Cinta di Ufuk Khatulistiwa

Amrullah Ibrahim
Chapter #24

Gelombang Resah Camilla

Kutipan Emas Camilla Samairah

“Jika Mas Bara tidak memiliki rasa yang sama, mengapa tatapannya selalu merengkuh jiwaku dengan begitu hangat? Ya Allah, selamatkanlah hatiku...”

❖ ── ✦ ── ❖ 


Bagian 01 : Bisikan di Ruang Pengasapan Dapur Belakang

Aroma cengkih basah, desis minyak tanah, dan kabar yang merobek ketenangan senja. Latar: Dapur Wisma Afdeling | Pukul 16.45 WIB | Tokoh: Camilla Samairah, Bu Marti

⚜

Aroma cengkih basah yang menguap dari karung-karung goni di teras samping selalu membawa aroma murung setiap kali musim penghujan menyentuh lembah afdeling. Namun petang itu, udara di dapur belakang wisma terasa jauh lebih pekat daripada biasanya—menghimpit rongga dada Camilla bagai endapan jelaga di cerobong asap kayu jati tua.

Dandang tembaga di atas perapian masih berdesis halus, memuntahkan kepulan uap putih yang berbau singkong kukus dan daun pandan layu. Camilla sedang merapikan deretan cangkir enamel seng di atas rak kayu ketika derit bakiak Bu Marti terhenti tepat di ambang pintu geser. Wanita paruh baya itu tidak langsung menyapa sebagaimana kebiasaannya yang riang. Ada jeda panjang yang tidak wajar, sebuah hening yang mengendap seperti kabut belerang dari lereng buatan kawah.

Camilla menoleh perlahan. Jemarinya yang ramping masih memegang serbet katun bermotif kembang kenanga yang sudah pudar tepinya. Saat tatapan mereka bertaut, Camilla menangkap kilat kecemasan yang berdenyut di pelupuk mata Bu Marti—sorot mata yang sama ketika mandor kebun mengabarkan batang-batang karet terserang jamur upas lima tahun silam.

"Nduk..." bisik Bu Marti, suaranya parau dan ditekan begitu rendah, nyaris tenggelam oleh suara kayu bakar yang meletup pelan di tungku bata. "Tadi pagi... waktu kamu masih memetik bunga melati di batas pagar timur, dr. Farhan datang ke ruang kerja depan."

Camilla membeku. Serbet di tangannya mendadak terasa dingin dan lembap. Selama dua tahun belakangan, dr. Farhan—dokter muda lulusan Batavia yang ditugaskan mengurus poliklinik buruh afdeling—memang kerap berkunjung. Namun kunjungannya selalu berkisar pada urusan pasokan kina atau pemeriksaan sanitasi barak kuli. Mengapa kedatangannya tadi pagi harus dibicarakan dengan bisikan rahasia di sudut dapur yang terasing?

"Mas Bara... beliau menerima dokter Farhan sendiri di balik pintu tertutup?" tanya Camilla, berusaha mempertahankan nada bicaranya agar tidak bergetar, meskipun di dalam rongga dadanya ada genderang liar yang mulai bertalu tanpa irama.

Bu Marti melangkah mendekat, menyapu pandangan ke arah selasar yang temaram sebelum meletakkan telapak tangannya yang kapalan di atas punggung tangan Camilla. Sentuhan itu hangat, namun dingin yang merayap di bawah kulit Camilla menolak untuk mencair.

"Dokter Farhan tidak bicara soal buruh kebun, Camilla. Beliau datang secara resmi, membawa niat mulia untuk meminangmu. Beliau meminta restu Mas Bara sebagai pengganti walimu di wisma ini. Beliau ingin membawamu ke kota afdeling setelah masa kontrak dinasnya usai bulan depan."

Kalimat itu tidak sekadar jatuh sebagai kata-kata; ia melesat laksana serpihan kaca yang menghunjam langsung ke ulu hati Camilla. Udara di sekitarnya seolah tersedot habis seketika. Seluruh sendi di lututnya melemas, memaksa gadis itu bertumpu pada bibir meja kayu jati yang kasar.

dr. Farhan. Semua orang di perkebunan tahu siapa pemuda itu: santun tuturnya, terjaga shalat lima waktunya di saf terdepan musholla, terpelajar, dan memiliki garis keluarga terhormat yang tak bercela. Bagi gadis yatim piatu yang menumpang hidup di wisma perkebunan terpencil seperti dirinya, pinangan semacam itu adalah anugerah langit yang tak terbayangkan oleh siapa pun.

Namun mengapa dada Camilla justru terasa koyak berkeping-keping? Mengapa kabar bahagia itu menjelma menjadi algojo tak kasat mata yang menjatuhkan vonis mati atas seluruh rahasia yang ia pelihara dalam sunyi?


"Lalu... lalu apa tanggapan Mas Bara, Bu?" Camilla mendengar suaranya sendiri keluar menyerupai desah sekarat daun kering yang terinjak sepatu lars.

Bu Marti terdiam sesaat, kerutan di dahinya bertambah dalam. "Wajah Mas Bara kelam sekali, Nduk. Keras bagai pualam makam tua. Beliau tidak langsung menjawab 'ya' ataupun 'tidak'. Beliau hanya meminta waktu hingga selepas Isya malam ini untuk memberikan keputusan tertulis. Tapi kamu tahu sendiri watak Masmu... Mas Bara selalu mendahulukan apa yang dianggapnya paling terhormat untuk masa depanmu. Beliau selalu memandang dirinya hanya mandor perkebunan yang kotor oleh getah dan debu, sementara dokter Farhan adalah pria yang mampu memberimu kehidupan mulia di luar lembah terkutuk ini."

Kata-kata Bu Marti menggantung di udara dapur laksana kepulan asap yang memerihkan mata. Camilla tidak mampu lagi membalas. Ia meremas serbet kembang kenanga itu hingga buku-buku jemarinya memutih pasi. Ketakutan purba yang selama bertahun-tahun ia timbun di sudut paling gelap jiwanya kini bangkit mengepung tanpa ampun: Bara Kembara akan menyerahkannya kepada lelaki lain atas nama kebaikan budi dan kepantasan tatanan.


❖ ❖ ❖


Bagian 02 : Tangis di Pangkuan Sajadah dan Memori yang Menyiksa

Ketika jendela krepyak menyerap senja tembaga dan air mata membasahi katun mukena. Latar: Kamar Tidur Camilla (Paviliun Barat Wisma) | Pukul 17.20 WIB | Tokoh: Camilla Samairah

⚜

Langkah kaki Camilla tersandung-sandung saat melintasi selasar batu bata merah menuju kamarnya di sayap barat paviliun. Begitu pintu kayu berdaun ganda itu tertutup rapat di belakang punggungnya, ia langsung menyandarkan tubuhnya pada panel kayu yang dingin. Napasnya tersengal, pendek-pendek dan menyakitkan, seolah paru-parunya menolak mengisi udara yang pengap oleh keputusasaan.

Kamar itu adalah saksi bisu dari seluruh pertumbuhannya. Di sudut ruangan, jendela krepyak kayu jati yang tinggi masih terbuka separuh, membiarkan bias senja berwarna tembaga keunguan menumpahkan cahaya terakhirnya ke lantai papan yang dipel dengan air rendaman sereh. Di kejauhan, siluet bukit-bukit perkebunan karet tampak muram di bawah rengkuhan awan mendung yang berarak rendah. Angin sore berdesir pelan, membawa aroma tanah basah dan daun-daun basah yang membusuk perlahan.

Camilla mendekati sudut ranjang besi tua peninggalan era kolonial. Dengan jemari yang gemetar hebat, ia mengambil mukena katun putih dari gantungan bambu dan membentangkan selembar sajadah tenun bermotif masjid tua di atas lantai kayu. Ia telah mengambil wudhu sebelumnya, namun kini air wudhu itu terasa mendidih di kulit pipinya yang dialiri tetesan air mata yang tak lagi mampu ia bendung.

Ia menjatuhkan kedua lututnya ke atas sajadah. Tubuhnya terguncang oleh isak tangis yang tertahan di balik kerudung putihnya. Kedua tangannya terangkat ke udara, lalu jatuh menutupi wajahnya yang sembap. Betapa hinanya ia di hadapan Tuhannya jika cinta yang ia pelihara adalah cinta yang salah; namun betapa mustahilnya ia membohongi getaran darahnya sendiri.

Lihat selengkapnya