Bagian 01 : Membuka Amplop Beraroma Wangi Melati
⚜
Malam telah menenggelamkan perkebunan afdeling ke dalam pekat yang nyaris mutlak. Gemuruh hujan tropis di pedalaman Kalimantan malam itu tidak jatuh sebagai bulir-bulir air biasa, melainkan serupa tirai besi basah yang mencambuk atap seng wisma tua tanpa jeda. Di luar sana, derit dahan pohon-pohon karet tua dan tajuk belian purba terdengar bagai erangan makhluk raksasa yang kedinginan. Bau tanah gambut yang pekat bercampur getah basah menyusup melalui celah-celah papan dinding kayu ulin—dinding peninggalan era kolonial yang telah menghitam oleh jamur tropis dan lembap berpuluh-puluh tahun.
Tepat pukul setengah sembilan malam, langkah sepatu lars Pak Rusdi terdengar berderak di atas selasar kayu depan. Mandor pos berwajah legam itu baru saja meletakkan mantel getahnya yang kuyup di gantungan teras, sebelum mengetuk pintu kamar Bara dengan tiga ketukan perlahan yang sarat kesantunan orang timur.
"Mas Bara... maaf mengganggu malam-malam begini," ujar Pak Rusdi seraya menyodorkan sebuah bungkusan yang dibalut kain blacu tebal dan dilapisi plastik getah kedap air. "Ini kiriman pos paket yang tertahan di dermaga sungai sejak tiga hari lalu karena air pasang. Kata nakhoda kelotok, kapal barang dari Surabaya baru bisa sandar siang tadi. Ada kiriman khusus dari Jawa untuk Sampeyan."
Bara menyambut bungkusan itu dengan kedua tangan yang sedikit kaku oleh hawa dingin pegunungan meratus. "Matur nuwun sanget, Pak Rusdi. Hujan selebat ini Sampeyan masih repot-repot mengantarkannya ke kamar saya."
"Sudah kewajiban saya, Mas. Lagi pula, nakhoda tadi berpesan... paket ini amanat langsung dari seorang ibu. Baunya harum sekali, Mas. Wangi kembang melati kering dan sangrai ketumbar yang khas," Pak Rusdi tersenyum ramah, kerut di sudut matanya memperlihatkan ketulusan orang tua perantau. "Makan malam jangan sampai terlewat, Mas Bara. Lampu di paviliun barat tempat Non Camilla juga kulihat masih menyala kecil. Orang-orang klinik pasti juga masih lembur membereskan catatan vaksinasi para buruh."
Nama itu—Camilla—disebut begitu ringan oleh Pak Rusdi, namun efeknya seketika menjalar bagai sengatan arus pendek yang membakar pangkal leher Bara. Pemuda itu mengangguk kaku, menahan getar halus di jakunnya sebelum mengantar Pak Rusdi hingga ke ambang pintu.
Ketika pintu kembali terkunci rapat dari dalam, kesunyian kamar seluas empat kali lima meter itu kembali mengurung Bara.
Satu-satunya sumber penerangan di ruangan berlantai papan belian itu hanyalah lampu teplok minyak tanah nomor delapan yang diletakkan di sudut meja kerja jatinya. Semprong kaca lampu itu telah sedikit berjelaga di tepi atasnya, namun nyala apinya yang kuning kemerahan bergoyang liat diterpa hembusan angin malam yang menyelinap dari kisi-kisi jendela bovenlicht. Lidah api itu melemparkan bayang-bayang panjang tubuh Bara ke dinding papan, menciptakan siluet raksasa yang tampak kesepian dan ringkih.
Dengan napas yang tertahan, Bara memotong tali rami pengikat bungkusan menggunakan pisau lipat saku. Lapisan demi lapisan kain blacu terkuak. Di dalamnya, terbaring sebuah toples kaca tebal berpenutup seng ulir, dibungkus rapi dengan lipatan daun jati kering yang sudah kecokelatan serta lapisan koran terbitan Surabaya bertanggal tiga pekan silam.
Sambal pecel khas ndalem.
Bara mendekatkan toples itu ke hidungnya. Kendati tersekat kaca dan segel lilin lebah di leher botolnya, aroma rempah sangrai kacang tuban, daun jeruk purut, kencur segar, dan gula kelapa asli Blitar langsung menyeruak ke rongga dadanya. Bau itu bukan sekadar aroma bumbu dapur; bau itu adalah bau rumah. Bau beranda pesantren di pedalaman Jawa Timur saat fajar menyingsing, ketika para santri putri menyapu halaman pesantren beralas pasir kali, dan asap dapur ndalem mengepul bersama tawa lembut para abdi dalem yang menyiapkan sarapan untuk para kiai dan tamu sepuh.
Namun di bawah toples itu, terdapat benda lain yang membuat degup jantung Bara melompat ganjil: sepucuk amplop panjang berwarna putih gading.
Amplop itu tidak dibeli dari kantor pos umum. Kertasnya tebal bertenun serat kapas, dengan aroma wangi minyak melati khas kasturi ndalem yang begitu intim di ingatan masa kecil Bara. Di bagian depan, tertulis alamat tujuan dengan tinta cina hitam menggunakan aksara latin yang meliuk anggun dengan sapuan tegas—gaya kaligrafi khat riq'ah yang dialihaksarakan ke abjad barat oleh tangan yang telah menghabiskan puluhan tahun menulis kitab kuning dan risalah tasawuf:
Kagem anak lanangku, Ahmad Bara Kembara.Wisma Afdeling Hulu, Afdeling Tiga.Tanah Seberang - Borneo.
Tangan Bara yang biasanya kokoh memegang meteran ukur lahan dan kemudi jip gardan ganda mendadak terasa dingin laksana es. Jari-jemarinya gemetar halus saat menyentuh kertas berserat melati itu. Sudah empat bulan sejak keberangkatannya ke perkebunan sawit pedalaman ini ia tidak menerima surat langsung dari sang ibu, Nyai Hajjah Fatimah. Ibundanya bukanlah tipe orang tua yang gemar mengumbar keluh kesah lewat pos jarak jauh. Jika wanita suci pemangku asrama putri itu telah meluangkan waktu di sepertiga malam untuk mencelupkan mata pena bulu angsanya ke botol tinta, maka surat itu pastilah bukan sekadar kabar remeh-temeh tentang cuaca Jawa atau panen tebu pesantren.
Bara menarik kursi rotan yang berderit parau di lantai kayu. Ia duduk tepat di depan lampu teplok. Membuka amplop itu dengan ujung pisau lipatnya secara teramat hati-hati, seolah setiap robekan kertas berisiko melukai jiwa pemilik tulisan di dalamnya.
Dua lembar kertas tebal terbentang di bawah temaram cahaya api.
❖ ❖ ❖
Bagian 02 : Kabar Lamaran yang Menusuk Dada
⚜
Bara menghembuskan napas panjang. Asap tipis uap napasnya terlihat samar di udara lembap kamar wisma. Ia mulai mengeja bait demi bait yang tertulis rapi:
Bismillahirrohmanirrohim.
Segala puji bagi Allah yang menggenggam setiap helai napas hamba-Nya di barat maupun di timur.
Anakku lanang, Bara yang selalu hadir di setiap sujud witir ibumu...
Bagaimana kabar kesehatanmu di tengah rimba yang lebat itu, Le? Apakah paru-parumu yang dulu sering sesak oleh debu kapur kitab masih sering kambuh saat malam-malam berangin dingin seperti ini? Jangan pernah lalai menyeduh jahe emprit dan madu randu yang Ibu bawakan di dalam bekal kayumu tempo hari. Dan jangan pernah kau tinggalkan jamaah Subuhmu, betapa pun lelahnya otot-ototmu mengurus tanah dan ribuan pohon di sana.
Bara tersenyum perih. Matanya terasa hangat. Di ribuan mil jarak yang memisahkan mereka, melintasi Laut Jawa yang bergolak dan belantara yang sunyi, ibundanya tetaplah Nyai Fatimah yang sama: seorang ibu yang mengenal setiap tarikan napas putranya, wanita yang pernah mendekapnya berhari-hari saat ia demam tinggi akibat cacar air ketika usianya baru tujuh tahun.
Surat itu berlanjut menanyakan kabar masyarakat perkebunan dan bagaimana kemajuan klinik kecil yang dibangun oleh tim relawan medis dari yayasan wakaf:
Bagaimana kabar Nduk Camilla di sana, Bara? Ibumu ini setiap malam tak henti-hentinya mendoakan kalian berdua. Sungguh sebuah amanah yang berat bagi seorang anak dara berdarah ningrat seperti Camilla untuk sudi mengotori ujung gamisnya dengan lumpur tanah merah Kalimantan demi merawat para buruh dan anak-anak pedalaman. Sampaikan salam takzim dan peluk hangat dari Ibu untuknya. Katakan padanya, doaku selalu menyertai setiap tetes obat yang ia teteskan ke luka-luka orang kecil di sekitarmu.
Bara menelan ludah. Menyebut nama Camilla di samping namanya sendiri selalu menerbitkan riak gemuruh yang sulit ditenangkan. Tiga bulan mereka bekerja berdampingan di afdeling ini. Tiga bulan Bara menyaksikan bagaimana gadis lulusan kedokteran itu mengorbankan kenyamanan kamar ber-AC di Surabaya demi mendengarkan batuk anak-anak pedalaman, menyeka dahi para ibu yang bersalin di bawah lampu badai, dan memandang Bara dengan tatapan teduh yang selalu membuat dada Bara sesak oleh rasa tak berdaya.
Namun, saat matanya beralih ke alinea ketiga, nada tulisan ibundanya berubah perlahan. Sapuan tintanya tampak lebih dalam, seolah sang penulis menekan mata penanya dengan kehati-hatian yang luar biasa getir:
Bara, anakku... Ada satu hal penting yang membuat Ibu harus menuliskan surat ini sendiri dan meminta Pak Lurah segera membawanya ke kapal pos di pelabuhan Gresik.
Dua hari yang lalu, bakda salat Ashar di serambi Ndalem, Umi Salamah—ibunda Camilla—datang berkunjung ke pesantren kita.
Dada Bara mendadak seperti dihantam bogem mentah tak kasat mata. Udara di dalam kamar wisma mendadak menipis hingga ia tercekat. Matanya terpaku kaku pada baris berikutnya: