Kutipan Emas Puncak Ketegangan :
“Pak Rusdi, siapkan perahu bermesin tempel dan tali baja! Jangan ada yang melarang saya, saya sendiri yang akan menjemput Camilla dan anak-anak itu!”
Latar : Kawasan Bantaran Sungai dan Afdeling 7, Pedalaman Kalimantan Tengah | Pukul 16.00 WIB | Langit mendung pekat pekat, petir menggelegar tanpa henti. Tema Sentral : Tafriqul Kurbat (Kewajiban Menolong Sesama dalam Bencana), Introspeksi Eksistensial, dan Pengorbanan Cinta
❖ ── ✦ ── ❖
Bagian 01 : Retakan Tanggul dan Raungan Air Bah
Lokasi : Sisi Timur Perkebunan Sawit & Hulu Afdeling 7 | Waktu: 16.00 - 16.15 WIB | Tokoh: Bara Kembara, Pak Rusdi, Tim Relawan.
⚜
Langit di atas pedalaman Kahayan tidak lagi berwarna kelabu; ia telah menjelma kubah timah pekat yang memuntahkan air tanpa belas kasihan selama tujuh puluh dua jam. Hujan monsun bukan sekadar tetes air yang jatuh ke bumi, melainkan tirai raksasa yang menabrak tajuk-tajuk kelapa sawit hingga mengerang parau. Di batas timur Afdeling 7, tanah lempung gambut yang dipadatkan sebagai tanggul penahan air mulai bergetar. Getaran itu bukan berasal dari gempa tektonik, melainkan dari denyut kemarahan Sungai Kahayan—sungai purba yang telah kehilangan ruang bernapasnya akibat sedimentasi hulu dan pembalakan liar bertahun-tahun.
Bara Kembara berdiri di atas pundak jip dobel gardan yang bannya telah terbenam lumpur hingga batas velg. Jas hujan oranye mencolok yang membalut tubuh tegapnya compang-camping dicabik ranting sawit liar. Topi lapangannya basah kuyup, meneteskan air keruh yang mengaburkan pandangan, namun sepasang matanya menatap tajam ke arah dinding tanah di kejauhan. Di tangannya, sebuah radio panggil HT berderisik parau di antara deru angin yang menyapu lembah.
"Pak Rusdi! Perintahkan regu tiga mundur sepuluh meter dari bibir bronjong! Sekarang!" teriak Bara. Suaranya serak, bersaing dengan gelegar guntur yang meremukkan gendang telinga. Nada suaranya tidak menyisakan ruang bagi keraguan; selama lima tahun memimpin operasional perkebunan ini, Bara dikenal sebagai pria berdarah dingin yang mampu menghitung debit limpasan air hingga desimal terkecil.
Namun sore itu, hukum matematika alam menertawakan segala kalkulasi manusia.
Suara itu datang tanpa permisi. Bukan dentuman mesiu, melainkan suara retakan panjang yang mengerikan—seperti tulang belulang raksasa yang patah serentak di bawah tanah. Tanggul tanah liat setinggi empat meter itu merekah bagai kue kering yang remuk. Detik berikutnya, dinding tanah amblas. Gelombang air pekat berwarna cokelat pekat, bercampur serasah gambut, bangkai pelepah sawit, dan gelondongan kayu sisa tebangan liar, menyembur keluar dengan kekuatan ratusan ton per detik.
Jembatan ulin penghubung Afdeling 7 terangkat dari tiang pancangnya seolah-olah hanya terbuat dari batang korek api, lalu hancur berkeping-keping digilas pusaran air. Raungan sirine darurat dari arah pabrik pengolahan kelapa sawit mulai melolong panjang—melodi kematian yang merayap menembus kabut tebal.
"Astaghfirullahal 'Adzim! Tanggul jebol total, Mas Bara!" pekik Pak Rusdi dari balik pintu jip. Wajah lelaki paruh baya yang kulitnya terbakar matahari itu pucat pasi bagai kapur. Tangan kurusnya yang kapalan mencengkeram erat roda kemudi jip yang mulai oleng diterpa limpasan air setinggi lutut orang dewasa.
Bara melompat turun dari kap mesin. Hentakan kakinya membentur genangan lumpur yang merayap cepat. Air naik dengan kecepatan mengerikan—setiap detik permukaan air bertambah satu inci. Dinginnya air gambut menusuk hingga ke sumsum tulang, tetapi di dalam rongga dada Bara, sebuah firasat buruk membakar jantungnya lebih panas daripada api neraka.
❖ ❖ ❖
Bagian 02 : Posko Pengungsian dan Jeritan Naluri
Lokasi : Posko Darurat Pabrik & Barak Buruh Dataran Tinggi | Waktu: 16.15 - 16.35 WIB | Tokoh: Bara Kembara, Pak Rusdi, Ibu Sumiati, Koordinator Medis
⚜
Posko penampungan darurat di pelataran pabrik menyerupai lukisan kekacauan padang mahsyar. Truk-truk bak terbuka menurunkan puluhan keluarga buruh yang kuyup dan menggigil. Suara tangis anak-anak kecil berpadu dengan lenguhan ternak yang panik dan teriakan para mandor yang berusaha mencatat nama-nama pengungsi. Bau solar bercampur anyir lumpur mentah memenuhi udara yang pengap oleh uap hujan.
Bara bergerak gesit bagai singa terluka. Ia memeriksa persediaan kantong pelampung, mengatur distribusi tenda terpal, dan membagi tim evakuasi perahu karet ke sektor pemukiman barat. Sejak fajar menyingsing, ia belum menelan sebutir nasi pun. Bibirnya membiru kedinginan, tetapi kepalanya tetap bekerja laksana mesin presisi. Sebagai penanggung jawab wilayah, beban keselamatan ratusan nyawa terpikul di pundaknya. Ia terbiasa menjadi benteng karang tempat semua orang bersandar.
Hingga sepasang tangan berlumpur mencengkeram lengan jaketnya dengan kekuatan keputusasaan murni.
"Pak Bara! Demi Allah, Pak Bara! Anak saya... anak kembar saya!" jerit seorang wanita bertubuh kurus dengan daster robek di bagian bahu. Itu Sumiati, buruh harian lepas yang suaminya telah lama meninggal karena malaria. Perempuan itu bersimpuh di atas tanah basah, keningnya membentur lumpur di depan sepatu laras Bara. Ratapannya merobek dada siapa pun yang mendengarnya.
Bara membungkuk, merengkuh pundak perempuan itu dengan kedua tangannya yang bergetar. "Tenang, Bu Sumiati. Tarik napas. Di mana anak-anak Ibu? Bukankah barak jalur tiga sudah dikosongkan sejak tengah hari tadi?"
"Tadi... tadi siang Bu Guru Camilla mengajak mereka ke Balai Anak Afdeling 7!" ratap Sumiati terbata-bata, napasnya terputus-putus di sela isak tangis yang liar. "Bu Camilla mau mengamankan ijazah dan berkas ujian anak-anak di lemari besi balai sebelum banjir besar datang. Saya titipkan si Aris dan si Bayu di sana karena saya harus menyelesaikan timbangan buah di peron. Ya Allah... air sudah setinggi atap barak bawah, Pak! Balai anak letaknya di cekungan paling rendah!"