“Cinta itu seperti angin senja di bukit ini, Mas Bara. Kita tidak tahu kapan ia berhembus kencang, tapi kita bisa merasakan sejuknya meresap ke dalam tulang.”M— Camilla Samairah kepada Bara KembaraSalin Kutipan
❖ ── ✦ ── ❖
Bagian 01 : Meniti Punggung Tanah Merah
Langkah Waspada di Bawah Naungan Duri dan Senggani | Lereng Terjal Menuju Bukit Pandang Afdeling 7 | 17.10 - 17.25 WITA
⚜
Jalan setapak menuju puncak Bukit Pandang Afdeling 7 bukan sekadar undakan tanah lempung laterit yang licin sehabis disiram gerimis siang; bagi Bara Kembara, setiap jengkal lereng berbatu padas itu laksana lorong waktu yang menguji ketahanan urat sarafnya. Tanah merah Borneo yang pekat melekat erat di sol sepatu bot lapangannya, menuntut tenaga ganda dalam setiap ayunan langkah. Di tangan kanannya, sebilah parang rintis bergagang tanduk rusa terhunus, sesekali membabat pelepah sawit liar yang menjuntai terlalu rendah atau menyingkap sulur duri senggani yang melintang serakah di udara lembap.
"Hati-hati di undakan ini, Camilla," suara Bara terdengar serak namun sarat dengan getar kehati-hatian yang tak sanggup ia samarkan. Ia menoleh ke belakang, menahan napas sejenak tatkala ujung matanya menangkap sosok ramping berbalut kemeja safari katun zaitun dan jilbab warna gading di belakangnya. "Akar ulin di samping tunggul itu licin oleh lumut merah. Jangan bertumpu pada pelepah tua di sisi kananmu; durinya berbisa dan bisa menembus sarung tangan kanvas."
Camilla Samairah menghentikan ayunan kakinya persis dua jengkal di bawah pijakan Bara. Napasnya teratur kendati peluh halus telah membasahi pelipis dan anak-anak rambut yang tersembunyi di balik ciput jilbabnya. Bibirnya yang merah alami mengulas senyum tipis—senyuman tenang yang sejak masa kanak-kanak selalu memiliki daya magis melumpuhkan kecemasan Bara. "Mas Bara mengatakannya seolah aku baru kemarin sore menginjak tanah gambut ini. Bukankah sepuluh tahun lalu, saat kita tersesat di semak belukar Afdeling 3, aku yang menemukan jalan keluar saat kompas saku Mas terjatuh ke rawa?"
"Itu sepuluh tahun lalu, Milla," sahut Bara cepat, membalikkan badannya setengah putaran untuk menepis sulur rotan berduri kait elang yang menggantung tepat setinggi dahi Camilla. "Waktu itu hutan primer belum dibelah kanal-kanal buatan. Sekarang, lereng ini rapuh. Tanah di punggungan Afdeling 7 menampung retakan air bawah tanah akibat desakan pembukaan lahan ilegal di blok timur. Satu tumpuan yang salah, jurang sempadan di bawah sana tidak akan memberi kesempatan kedua."
Di belakang mereka berjarak lima belas depa, langkah tegap dua pengawas kebun senior, Pak Kasno dan Pak Daryo, terdengar berat memecah ranting kering. Kedua lelaki paruh baya berkulit legam terbakar matahari khatulistiwa itu sengaja menjaga jarak santun. Sebagai orang-orang tua yang telah puluhan tahun mengabdi pada dinasti perkebunan keluarga Kembara, mereka paham betul adab: membiarkan sang tuan muda memandu tamunya, namun tetap waspada menggenggam meteran pita baja dan patok kayu ulin bertanda cat merah menyala untuk verifikasi batas konservasi.
Dalam setiap ayunan parangnya meretas belukar, batin Bara bergolak hebat. Kilasan retrospeksi menyerbu benaknya tanpa ampun. Ia teringat petang kelabu tujuh tahun silam di serambi rumah pusaka di Yogyakarta, ketika jenazah pamannya—ayah kandung Camilla—diberangkatkan ke peristirahatan terakhir. Camilla saat itu baru berusia tujuh belas tahun, berdiri kaku tanpa air mata di samping pusara, namun binar matanya memancarkan kesunyian mutlak yang meremukkan dada Bara. Sejak hari itu, Bara bersumpah dalam keheningan jiwanya untuk menjadi benteng pelindung bagi adik sepupunya itu. Namun jarak ribuan mil ketika Camilla menempuh studi hukum lingkungan di Leiden dan Bara bergulat dengan lumpur perkebunan sawit di pedalaman Kalimantan telah meremajakan perasaan itu menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit, lebih pekat, dan mengerikan.
Itu bukan lagi sekadar kasih sayang seorang abang sepupu kepada adik perempuannya. Getaran yang menjalar setiap kali aroma minyak kayu putih dan keharuman kasturi lembut dari jilbab Camilla terbawa angin senja menyapa indra penciumannya adalah getaran asmara yang purba. Cinta yang tumbuh diam-diam dari kekaguman atas integritas Camilla, atas keteguhannya menolak suap dari para cukong perambah hutan, dan atas kedalaman sukmanya yang selalu memandang alam ciptaan Tuhan dengan kacamata ketakjuban tauhid. Namun, darah keluarga yang sama mengalir di pembuluh mereka; konvensi keluarga besar yang kaku dan sengkarut intrik saham korporasi membentangkan dinding tak kasatmata yang seolah mustahil ditembus tanpa meruntuhkan kehormatan nasab.
"Mas Bara melamun?" tegur Camilla pelan, kini telah berdiri di sampingnya di atas teras batu cadas yang menandai batas punggung bukit. Tangannya bertumpu sejenak pada tongkat daki kayu pasak bumi. Sorot matanya bening, menatap lurus ke dalam pupil mata Bara yang gelap berbayang lelah.
Bara menarik napas panjang, menghirup udara beraroma humus basah, getah damar, dan sengatan asam dari tandan buah sawit yang ranum di kejauhan. "Aku hanya sedang menimbang, Milla... apakah keputusanmu datang ke Afdeling 7 ini adalah anugerah, atau justru awal dari badai yang akan menyapu bersih semua yang kita pertahankan."
Camilla tidak langsung menjawab. Jemarinya yang lentik meremas tali ransel kanvasnya sedikit lebih erat. Ada kilatan misteri yang berkelebat sepersekian detik di kedalaman matanya—sebuah riak kesedihan yang teramat rahasia, sebelum ia kembali menguasai diri dengan ketenangan yang ganjil. "Badai tidak pernah meminta izin untuk datang, Mas. Yang perlu kita pastikan adalah apakah akar kita cukup dalam menancap di tanah kebenaran, atau kita roboh bersama dahan-dahan kering yang pongah. Ayo, matahari hampir menyentuh garis kanopi."
❖ ❖ ❖
Bagian 02 : Khatulistiwa yang Membara Keemasan
Samudra Zamrud di Bawah Lengkung Langit Delima | Gardu Pandang Kayu Ulin Puncak Afdeling 7 | 17.30 - 17.50 WITA
⚜
Puncak Bukit Pandang menyambut mereka dengan hamparan angin petang yang bertiup kencang tanpa penghalang. Begitu kaki mereka menjejak lantai papan gardu pandang yang terbuat dari kayu ulin hitam Kalimantan, bentang panorama yang tersaji seketika membungkam segala desah lelah. Di bawah sana, sejauh mata memandang hingga batas cakrawala barat, ribuan hektar kelapa sawit terhampar laksana samudra zamrud yang bergelombang ditiup bayu. Miliaran pelepah hijau tua itu berdesau serempak, meliuk-liuk bagai ombak lautan tanpa tepi, memantulkan kilau jingga keemasan dari matahari khatulistiwa yang kini menggantung bulat sempurna, membara merah delima di atas punggung hutan primer rimba Belayan.
Sungai Belayan yang menjadi batas sempadan konservasi meliuk di antara batas kebun dan hutan belantara bagaikan pita tembaga cair yang berkilauan. Sempadan sungai selebar seratus meter di kiri dan kanannya berdiri anggun dengan pepohonan meranti, tengkawang, dan bengkirai raksasa yang belum terjamah gergaji mesin—sebuah benteng hijau terakhir yang diperjuangkan Bara dengan mempertaruhkan posisinya di hadapan dewan direksi keluarga.
Tiupan angin senja mendadak menghempas bukit dengan kekuatan ganda, menderu di antara tiang-tiang gardu pandang. Kain jilbab katun gading yang dikenakan Camilla seketika berkibar hebat ke udara, melambai-lambai bagai sayap burung camar putih di tengah prahara. Secara refleks, kedua tangan Camilla terangkat merapikan lipatan kain di bawah dagunya, menahan agar helai mahkotanya tidak tersingkap oleh keisengan angin rimba.
Pada detik itulah, waktu seolah berhenti berdetak bagi Bara Kembara.