Cinta di Ufuk Khatulistiwa

Amrullah Ibrahim
Chapter #26

Tatapan yang Tak Berdusta

Bagian 01 : Aroma Karbol dan Sisa Gemuruh Gerbang

Ketika darah mengering di atas tegel abu-abu kolonial

⚜

Bau karbol tua itu selalu mengingatkan Bara pada dinginnya kamar jenazah di penjara Kalisosok, namun sore ini, bau getir itu bercampur dengan anyir besi berkarat dan tanah basah yang terbawa oleh sol sepatu larsnya. Wisma Afdeling masih menyisakan sisa dengung amarah. Di luar dinding bata tebal setinggi empat meter peninggalan administratur Belanda itu, gemerisik hujan rintik mulai menampar dedaunan pohon trembesi tua, membasahi sisa-sisa pecahan kaca dan serpihan balok kayu kamper yang tadi siang menjadi saksi bisu amuk massa bayaran Mandor Dargo.

Bara Kembara duduk terpekur di atas bangku kayu jati panjang yang permukaannya sudah melengkung dimakan usia. Kemeja katun abu-abunya robek di bagian siku kiri, ternoda lumpur tanah merah dan jelaga knalpot traktor. Setiap tarikan napasnya terasa seperti menelan serbuk kaca; iga kanannya memang terhantam ujung linggis saat ia menahan palang gerbang utama agar ratusan buruh pemetik teh perempuan—termasuk para janda sepuh afdeling—bisa meloloskan diri ke barak belakang. Namun bukan nyeri pada rusuk itu yang membuat rahang kokohnya mengeras kaku.

Yang berdenyut paling ngilu adalah punggung tangan kanannya. Kulit buku-buku jarinya terkoyak parah, menyisakan daging kemerahan yang membengkak ungu kehitaman akibat pecahan balok penahan gerbang yang meledak diterjang truk perusuh. Darah gelap yang mulai mengental merembes lambat, menetes satu demi satu ke atas lantai tegel abu-abu bermotif sulur pudar.

Bara menatap tetesan darah itu dengan pandangan hampa. Di dalam kepalanya, jeritan panik, deru mesin diesel, dan teriakan maki-maki Mandor Dargo masih bergulung layaknya badai lumpur. "Kau pikir kau siapa, Bara? Mantan bajingan buangan yang bermimpi jadi juru selamat perkebunan ini? Kau dan anak haram sejarah ini akan mati digilas hukum kota!" Kalimat itu tidak melukai Bara—ia sudah terbiasa dihina sebagai anjing penjaga afdeling yang tak berbapak. Namun ketika bayangan Camilla Samairah melintas di ingatannya—tatapan mata bulat bening yang berdiri mematung di balik jendela kantor pos dengan selendang putih terlepas—seluruh sendi di tubuh Bara mendadak lumpuh oleh rasa takut yang purba.

Takut bahwa dunia kelamnya akan menelan kesucian gadis itu tanpa ampun. Suara langkah terompah kayu beralas karet yang tertahan di ambang pintu mendadak memutus labirin batinnya. Bau karbol yang menusuk seketika terkikis oleh aroma rempah kering, minyak kayu putih, dan wangi daun pandan yang begitu akrab di rongga dadanya.


❖ ❖ ❖


Bagian 02: Kapas Antiseptik di Punggung Tangan

Batas kain kasa dan adab yang menjaga getaran jemari

⚜

Camilla Samairah berdiri di ambang pintu geser berteralis besi. Tubuhnya terbungkus gamis sederhana berwarna abu-abu asap dengan jilbab lebar sewarna pasir gurun yang menutupi dadanya secara sempurna. Wajahnya pucat pasi, namun sepasang kelopak matanya yang dinaungi bulu mata lentik menyembunyikan kilatan ketegasan yang tak pernah padam. Di kedua tangannya, ia memegang baki seng putih berlapis email yang sedikit mengelupas di tepinya: berisi sebotol tingtur iodin pekat, mangkuk porselen kecil berisi salep herbal tumbukan temulawak dan belerang gunung, gunting bedah kuno, serta segulung kain kasa steril.

"Bara," bisiknya. Suara itu begitu lirih, namun bagi Bara, getarannya terdengar lebih menggelegar ketimbang dentuman dinamit pembelah bukit kapur.

Laki-laki itu sontak hendak menarik tangannya dan menyembunyikannya ke balik paha, gerak refleks seorang serigala luka yang tak ingin kelemahannya dilihat oleh manusia lain. "Jangan mendekat, Camilla. Lantai ini kotor oleh lumpur sepatuku. Bajumu bisa ternoda."

Camilla tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melangkah maju dengan keheningan yang anggun. Sepatu kerjanya tidak menimbulkan decit sedikit pun di atas ubin basah. Ia meletakkan baki seng di atas meja kecil berkaki tiga, lalu menarik sebuah kursi bundar kayu tanpa sandaran. Ia duduk dengan jarak dua jengkal dari Bara, menjaga batas syariat yang selama tiga tahun ini menjadi benteng kokoh di antara mereka berdua—sebuah dinding kehormatan yang tak pernah dilanggar bahkan ketika badai fitnah berhamburan di seantero afdeling.

Dengan kehati-hatian seorang perawat yang terdidik di madrasah asuhan almarhum ayahnya, Camilla mengambil sehelai kasa tebal. Ia melilitkan kasa itu pada ujung jari telunjuk dan ibu jarinya sendiri, sebuah tabir pembatas agar kulit tangannya tidak bersentuhan langsung dengan kulit Bara tanpa hak ikatan yang halal. Jarinya gemetar tipis—getaran mikro yang hanya bisa tertangkap oleh mata Bara yang terlatih membaca gerak musuh dalam gelap.

"Kau bisa pingsan jika infeksi kayu kamper beracun itu menjalar ke pembuluh nadi, Mas," kata Camilla, suaranya tercekat di ujung tenggorokan. Ini pertama kalinya dalam enam bulan ia kembali memanggilnya dengan kata sandang "Mas" alih-alih "Bara". Kata sederhana itu menghantam ulu hati Bara bagai hantaman gada.

Kapas yang dibasahi larutan antiseptik itu mendarat perlahan di atas koyakan luka punggung tangan Bara. Rasa perih yang menyengat seketika menjalar bagai jilatan api cair, membakar ujung-ujung sarafnya. Otot lengan Bara yang padat mengencang sekeras batang ulin; urat-urat hijau di pelipisnya mencuat kaku menahan nyeri. Namun bibirnya terkatup rapat, tak ada desah maupun erangan yang diizinkannya lolos. Matanya terpaku pada jemari Camilla yang bekerja dengan presisi luar biasa di bawah temaram lampu meja kuningan.


❖ ❖ ❖


Bagian 03 : Tiupan Lembut yang Menghentikan Waktu

Napas hangat di atas luka dan pergolakan batin yang sunyi

⚜

Melihat otot lengan Bara yang menegang hingga gemetar menahan sengatan iodin, napas Camilla tercekat. Tanpa disadarinya, jarak wajah mereka terkikis menjadi hanya sejengkal. Camilla membungkuk lebih dekat, kepalanya sedikit miring sehingga ujung kain jilbabnya hampir menyentuh pergelangan tangan Bara yang kotor oleh debu mesiu gerbang.

Lalu, sesuatu yang melumpuhkan akal sehat Bara terjadi.

Lihat selengkapnya