluh tahun silam, menyekolahkannya hingga ke fakultas teknik mesin, dan menyerahkan kendali teknis perkebunan ribuan hektar ini kepadanya. 'Jaga Afdeling ini seperti kau menjaga kehormatan darahmu sendiri, Bara,' bisik suara mendiang pamannya yang kini kerap berdengung layaknya kutukan di telinganya.
Bara mengangkat kedua tangannya sejajar telinga. 'Allahu Akbar.'
Suara takbirnya tercekat di tenggorokan. Ketika ia membungkuk dalam rukuk, lalu menjatuhkan dahi, kedua telapak tangan, lutut, dan jemari kakinya ke permukaan beludru, pertahanannya runtuh seketika. Dalam posisi terendah seorang hamba di hadapan Sang Pencipta, wajah itu kembali melintas tanpa permisi: Camilla.
Bayangan itu menghantam memorinya dengan kekejaman yang nyata. Pukul sembilan malam tadi, ketika desis uap panas menyembur dari rekahan pipa transfer sterilizer, Camilla berdiri terpaku di anak tangga besi pabrik. Matanya yang bulat memancarkan ketakutan anak rusa di hadapan moncong senapan. Bara melompat tanpa berpikir, memeluk tubuh ramping sepupunya itu dan menggulingkannya ke lantai semen basah tepat sepersekian detik sebelum semburan uap bersuhu dua ratus derajat menghantam dinding tempat Camilla berdiri. Dalam pelukan singkat yang kacau di tengah deru alarm dan teriakan para mandor, aroma melati dari rambut Camilla merasuk ke indra penciuman Bara—begitu lembut, begitu mengoyak benteng moralitas yang telah ia bangun belasan tahun.
Sepupu. Darah mereka bersumber dari kakek yang sama. Garis nasab dan norma keluarga besar telah mematri dinding kaca tebal di antara mereka: saudara, pelindung, adik, kakak. Tak boleh lebih.
'Astaghfirullahal 'Adzim...' bisik Bara, dahinya menekan sajadah lebih dalam hingga serat beludrunya menusuk kulit kening. Air mata yang ia tahan di hadapan puluhan operator pabrik akhirnya merembes, membasahi kain hijau itu.
Jiwa Bara meronta dalam dialektika batin yang menyiksa. Mengapa getaran ini baru meledak justru ketika Camilla pulang membawa kabar burung tentang perjodohannya dengan Danu Pratama—putra konglomerat pemegang saham terbesar dari Jakarta? Apakah rasa ini lahir murni dari fitrah cinta seorang laki-laki, ataukah keangkuhan egonya yang menolak melihat Camilla dimiliki orang lain? Lebih mengerikan lagi, mungkinkah ini sekadar hawa nafsu laknat yang menyamar dalam selimut perlindungan persaudaraan?
Bara tak sanggup menjawabnya sendiri. Maka dalam sujud terakhir shalat Istikharah itu, dengan napas tersengal menahan getar di rusuknya, Bara menumpahkan munajatnya ke haribaan Ilahi:
'Ya Allah, jika rasa yang bergetar di dadaku ini adalah fitrah yang Engkau ridhai, mudahkanlah jalannya. Namun jika ini hanya ujian nafsuku, cabutlah tanpa meninggalkan luka bagi Camilla.'
Di luar jendela jalusi yang tertutup rapat, angin malam menggesek pelepah kelapa sawit, melahirkan desau menyerupai derai ombak di lautan sunyi. Bara tak beranjak dari sujudnya. Di bawah kegelapan malam Afdeling, ia tahu ada sesuatu yang jauh lebih gelap sedang mengintai: ulir baut katup nomor empat yang putus tadi malam memiliki bekas gergaji presisi. Sabotase itu ditujukan untuk membunuh, dan targetnya bukan hanya mesin pabrik, melainkan siapa pun yang berada di dekat tangga kontrol—tempat Camilla berdiri.
---
### Adegan 2: Air Mata Istikharah Camilla
*Latar: Kamar Camilla, Paviliun Barat Wisma Afdeling | Waktu: Pukul 03.45 WIB | Sudut Pandang: Camilla Samairah*
Lilin aromaterapi cendana di atas nakas telah menyusut hingga menyisakan kubangan lilin cair yang hampir menenggelamkan sumbunya. Bayangan jeruji jendela kamar paviliun barat terpantul miring di lantai kayu merbau, bergetar tipis seiring hembusan angin dingin yang menyusup dari ventilasi kawat kasa.
Camilla Samairah masih duduk bersimpuh di atas sajadah tenun sutra putih. Mukena katun jepang berenda halus membungkus tubuhnya yang ramping. Kedua tangannya menggenggam butir-butir tasbih kayu kokka peninggalan ayahnya. Setiap kali jemarinya menggeser sebutir biji tasbih, dadanya terasa berdenyut nyeri, seolah tasbih itu menghitung detak jantungnya yang kian rapuh.
Di hadapannya tergeletak selembar kertas telegram berkop kusam yang telah lusuh di sudut-sudutnya akibat terlampau sering diremas: 'SURAT UTANG JATUH TEMPO AKHIR BULAN. KONSORSIUM DANU PRATAMA SETUJU RESTRUKTURISASI DENGAN SYARAT PERNIKAHAN RESMI DILANGSUNGKAN DI JAKARTA. IBU TUNGGU DI MENTENG.'
Camilla memejamkan mata rapat-rapat. Air matanya meleleh tanpa suara, menuruni pipinya yang pucat dan jatuh membasahi pangkuan mukenanya. Dua tahun menyelesaikan magister manajemen bisnis di Melbourne tidak pernah mempersiapkannya untuk menghadapi realitas sekotor ini. Di mata keluarga besar di ibu kota, dirinya bukanlah putri kandung yang berduka atas wafatnya sang ayah, melainkan selembar sertifikat saham penjamin utang yang bisa digadaikan demi menjaga gengsi klan keluarga Samairah.
Tetapi bukan ketakutan pada pernikahan tanpa cinta itu yang paling meremukkan sanubarinya saat ini. Yang membuat Camilla gemetar di atas sajadahnya adalah kenyataan bahwa seluruh sel di dalam tubuhnya menolak Danu karena satu nama yang terlarang: Bara.
Bagaimana mungkin ia bisa membohongi Tuhannya di sepertiga malam terakhir ini? Setiap kali bibirnya merapal istighfar, yang terbayang di pelupuk matanya bukanlah dosa-dosanya di masa lalu, melainkan tatapan mata elang Bara Kembara saat pemuda itu menindih tubuhnya di lantai pabrik. Camilla masih ingat jelas aroma hangus kemeja Bara, getaran otot dada pria itu yang melindungi kepalanya dari pecahan besi katup, dan erangan tertahan ketika semburan uap mengenai kulit lengannya.
Bara tidak pernah mengeluh. Pria itu tidak pernah menuntut imbalan. Sejak mereka masih kanak-kanak berlari di antara parit-parit kebun sawit, Bara selalu menjadi perisai tak bersuara. Ketika anak-anak mandor mengolok-olok Camilla yang manja, Bara yang berdiri di depan dengan kepalan tinju berdarah. Ketika ayah Camilla jatuh sakit, Bara yang berjaga siang malam di depan bangsal rumah sakit. Dan ketika perkebunan ini sekarat dililit utang, Bara yang mengorbankan masa mudanya memeras keringat di balik mesin-mesin tua berkarat.
'Ya Rabbi...' bisik Camilla, suaranya pecah menjadi isakan tertahan di balik telapak tangannya. 'Apakah rasa ini sebuah aib? Mengapa Engkau tumbuhkan cinta yang begitu suci kepada laki-laki yang darahnya terlarang bagiku? Mengapa harus Bara?'
Camilla mengangkat wajahnya menatap langit-langit kamar yang temaram. Selama ini ia mengira status sepupu adalah tembok tak kasat mata yang akan selalu melindunginya dari godaan asmara. Namun semakin ia berusaha mengubur rasa itu di balik dalih persaudaraan, semakin kuat getaran itu menuntut pengakuan. Dalam shalat istikharahnya sepekan terakhir, tak pernah sekali pun wajah Danu muncul membawa ketenangan. Yang selalu hadir dalam mimpi dan keheningan zikirnya adalah sepasang mata Bara yang sunyi, penuh luka, namun memancarkan ketulusan yang tak bertepi.
Tiba-tiba pandangan Camilla tertuju pada laci meja kerja jati tua di sudut kamar—meja yang dulu menjadi tempat ayahnya mencatat pembukuan rahasia Afdeling. Tadi malam, saat mencari salinan asuransi pabrik pasca-insiden, kunci kuningan kecil di gantungan tasbih ayahnya tanpa sengaja membuka kompartemen rahasia di dasar laci.
Di sana, di balik tumpukan kuitansi tahun sembilan puluhan, tersimpan amplop cokelat bermaterai segel lilin merah. Isinya bukan sekadar laporan audit keuangan, melainkan dokumen notaris bertanggal lima belas Agustus sembilan puluh delapan—hari di mana kerusuhan melanda perkebunan dan ayah kandung Bara gugur melindungi keluarga Samairah. Surat wasiat itu menyimpan sebuah kebenaran yuridis yang selama dua puluh enam tahun dikubur rapat di bawah tanah gambut Afdeling.
Sebuah kebenaran yang sanggup meruntuhkan tembok status sepupu mereka dalam sekejap mata, namun sekaligus meledakkan perang terbuka dengan keluarga besar di Jakarta.
---