Ruang Rapat Lantai Dua, Gedung Arsip Sentral Perkebunan Onderneming Cikahuripan | Malam hari, pukul 23.40 WIB | Badai Tropis & Hujan Lebat Berangin
"Ada koordinat yang tidak tercatat di peta ini, Camilla... koordinat tempat di mana hatiku menemukan arah pulangnya."
❖ ── ✦ ── ❖
Bagian 01 : Kertas Peta yang Tertiup Angin Malam
Waktu & Latar: Ruang Rapat Lantai Dua | 23.40 WIB
⚜
Malam itu, belantara perkebunan Onderneming Cikahuripan seakan ditenggelamkan ke dalam dasar kawah kabut hitam pekat. Di luar kaca jendela kolonial berbingkai jati tua yang mulai keropos dimakan rayap, hujan turun tidak lagi berupa bulir-bulir rintik yang bersahabat, melainkan cambukan tirai air yang dihantamkan angin barat ke atap seng gelombang. Suaranya menderum laksana ratusan kavaleri besi yang melesat di atas genteng, bersahut-sahutan dengan desau ratusan hektar pohon karet tua yang merintih meliuk-liuk di lembah Sungai Ciherang.
Di ruang rapat kantor sentral lantai dua, suasana terasa beku dan mencekam. Udara pekat oleh perpaduan bau khas kertas kalkir basah, karat tinta rotring, minyak mesin penggiling kopi lawas, dan uap lembap lumut dinding kapur yang tak pernah benar-benar kering sejak musim pancaroba bergulir. Sebuah lampu gantung tembaga peninggalan era kolonial berayun lambat pada rantainya yang berderit tipis, melemparkan bayang-bayang panjang yang bergoyang gelisah di dinding kayu mahoni bercat kusam.
Bara Kembara berdiri terpaku di sisi utara meja rapat jati sepanjang empat meter. Kemeja katun abu-abunya yang telah berdebu tanah merah tergulung kusut hingga batas siku, memperlihatkan guratan urat lengan yang tegang dan kulit sawo matang yang terbakar panas lereng perbukitan. Matanya yang cekung karena tiga malam berturut-turut nyaris tanpa tidur tertumbuk pada lembaran kalkir kalkulasi debit air. Rambutnya berantakan, dan di pelipis kirinya berkedut sebuah urat halus—tanda yang selalu muncul setiap kali tekanan psikologis menghantam batas toleransi kewarasannya.
Tepat di depannya, di seberang meja, Camilla Samairah sedang menunduk tekun. Rambut hitam pekat wanita itu diikat ekor kuda sederhana dengan sedikit helai yang terlepas basah oleh tetesan keringat dingin di sekitar lehernya yang jenjang. Camilla mengenakan kemeja lapangan hijau zaitun berkancing ganda, dengan rompi kanvas yang penuh saku peralatan ukur. Tangannya yang ramping memegang pensil teknis 0.3 milimeter, jemarinya bergetar halus saat menarik garis putus-putus pada kontur elevasi tiga ratus empat puluh meter di atas permukaan laut.
"Debit di hulu stasiun pengukur empat sudah melompat ke angka enam ratus dua puluh meter kubik per detik, Bara," suara Camilla memecah kesunyian, begitu tenang di permukaan namun bergetar rapuh di lapis terdalamnya. "Jika hujan di tangkapan air hulu tidak mereda sebelum fajar, tanggul tanah di Afdeling Tujuh akan runtuh laksana tumpukan gula pasir yang disiram air mendidih. Kita hanya punya sisa waktu empat jam sebelum gelombang lumpur menerjang."
Tiba-tiba, sebuah embusan angin liar melolong menembus celah kusen jendela yang telah renggang. Kait engsel jendela yang berkarat melompat lepas dari lubangnya dengan bunyi debaman keras. Angin dingin khas dataran tinggi menerobos masuk bagai serigala lapar, menerbangkan puluhan lembar formulir isometrik, menyapu cangkir enamel berisi sisa kopi hitam dingin, dan membanting tumpukan jangka kuningan hingga berdencing gaduh ke lantai papan kayu.
Di tengah kekacauan itu, kertas peta topografi berukuran A0 dengan skala satu berbanding dua puluh lima ribu—cetak biru master plan tata air perkebunan yang menjadi tumpuan keselamatan ratusan jiwa—melengkung hebat ke atas, hendak melayang terisap ke arah kegelapan jendela yang terbuka lebar.
❖ ❖ ❖
Bagian 02 : Sentuhan Jari di Titik Koordinat
Waktu & Latar: Di atas Peta Topografi Skala 1:25.000 | 23.48 WIB
⚜
Refleks yang lahir dari ketakutan kehilangan data vital membuat keduanya bergerak tanpa aba-aba. Bara menerjang maju menyusuri bibir meja, sementara Camilla merangsek ke depan dengan setengah melompat. Telapak tangan kanan Bara terhempas menekan permukaan kertas kalkir tebal itu, tepat sedetik sebelum tepi kertas tergulung robek oleh pusaran angin.
Pada fraksi detik yang sama, telapak tangan kiri Camilla mendarat di atas bidang kertas yang identik. Di sana, tepat di atas koordinat tujuh derajat empat belas menit dua puluh delapan detik Lintang Selatan dan seratus tujuh derajat tiga puluh enam menit dua belas detik Bujur Timur—titik di mana simbol kotak-kotak hitam pemukiman barak buruh Afdeling Tujuh tertera di antara dua garis kontur cokelat rapat—jemari mereka bertemu.
Ujung kelingking Camilla menyentuh sisi jari kelingking Bara. Bukan sentuhan sepintas, melainkan pertemuan fisik yang tertahan kuat oleh tekanan berat tubuh keduanya yang sama-sama menumpu di atas meja kayu.
Bumi seolah berhenti berotasi.
Derak hujan yang menggelegar di atap seng mendadak surut menjadi gaung samar di kejauhan. Lolongan badai yang menyapu daun jendela tak lagi terdengar di indra pendengaran Bara. Yang tersisa hanyalah arus listrik mikro yang merambat dari titik pertemuan kulit tipis kelingking itu, melesat menembus pembuluh darah vena, melonjakkan denyut nadi di leher, dan meledak menjadi debaran ganjil yang meremas rongga dadanya hingga sesak.
Kulit Camilla terasa dingin oleh terpaan angin gunung, namun ada kehangatan tersembunyi yang menjalari sentuhan itu—kehangatan yang mengoyak seluruh dinding pertahanan yang dibangun Bara selama bertahun-tahun. Bara mengangkat wajahnya perlahan. Pada jarak yang tidak lebih dari tiga puluh sentimeter, untuk pertama kalinya ia menatap langsung ke dalam manik mata Camilla tanpa perisai ketegasan profesional.
Mata Camilla yang berwarna cokelat madu tampak bergetar hebat. Di pupil matanya yang melebar dalam temaram lampu tembaga, terpantul bayangan wajah Bara yang pias dan diliputi kelelahan jiwa. Nafas Camilla yang pendek dan hangat menyentuh dagu Bara, membawa semerbak aroma samar melati liar dan kertas tua—wangi yang selalu diam-diam dihirup Bara setiap kali mereka berdiskusi berjam-jam di balik tumpukan teodolit.
Bara tidak menarik tangannya. Telapak tangannya tetap terpaku di atas peta, jemarinya terkunci oleh sentuhan lembut yang menggetarkan seluruh eksistensinya. Selama enam bulan menjelajahi ngarai terjal, menembus lintah rawa, dan menghadapi ancaman longsor berdua saja, Bara selalu memelihara jarak seorang ksatria yang menjaga kehormatan adab. Namun di hadapan kerapuhan mata wanita ini, di tengah ancaman maut banjir bandang yang tinggal sekejap mata, kepura-puraan itu luluh lantak.
Ada kepedihan yang tak terucap di mata Camilla—sebuah permohonan bisu agar tidak dilepaskan, ketakutan akan kesendirian di tengah badai, dan rasa cinta yang selama ini terkunci rapat di balik bibirnya yang terkatup pucat.
❖ ❖ ❖
Bagian 03 : Hantu Masa Lalu dan Rahasia di Balik Kedatangan
Waktu & Latar: Ruang Rapat Sentral | 23.55 WIB
⚜