Cinta di Ufuk Khatulistiwa

Amrullah Ibrahim
Chapter #21

Di Bawah Rindang Tengkawang

Bagian 01 : Di Atas Batang Tengkawang yang Tumbang

Batas Konservasi Rimba Tengkawang & Tepi Jalur Angkut Dermaga | Pukul 13.15 WIB

⚜ 

Deru mesin diesel perahu ponton di dermaga timbangan PT Sawit Mandiri Borneo akhirnya tenggelam, ditelan pekatnya dinding dedaunan purba yang membentang tanpa ujung. Namun di rongga dada Bara Kembara, dentum adrenalin belum juga surut. Otot-otot rahangnya masih mengeras, menyisakan denyut nyeri yang menjalar dari tulang pelipis kanan yang koyak akibat serpihan gagang timbangan besi satu jam lalu. Udara siang itu sesungguhnya membakar terik di areal pemuatan buah sawit, tetapi begitu mereka menembus garis batas zona penyangga hutan konservasi, hawa berubah menjadi dingin, lembap, dan beraroma tanah gambut basah bercampur getah damar yang telah mengendap ratusan tahun.

Di hadapan mereka, rebah sebuah batang pohon tengkawang raksasa—Shorea stenoptera—yang diperkirakan telah tumbang beberapa dasawarsa silam karena terpaan puting beliung rimba. Diameternya melampaui rentangan dada dua orang dewasa. Seluruh kulit kayunya yang tebal kini telah menjelma hamparan permadani beludru lumut zamrud, diselingi rumpun pakis sarang burung dan untaian anggrek merpati liar yang bunganya mekar pucat menebar wangi vanili samar. Di sanalah Camilla Samairah duduk terlebih dahulu, menyisakan jarak hampir dua depa di sebelah kirinya sebagai pembatas sunyi yang tak terucap namun dihormati secara mutlak.

Bara menjatuhkan bobot tubuhnya perlahan ke atas batang kayu lapuk itu, menghela napas panjang yang terdengar seperti dengusan lelah seekor rusa jantan yang baru saja lolos dari serbuan kawanan anjing ajag. Jemari tangannya yang kapalan dan kotor oleh noda minyak hidrolik gemetar hebat. Ia buru-buru menyembunyikan kedua telapak tangannya ke dalam saku celana kargo berlumpur, takut jika wanita di sampingnya menyadari bahwa seorang insinyur perkebunan yang tadi berteriak lantang menentang mandor bersenjata parang di dermaga, kini hanyalah seorang pria muda yang isi kepalanya sedang digerogoti teror kematian.

Retrospeksi kelam itu menyambar tanpa permisi. Sepuluh tahun silam, di tanah Sumatera yang jauh, ayahnya—seorang mantri ukur kehutanan yang lugu—pulang dalam keadaan terbujur kaku di dalam peti kayu jati murahan. Dokter korporasi menuliskan penyebab kematian sebagai 'gagal jantung mendadak', namun Bara yang kala itu masih remaja melihat sendiri bekas lebam kebiruan berbentuk cincin besi di pangkal tenggorokan sang ayah. Ayahnya dibungkam karena menolak menandatangani berita acara rekayasa koordinat tapal batas ulayat. Hari ini, saat mandor bertubuh tambun di dermaga tadi mengacungkan linggis dan mengancam akan 'menenggelamkan jasadnya ke dasar Sungai Melawi', Bara merasakan hantu masa lalu itu mencekik lehernya sendiri. Bedanya, tadi ia tidak lari.

Ia tidak lari bukan karena dirinya memiliki keberanian seorang pahlawan tanpa tanding. Alasan mengapa ia melangkah maju menahan linggis berkarat itu sederhana, teramat sederhana hingga terasa memalukan untuk diakui secara lisan: karena di sudut dermaga yang berdebu solar itu, Camilla Samairah berdiri dengan tangan terentang, memeluk tiga orang anak buruh harian lepas yang menangis ketakutan di samping karung berondolan sawit. Wanita itu tidak menangis, tidak menjerit minta tolong; pandangan matanya menghujam lurus ke arah para centeng bersenjata dengan ketenangan yang ganjil, seolah jiwa raganya telah diserahkan sepenuhnya kepada genggaman malaikat maut. Pemandangan itulah yang memantik api di dada Bara hingga meledak menjadi perlawanan terbuka.

"Minumlah dulu, Mas Bara," suara Camilla memecah desau angin kanopi, lembut bergetar namun memiliki ketukan wibawa yang khas. Ia mengulurkan sebuah kendi kecil berbahan tanah liat berbalut anyaman purun. "Darah di pelipis panjenengan masih menetes. Kita beruntung para centeng itu tidak berani mengejar melewati pal batas kayu ulin ini. Bagi mereka, hutan tengkawang ini tempat keramat bertuan pantang, sementara bagi kita... ini adalah naungan perlindungan yang dihadiahkan Gusti Allah tepat pada waktunya."


❖ ❖ ❖


Bagian 02 : Sayap Burung Enggang & Retrospeksi Ndalem

Kanopi Langit Hutan Tengkawang Purba | Pukul 13.40 WIB

⚜ 

Bara menerima kendi itu tanpa menyentuh ujung jari Camilla. Rasa dingin air rebusan daun pandan membasahi kerongkongannya yang kering laksana tembikar terbakar. Saat ia menyeka sisa tetesan air di dagunya, sebuah kepakan sayap yang berat dan berirama memecah lengang langit kanopi. Bunyinya seperti desiran baling-baling kayu yang membelah kelembapan udara tropis.

Secara serentak, keduanya menengadahkan pandangan ke celah mahkota pohon tengkawang setinggi empat puluh lima meter di atas mereka. Sepasang burung enggang gading—Buceros vigil—terbang meluncur beriringan di langit safir yang bersih tanpa awan. Paruh kuning keemasan mereka berkilau disiram terik siang, diimbangi bentangan sayap hitam bermotif putih pekat yang bergerak selaras dalam keanggunan purbakala. Mereka tidak terbang terburu-buru; mereka melayang dengan kepastian makhluk yang tahu persis bahwa seluruh rimba Borneo adalah ranah kekuasaan mereka.

"Burung enggang tidak pernah berganti pasangan seumur hidupnya," bisik Camilla lirih, matanya menatap jalur terbang dua unggas sakral itu hingga menghilang di balik kerimbunan dahan meranti. "Masyarakat adat di hulu percaya, jika enggang melintas berpasangan di atas kepala orang yang sedang dirundung kemelut, itu pertanda amanah yang sedang dipikul tidak boleh dikhianati barang sejengkal pun. Kesetiaan pada kebenaran adalah harga mati, meski sangkarnya harus terbakar menjadi abu."

Bara menunduk, mengamati serpihan lumut yang menempel di ujung sepatu larsnya. "Bagi orang kota, hutan ini barangkali hanya deretan kubikasi kayu bulat yang bernilai milyaran rupiah di pasar gelap Singapura. Mereka tidak mengerti bahwa sebatang tengkawang butuh waktu tiga puluh tahun hanya untuk menghasilkan buah pertama. Minyak dari biji tengkawang—green butter—selama berabad-abad telah memberi makan bayi-bayi Dayak, menyembuhkan luka mereka, dan menjadi benteng pangan sebelum perkebunan sawit mengepung dan merampas sungai-sungai mereka. Ketika tadi mandor itu berkata bahwa seluruh kawasan adat ini sudah ditebus oleh investor Jakarta untuk perluasan pabrik, dada saya rasanya terbakar, Mbak Camilla."

Lihat selengkapnya