Di beranda kayu ulin yang menghadap lembah sawit senja, secangkir kopi tubruk membeku bersama rahasia tiga tahun silam. Ketika Camilla memberanikan diri mengetuk kebisuan Bara dengan kejujuran qawlan sadida, retaknya topeng kesantunan mereka justru membuka tirai konspirasi yang menguji batas cinta, moralitas, dan kewarasan.
❖ ── ✦ ── ❖
--- BAGIAN 01 : Secangkir Kopi yang Dibiarkan Dingin ---
⚜
Senja di Afdeling IV merayap turun seperti tirai beludru basah yang perlahan mencekik cahaya terakhir di pucuk pelepah sawit. Di beranda Wisma Kayu Ulin yang berdiri sunyi di bibir punggung bukit, angin sore membawa bau tanah gambut basah bercampur aroma besi panas dari cerobong pabrik di kejauhan. Papan kayu ulin berusia setengah abad di bawah kursi rotan itu menghitam legam, keras dan dingin bagai tulang hutan yang menolak lapuk. Di atas meja rendah di hadapan Bara Kembara, secangkir kopi tubruk hitam berdiam tanpa tersentuh. Uapnya telah lama mati, menyisakan selaput minyak keperakan di permukaan cairan gelap yang memantulkan langit jingga keunguan—membeku persis seperti garis rahang lelaki yang menatapnya.
Bara menyandarkan punggungnya yang kaku, membiarkan angin lembah mengacak rambut hitamnya yang masih lembap oleh keringat lapangan. Jemari seorang insinyur yang terbiasa mengukur getaran mikro pipa uap bertekanan tinggi dan memastikan baut baja terkunci tanpa meleset sepersepuluh milimeter itu kini mengetuk lengan kursi dengan irama ganjil yang tertahan. Sejak kembali dari peninjauan instalasi limbah di Klinik Afdeling IV dua jam lalu, nyaris tak sepatah kata pun keluar dari kerongkongannya saat berpapasan dengan pengurus wisma. Di pelupuk matanya, bayangan lampu neon ruang praktik berbau kresol, alkohol, dan daun teh melati hangat masih terus berkelebat—menggores kewarasannya jauh lebih perih daripada kelelahan memeriksa ketel pabrik sejak subuh buta.
Kau pandai bersembunyi di balik angka presisi, Bara, bisik suara getir di dasar kepalanya. Kau sanggup menghitung ketahanan jembatan beton menghadapi banjir bandang, namun kau lumpuh melihat cara dr. Farhan menyodorkan teh melati ke hadapan Camilla tanpa perlu bertanya takaran gulanya. Apakah yang membakar dadamu saat ini murni temuan selisih log klinik itu—ataukah kenyataan bahwa Camilla tersenyum begitu ringan di ruangan laki-laki lain, senyum yang tak pernah lagi ia berikan kepadamu sejak pemakaman ayahnya tiga tahun silam?
Ingatan Bara tergelincir menembus kabut menuju sebuah sore berhujan sepuluh tahun silam di serambi rumah tua kakek mereka di Bogor. Waktu itu Bara berusia sembilan belas tahun, pulang kuliah teknik dengan buku jari berdarah seusai mempertahankan motor tuanya dari perampasan. Camilla remaja yang masih berseragam sekolah berlutut membawa kotak obat, menggigit bibir menahan tangis saat membalut lukanya. "Kalau Mas Bara terus menyembunyikan sakit di balik wajah galak begini, bagaimana orang yang menyayangi Mas tahu bagian mana yang harus diobati?" bisik gadis itu dahulu. Kini takdir membalik keadaan dengan kejam: Bara menggenggam kebenaran berdarah di saku kemejanya, namun ia memilih membisu agar tangan Camilla tetap bersih dari lumpur masa lalu.
Telapak tangan Bara meraba saku kiri kemeja lapangannya. Selembar kertas karbon biru yang ia temukan terselip di balik kompresor lemari pendingin nomor empat klinik terasa membakar kulit dadanya. Kode seri AF4-1911, tertanggal empat belas Oktober pukul 21.15. Malam badai tiga tahun lalu ketika Paman Hasyim—ayah kandung Camilla sekaligus dermawan yang menyekolahkan Bara—wafat kehabisan darah di klinik sementara dr. Farhan bersumpah stok vial koagulan darurat kosong akibat kapal logistik tertahan cuaca.
Andai hanya dr. Farhan yang berdosa malam itu, mudah bagiku menyeret kerah jas putihnya ke hadapan direksi petang ini, gugat batin Bara dengan gigi terkatup rapat. Tetapi bagaimana aku menatap mata Camilla bila penyelidikan itu ikut menyingkap berita acara pukul 19.40—bahwa akulah insinyur piket yang menggembok Jembatan Sektor Selatan demi prosedur banjir, keputusan yang memaksa ambulans Paman Hasyim memutar delapan belas kilometer menuju klinik Farhan? Antara menyelamatkan Camilla dari serigala berwajah santun atau meruntuhkan kepercayaan perempuan yang diam-diam menghuni seluruh doaku, kewarasanku meniti seutas benang tajam.
Ujung pensil mekanik Bara menggoreskan pengakuan ringkas di sudut kertas karbon itu sebelum menutupnya di tepi meja. Bila takdir menuntut tirai ini robek malam ini, batinnya getir, setidaknya kebenaran tidak ditemukan dalam rupa kebohongan.
❖ ❖ ❖
--- BAGIAN 02 : Pertanyaan Lirih Camilla ---
⚜
Derit engsel kuningan pintu penghubung serambi memecah kebisuan beranda seusai ketukan tiga kali yang terukur. Pendar lampu gantung tembaga ruang tengah membingkai siluet Camilla Samairah di ambang pintu. Kerudung voal abu-abu kabut membingkai wajah teduhnya, sementara kedua lengannya mendekap map linen krem berisi laporan CSR triwulanan. Kepekaan batinnya seketika menangkap medan ketegangan pekat yang menggantung di antara tiang-tiang ulin dan punggung tegak sepupunya.