Cinta di Ufuk Khatulistiwa

Amrullah Ibrahim
Chapter #15

Kunjungan dr. Farhan yang Mengusik

# Bab 15: Kunjungan dr. Farhan dan Angin yang Mengusik

Novel: Ghirah di Bawah Langit Sawit

Latar: Klinik Sehat Perkebunan & Teras Kantor Afdeling Tiga | Selepas Shalat Dzuhur

“Mbak Camilla adalah sosok yang luar biasa, Mas Bara. Beruntung perkebunan ini memiliki beliau... dan beruntung kelak laki-laki yang menjadi suaminya.”

— dr. Farhan Syahreza


## 1. Senyum Ramah di Meja Konsultasi

(Teras Klinik Sehat Perkebunan | Panas Terik Selepas Dzuhur)


Matahari di atas Afdeling Tiga menggantung tegak lurus, menumpahkan panas yang menyengat bagai lelehan timah cair ke hamparan tiga ribu hektar kelapa sawit. Di kejauhan, cerobong pabrik kelapa sawit meraung rendah, memuntahkan kepulan asap kelabu pekat yang bercampur dengan uap minyak mentah dan aroma tanah gambut terpanggang. Udara bergetar oleh fatamorgana di atas jalan tanah merah yang pecah-pecah, mengirimkan debu kering setiap kali angin kemarau berhembus liar menggoyang pelepah-pelepah sawit yang kaku. Jarum jam baru saja bergeser lima belas menit melewati shalat Dzuhur, namun terik itu telah mengikis sisa-sisa kesejukan air wudhu dari pori-pori kulit siapa pun yang berani melangkah keluar dari naungan atap.


Di teras Klinik Sehat Perkebunan—sebuah bangunan semi-permanen berpapan kayu ulin bercat putih kusam dengan kanopi seng yang berderak menahan panas—sebuah percakapan mengalir dengan dinamika yang kontras dari kegerahan alam sekitarnya. dr. Farhan Syahreza duduk menyandarkan punggungnya pada kursi rotan tua. Kemeja katun abu-abu mudanya tergulung rapi hingga siku, memperlihatkan pergelangan tangan yang kokoh dan arloji kulit cokelat yang bersahaja. Di hadapannya, tertumpuk map karton manila tebal berisi rekapitulasi data pemeriksaan berkala buruh harian lepas dan pemanen sawit.

dr. Farhan Syahreza: “Kondisinya jauh lebih kritis daripada laporan triwulan lalu, Mbak Camilla,” ujar dr. Farhan seraya menggeser lembar grafik pertumbuhan balita. Suara baritonnya jernih, membawa ketenangan seorang klinisi yang terlatih menghadapi krisis, namun sarat desakan moral. “Tiga puluh dua anak di Blok Kenanga terindikasi stunting berat. Lingkar lengan atas balita-balita itu tidak bertambah sejak dua bulan lalu. Jika penyuluhan nutrisi dan intervensi makanan tambahan tidak segera kita eksekusi pekan depan, dampaknya akan permanen bagi perkembangan saraf mereka.”

Camilla Samairah mencondongkan tubuhnya ke depan, jemari lentiknya memegang bolpoin hitam dengan ujung bergetar halus mencatat setiap angka kritis itu di buku catatannya. Jilbab pashmina berwarna hijau zaitun membalut kepalanya dengan anggun, membingkai wajahnya yang bersih tanpa polesan riasan berlebih. Keringat tipis di pelipisnya tak mampu menyamarkan sorot matanya yang menyala—sorot mata kepedulian yang telah menjadi benteng terakhir bagi ratusan keluarga buruh di afdeling terpencil ini. Ada kilau empati yang murni terpancar saat matanya bertatapan dengan dr. Farhan.

Camilla Samairah: “Saya sudah mengajukan anggaran pengadaan susu formula dan protein telur ke bagian logistik kantor pusat afdeling dua pekan lalu, Dok,” jawab Camilla, suaranya bergetar antara kegeraman terhadap birokrasi dan kelembutan seorang perempuan yang terluka melihat penderitaan orang lain. “Namun Pak Danu selalu berdalih bahwa audit internal sedang berlangsung, sehingga seluruh pencairan dana non-operasional dibekukan sementara. Mereka lebih peduli pada angka efisiensi tonase tandan buah segar daripada nyawa bocah-bocah di barak buruh!”

dr. Farhan Syahreza: “Maka dari itu kita tidak boleh menunggu birokrasi mereka yang tuli, Mbak,” sela dr. Farhan cepat. Senyum ramah namun berwibawa merekah di wajah pemuda itu, sebuah senyuman yang menyiratkan keteguhan komitmen. “Saya sudah menghubungi rekan-rekan alumni kedokteran di Banjarmasin. Hari Sabtu ini obat cacing dan paket suplemen mikronutrien swadaya akan tiba dengan kapal ekspres di dermaga sungai. Saya butuh bantuan Mbak Camilla untuk mengkoordinasikan ibu-ibu kader posyandu agar pembagiannya tepat sasaran dan tidak dihadang pihak keamanan kebun.”

Mendengar ketulusan itu, rona lega terpancar seketika di paras Camilla. Senyum perempuan itu mengembang—senyum tulus, cerah, dan tanpa sekat kecurigaan yang seketika menghapus kepenatan terik siang di pelataran klinik. Camilla mengangguk penuh takzim, menatap sang dokter dengan binar rasa hormat dan syukur yang begitu melimpah. Bagi siapa pun yang memandang dari kejauhan, keakraban dua sosok muda yang disatukan oleh visi kemanusiaan luhur itu tampak begitu serasi, begitu alamiah, dan begitu mustahil untuk dipisahkan oleh dinding apa pun.


---


## 2. Tatapan Bara dari Balik Kaca Kantor

(Ruang Kerja Audit Internal Afdeling Tiga | Sunyi dan Mengimpit)


Dua puluh meter di seberang lapangan tanah merah klinik, di balik jendela kaca berbingkai kayu jati ruang audit kantor afdeling, Bara Kembara berdiri mematung bagai sebongkah batu karang yang membeku di tengah kawah mendidih. Kaca jendela itu buram oleh lapisan debu gambut tipis yang tak pernah sempat dibersihkan oleh pesuruh kantor, namun kejernihan pemandangan di teras klinik sana menembus retinanya bagai pecahan kaca yang dihantamkan paksa ke matanya.

Tangan kanan Bara mencengkeram erat sebuah pena Parker berbadan baja hitam pekat. Tekanannya begitu dahsyat hingga buku-buku jarinya memutih pasi, dan ujung pena itu menusuk tembus lembaran neraca kas afdeling yang sedang ditelitinya, merobek angka-angka anggaran pengeluaran fiktif yang sedari pagi menyita otaknya. Seluruh logika auditnya yang tajam, ketangkasannya membongkar manipulasi faktur ratusan juta rupiah, mendadak luluh lantak tak berharga. Di rongga dadanya, tepat di bawah tulang rusuk sebelah kiri, ada denyut asing yang belum pernah ia cicipi sepanjang tiga puluh tahun usianya di dunia.

Bara Kembara: “Rasa apa ini?” bisik batin Bara, parau dan tercekat di kerongkongan. Rasa panas itu bukan sekadar amarah biasa; itu adalah rasa terbakar yang dingin, merayap dari ulu hati menjalar ke leher bagai cairan asam kental yang mengikis kewarasan. “Apakah ini kecemburuan? Aku? Seorang Bara Kembara... mencemburui senyum seorang wanita yang bahkan tak memiliki ikatan sah apa pun denganku?”

Lihat selengkapnya