Matahari tepat bertengger tegak lurus di kubah langit Riau, menumpahkan lelehan terik yang membuat aspal jalan poros melepuh dan memantulkan fatamorgana keperakan. Udara pekat tidak hanya dijejali oleh debu tanah laterit merah yang berhamburan setiap kali roda besi berputar, melainkan juga oleh sengatan aroma asam manis yang menusuk hidung—bau fermentasi tandan buah segar (TBS) kelapa sawit yang mulai membusuk akibat terperangkap di bawah sengatan panas empat puluh derajat Celsius.
Di hadapan pintu gerbang besi pabrik kelapa sawit PT Berkah Bumi Raya yang setengah tertutup, deretan lima belas truk colt diesel berwarna kuning dan hijau teronggok membeku bagai bangkai serangga raksasa. Asap knalpot tua mengepul kehitaman, bercampur aduk dengan desah napas gelisah para sopir petani plasma. Klason sesekali menjerit pendek, melengking putus asa, sebelum lekas dibungkam oleh gertakan beringas dari luar.
"Matikan mesinmu kalau tidak mau tangki solarmu kubakar!" lolong seorang lelaki bertubuh gempal dengan rompi denim robek, sembari menghantamkan sebilah gancu besi panen ke kap mesin truk terdepan. Suara dentang logam beradu memecah kesunyian siang, menyentak jantung para petani yang berkerumun ketakutan di balik kemudi.
Ada tiga puluh orang di sana. Tubuh-tubuh liat bermandikan peluh hitam, rajah tato naga dan kalajengking murahan tergores di lengan-lengan berotot kawat, dan di tangan mereka tergenggam pentungan kayu ulin, rantai motor bergerigi, serta balok berpasak paku. Mereka adalah serigala-serigala upahan sindikat tengkulak sawit pimpinan Bos Viktor—cukong gelap yang selama belasan tahun mengisap darah petani melalui permainan timbangan bodong dan pemotongan fraksi tonase hingga tiga puluh persen. Penolakan tegas yayasan binaan Bara Kembara untuk tunduk pada monopoli busuk sang tengkulak kini bermuara pada palang kayu barikade di pintu gerbang ini.
Di dalam kabin truk nomor polisi BM 8412, Pak Salam—lelaki tua berusia lima puluh delapan tahun dengan punggung bungkuk akibat puluhan tahun memikul dodos sawit—mencengkeram roda kemudi hingga jemarinya memutih pasi. Keringat asin mengalir deras dari balik peci lusuhnya, merembes ke pelupuk mata yang merah terbakar debu. Di sampingnya, cucunya yang baru berumur delapan tahun gemetar memeluk ransel sekolah yang sudah robek talinya.
"Ya Allah, Gus Bara... kalau buah ini sampai besok subuh tertahan, kadar asam lemak bebasnya melonjak di atas lima persen. Pabrik mana pun tak akan sudi menerima kecuali dengan harga sampah," bisik Pak Salam dengan bibir bergetar hebat. Dadanya sesak bukan kepalang. Tiga ton buah sawit di bak belakang adalah darah dagingnya. Itu adalah tebusan untuk modal pupuk urea yang dibelinya secara berutang, tebusan untuk beras di gentong dapur istrinya, dan biaya pendaftaran masuk madrasah cucunya yang yatim. Jika hari ini timbangan itu tertutup, ia bukan hanya rugi uang; ia akan terlempar kembali ke liang rente yang tak berdasar.
❖ ❖ ❖
Di balik dinding pos satpam pabrik yang berdinding batako telanjang, Bara Kembara berdiri mematung. Jubah katun hitam sederhana yang ia kenakan berkibar pelan disapu embusan angin kering yang membawa butiran pasir merah. Rambutnya yang tersisir rapi di balik peci beludru hitam tidak bergeming. Dari balik jendela kaca yang buram oleh daki debu, sepasang mata elang pemuda berusia dua puluh tujuh tahun itu menatap lurus ke arah gerombolan preman yang kian liar mengintimidasi.
"Gus, jangan keluar sendirian!" Pak Rusdi, kepala operasional keamanan pabrik yang juga mantan tentara dengan bekas luka goresan sangkur di pelipis kirinya, menahan pergelangan tangan Bara dengan genggaman sekuat baja. Napas Pak Rusdi memburu, urat lehernya mencuat tegang. "Mereka bukan preman kampung biasa. Itu kawanan pimpinan si Kodir Belati Karat. Mereka pemabuk yang tak segan meremukkan tempurung kepala orang demi selembar uang seratus ribuan. Kita tunggu dua jam lagi, regu patroli Polsek sedang menuju kemari!"
Bara menoleh perlahan. Tatapannya bening, memancarkan kedalaman samudra yang menolak untuk bergolak oleh badai sekecil apa pun. Ia menepuk punggung tangan Pak Rusdi dengan kelembutan yang aneh—sebuah sentuhan yang seketika meluruhkan ketegangan otot di lengan pria berbadan kekar itu.
"Dua jam adalah vonis mati bagi buah sawit petani, Pak Rusdi," suara Bara mengalun tenang, rendah namun sarat dengan getaran wibawa yang merayap ke pori-pori. "Setiap detak jarum jam yang kita habiskan di balik persembunyian ini adalah pengkhianatan atas amanah yang dititipkan para kyai dan ribuan mustadh'afin di tanah rantau ini. Kezhaliman tidak pernah surut karena ditunggu; ia hanya runtuh jika dihadapi dengan dada tegak dan hati yang bersandar penuh pada Yang Maha Menguasai Nyawa."
Di lubuk batinnya yang terdalam, sebuah pusaran kenangan masa silam berputar cepat bagai kincir air di sungai pesantren Tebuireng. Bara teringat malam dingin ketika Abahnya, Kyai Kembara, duduk bersila beralaskan tikar pandan di serambi langgar bambu. Tangan renta sang guru yang penuh bekas kapalan memegang pundak mudanya.
*'Bara, anakku...'* suara Abah terngiang jernih di telinganya, menembus deru mesin truk dan teriakan beringas di luar gerbang. *'Pencak silat Pagar Nusa yang kau pelajari bertahun-tahun di bawah tempaan wirid dan lapar bukanlah alat untuk memamerkan kesombongan tulang dan ototmu. Jurus-jurus itu dinamai pagar, karena tugas utamanya adalah memagari martabat kemanusiaan dan memagari hatimu sendiri dari buasnya amarah. Mukmin yang kuat lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, namun celakalah seorang pesilat jika ia menggunakan kekuatannya untuk menzalimi orang lain atau sekadar memuaskan riya' di hadapan mata manusia.'*
❖ ❖ ❖
Bara menarik napas panjang melalui rongga hidung, menghirup udara berdebu itu dan mengubahnya menjadi ketenangan zikir yang mengendap di rongga dada. *La haula wa la quwwata illa billahil 'aliyyil 'azhim.* Tidak ada daya, tidak ada kekuatan. Jiwanya menghening. Ia menyadari pertempuran ini sesungguhnya bukan antara dirinya melawan tiga puluh preman berotot, melainkan ujian terberat atas kesucian niatnya: sanggupkah ia bertindak tegas tanpa membiarkan setitik pun dendam mencemari qalbunya?
"Pak Rusdi, buka gerbang kecil itu," perintah Bara tanpa nada keraguan sedikit pun.
"Tapi Gus—"
"Buka, paman. Bismillah."
Grendel besi berderit ngilu ketika daun pintu gerbang terdorong ke samping. Udara panas langsung menyergap wajah Bara seperti tamparan uap mendidih. Langkah kakinya yang beralaskan sandal kulit sederhana melangkah mantap di atas kerikil tajam. Ia tidak membawa tongkat, tidak menyelipkan pisau belati, bahkan kedua tangannya terkulai santai di samping pinggang dalam sikap *tawadhu'* seorang penuntut ilmu. Di sampingnya, Pak Rusdi melangkah dengan dada terbusung waspada, tangan kanannya siap menyambar pentungan rotan di pinggang.
Melihat sosok pemuda kurus berpeci hitam itu melangkah keluar tanpa pengawalan bersenjata, teriakan preman mendadak mereda sejenak, tergantikan oleh tawa mengejek yang berderai riuh.
"Hahaha! Lihat ini, Saudara-saudara! Siapa yang keluar dari sarang tikus? Anak santri ingusan!" seru seorang lelaki tinggi kurus bertato kalajengking di leher, meludah ke tanah tepat tiga jengkal di depan ujung sandal Bara.
❖ ❖ ❖