Cinta di Ufuk Khatulistiwa

Amrullah Ibrahim
Chapter #20

Permainan Tengkulak dan Ancaman

[partImg:[0]]

Matahari menggantung tepat di atas ubun-ubun Sungai Kahayan, memanggang atap seng bergelombang pos timbangan hulu hingga mengeluarkan bunyi gemeretak logam yang memuai. Udara tidak lagi mengalir; ia mandek, sarat oleh uap air rawa gambut yang pekat bercampur aroma masam tandan buah segar (TBS) kelapa sawit yang mulai terfermentasi panas. Dari celah dinding kayu ulin yang menghitam dimakan lumut dermaga, lalat-lalat hijau berdengung gelisah, berebut tetesan lendir minyak merah yang merembes dari bak truk-truk jungkit beroda sepuluh yang mengantre panjang tanpa ujung.

Di dalam ruangan sempit berukuran empat kali lima meter itu, debu karat beterbangan seperti serbuk mesiu yang siap meledak.

Bara Kembara berdiri mematung di sisi meja kayu jati berpelitur kusam. Kemeja linen kelabunya telah basah kuyup di bagian punggung, menempel erat pada kulitnya yang tegang. Matanya yang tajam bagai mata elang pengintai terpaku pada jarum indikator digital di panel timbangan merek Toledo berkapasitas enam puluh ton. Ada sesuatu yang ganjil. Desah napasnya yang teratur menyamarkan gemuruh amarah yang merayapi dinding dadanya. Di hadapannya, tumpukan berkas surat jalan bersampul cokelat tergeletak miring, bersanding dengan sebuah kalkulator saku tua yang layarnya telah menghitam separuh.

"Tanda tangani saja di kolom kanan bawah, Mas Bara," suara itu meluncur licin dari balik kepulan asap rokok kretek beraroma cengkih tengik. Hardi, staf verifikasi pabrik berpipi gembil dengan kancing kemeja dinas yang terbuka dua di bagian atas, tersenyum dengan kerlingan yang menyiratkan kepongahan tersembunyi. "Itu cuma formalitas administratif mingguan. Tongkang pengangkut dari hilir sudah sandar di pancang dermaga sejak subuh tadi. Air surut dua jengkal lagi, kita bakal kandas di gosong pasir riam kalau tidak lekas memuat."

Bara tidak menyahut. Jari telunjuknya yang ramping namun kokoh mengetuk permukaan meja dengan ketukan berirama ganjil—ketukan yang biasa ia lakukan saat membedah manipulasi neraca di kantor pusat akuntan forensik Jakarta, lima tahun silam. Ingatan buruk itu mendadak menyeruak tanpa permisi. Bayangan mendiang ayahnya yang terduduk lesu di lantai ruang tamu, menatap surat sita eksekusi dari juru sita pengadilan dengan bibir kelabu yang bergetar. Ayahnya adalah akuntan jujur yang hancur berkeping-keping hanya karena menolak memalsukan audit dividen sebuah konglomerasi tambang, lalu dijebak secara sistematis hingga meninggal dalam kubang fitnah. Trauma itu tidak membuat Bara menjadi pengecut; trauma itu memahat jiwanya menjadi sebilah pisau bedah yang dingin dan tak kenal ampun.

"Formalitas?" Bara membuka suara. Suaranya rendah, nyaris berbisik, namun memiliki gema yang sanggup meremangkan bulu kuduk orang yang mendengarnya. "Apakah pencurian bobot bersih lima belas persen dari setiap pikap petani plasma juga termasuk dalam kamus 'formalitas' kalian, Hardi?"

Wajah Hardi seketika memutih. Abu rokoknya jatuh mengotori lembar surat jalan. "M-mas Bara bicara apa? Itu angka resmi dari kalibrasi sensor!"

Bara melangkah maju satu tindak. Tubuhnya yang jangkung menjulang, menutupi sebagian besar cahaya matahari yang masuk melalui jendela berdebu. Tangan kirinya terangkat, membanting seikat dokumen ke atas meja kayu dengan dentuman keras yang memecah kesunyian ruangan. 

"Ini lembar log manual dari timbangan mekanik portabel Koperasi Plasma Berkah Kahayan," Bara mengarahkan ujung pulpennya pada kolom bertinta hitam. "Truk nomor polisi KH 8122 melintas di gerbang kebun mandiri pukul sembilan pagi dengan bobot kotor sembilan koma delapan ton. Tara kosong truk dicatat tiga koma dua ton. Artinya, buah bersih yang diangkut adalah enam koma enam ton. Tapi lihat apa yang tertera di layar monitor timbangan hulu milik kalian ini!"

Bara menyentakkan tangannya, membalik berkas penerimaan pabrik. "Lima koma enam ton! Kalian memotong tepat satu ton dalam satu kali timbang! Lima belas persen raib hanya dalam jarak tempuh empat kilometer!"


❖ ❖ ❖


Di sudut ruangan dekat lemari arsip berkarat, Pak Rusdi, kepala petugas timbangan hulu yang rambutnya telah memutih separuh, tampak gelisah luar biasa. Tangannya yang memegang cangkir kopi seng gemetar tak terkendali hingga cairan hitam pekat itu tumpah membasahi celana kersinya. Matanya melirik ke arah pintu keluar, seperti binatang buruan yang mencium bau serigala di semak belukar.

"Nak Bara..." bisik Pak Rusdi dengan suara serak yang memelas. Kerutan di dahinya yang terpapar matahari khatulistiwa tampak begitu dalam, menampung keringat dingin yang mengalir deras. "Dengarkan bapak tua ini, Nak. Jangan diungkit perkara ini di sini. Angka itu... angka itu sudah ada 'kesepakatan penyesuaian susut kadar air' dari pihak asosiasi tengkulak dermaga. Kalau Nak Bara mempermasalahkan selisih tara ini, seluruh pengiriman hari ini akan diboikot. Petani-petani kecil itu buahnya akan membusuk di jalanan dan tidak laku sepeser pun."

"Penyesuaian susut kadar air?" Bara menoleh pada Pak Rusdi. Sorot matanya menghunjam langsung ke dasar nurani lelaki tua itu. "Pak Rusdi, Anda sudah tiga puluh tahun mengabdi di tanah wakaf ini. Apakah uang pensiun dan kehormatan Anda di hadapan Allah hendak Anda barter dengan dusta murahan seperti ini? Sawit yang dipanen subuh tadi belum kehilangan kadar air sebanyak satu ton dalam waktu tiga jam! Ini perampokan terang-terangan!"

Hardi mendengus kasar. Ketakutannya mendadak berganti menjadi seringai licik. Dengan gerakan lambat, ia merogoh laci meja kerjanya yang terkunci dan menarik keluar sebuah amplop cokelat tebal berukuran folio. Suara gemerisik kertas tebal di dalamnya tak pelak lagi menandakan tumpukan lembaran uang seratus ribu rupiah yang masih berbau tinta bank. Ia menyodorkannya ke arah dada Bara dengan senyum menjilat.

"Kita semua punya keluarga yang harus diberi makan, Mas Bara. Bos besar di seberang sungai sudah menitipkan ini untuk 'uang lelah investigasi' Mas Bara. Anggap saja ini rezeki nomplok di pedalaman. Tanda tangani, dan kita berdua pulang dengan selamat membawa bagian masing-masing. Hidup ini jangan dibuat terlalu kaku, Mas."

Bara menatap amplop cokelat itu selama beberapa detik. Udara di ruangan itu mendadak terasa membeku, seolah seluruh molekul oksigen tersedot lenyap. Hatinya bergemuruh hebat. Berapa banyak manusia yang telah menjual imannya di dermaga ini demi segepok kertas fana? Berapa ratus anak petani di bantaran Kahayan yang harus putus sekolah karena keringat orang tua mereka dipotong secara sistematis oleh timbangan yang telah dimodifikasi pegas magnetiknya?

Dengan satu gerakan tangkas dan terukur, punggung tangan Bara menepis amplop tebal itu. 

*Plak!*

Amplop itu melayang di udara sebelum menghantam lantai semen yang kotor, pecah di salah satu sudutnya hingga memperlihatkan gepokan uang pecahan merah yang berserakan di dekat sepatu bot berlumur lumpur.

"Simpan bangkai haram ini untuk mengkafani nuranimu sendiri, Hardi!" suara Bara meledak, berdentang bagai palu godam menghantam landasan tempa. "Celakalah orang-orang yang curang dalam timbangan! Kami di sini mengelola amanah wakaf umat, bukan tempat untuk kalian memeras keringat para petani kecil! Satu sen pun dari hak mereka tidak akan pernah kutandatangani untuk masuk ke saku busuk kalian!"

Hardi terhuyung mundur, matanya membelalak tak percaya. Wajahnya merah padam menahan malu bercampur amarah yang meluap. Namun sebelum ia sempat membalas bentakan itu, derit engsel pintu besi pos timbangan mendadak berderak memekakkan telinga.

Bayangan raksasa jatuh menutupi lantai pos timbangan.


❖ ❖ ❖


Sosok pria bertubuh gempal setinggi hampir seratus delapan puluh sentimeter berdiri di ambang pintu, menghalangi cahaya matahari. Kulitnya sewarna tembaga terbakar, dengan leher beton yang dipenuhi rajahan tato motif Dayak Ngaju bercampur sulur duri. Di pinggang kirinya terselip sarung mandau berhias taring babi hutan, sementara di pergelangan tangan kanannya melingkar gelang akar bahar hitam pekat. Daeng Rauf, pimpinan sindikat tengkulak liar yang menguasai jalur muat hulu Kahayan selama dua dasawarsa, melangkah masuk ke dalam pos timbangan.

Di belakang punggungnya, empat orang centeng bertubuh kekar berseragam kaos hitam lusuh bersedekap dada, mengunci akses keluar dermaga dengan tatapan buas. Suara deru mesin perahu ketinting di dermaga bawah berpadu dengan dengung putaran mesin genset pos yang memekakkan telinga.

Lihat selengkapnya