Kutipan Emas: "Camilla! Camilla! Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, dengarkan suaraku! Ya Allah, lindungilah dia... jangan ambil dia dari hamba!"
Di tengah rawa gambut Sumatera yang meluap dan dingin menusuk tulang, Bara Kembara menyusuri reruntuhan balai anak yang tenggelam. Dalam jeritan badai dan hilangnya jejak Camilla, nalar angkuhnya luluh menjadi sujud keputusasaan yang melahirkan Doa Al-Mudhthar.
“Camilla! Camilla! Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, dengarkan suaraku! Ya Allah, lindungilah dia... jangan ambil dia dari hamba!” — Bara Kembara di Puncak Keputusasaan Spiritual
❖ ── ✦ ── ❖
Bagian 01 : Balai Kayu yang Kosong Melompong
Latar : Reruntuhan Balai Anak Afdeling Tujuh | 17.40 WIB — Hujan Lebat Menjelang Maghrib
⚜
Air rawa gambut itu tidak berwarna cokelat lumpur biasa; ia pekat laksana seduhan teh hitam kental yang direndam berbulan-bulan di bawah tumpukan akar pakis busuk, menguapkan aroma masam belerang dan lignin tanah mati yang menggetarkan lambung. Gerimis deras telah bermutasi menjadi tirai air pejal, menghantam permukaan parit induk Afdeling Tujuh tanpa jeda, menciptakan desis mengerikan yang menenggelamkan hampir seluruh bunyi kehidupan. Di haluan sampan kayu yang bergoyang liar diombang-ambing pusaran arus, Bara Kembara mencengkeram dayung pendeknya hingga buku-buku jarinya memutih pasi.
Perahu itu berderit keras ketika lambungnya menghantam tiang nibung balai penitipan anak yang sudah miring tiga puluh derajat. Di hadapannya, bangunan kayu tempat tawa belasan anak buruh biasanya bergema kini telah lumpuh, separuh atap sengnya robek diterjang robohan dahan kelapa sawit raksasa, sementara lantai papannya tenggelam di bawah air banjir setinggi dada pria dewasa. Air yang bergolak kotor itu menelan segala jejak kepolosan: buku-buku gambar berbalur lumpur cokelat, bangku-bangku kecil yang mengapung terbalik bagai bangkai kura-kura, dan potongan krayon yang larut mengotori buih kuning di sudut dinding kayu.
"Camilla!" suara Bara meledak, namun badai menelannya mentah-mentah sebelum gema itu sanggup menyentuh langit-langit yang runtuh. Nafasnya memburu cepat, mengirimkan uap putih dari tenggorokannya yang terasa kering laksana digosok amplas kasar.
Lelaki itu melompat dari bibir perahu tanpa sempat menghitung kedalaman air. Begitu kakinya menyentuh dasar gambut yang gembur, tubuhnya terperosok ke dalam lumpur hisap hingga air hitam dingin menusuk ulu hatinya, mengirimkan sengatan beku yang membuat seluruh syarafnya menjerit kaku. Di balik dadanya yang sesak, detak jantungnya memukul rusuk dengan irama kacau. Ketakutan purba yang selama bertahun-tahun ia timbun di bawah topeng ketenangan seorang insinyur lapangan kini meledak keluar seperti urat bumi yang pecah.
Sorot senter tahan air di tangan kirinya menyapu ruang kelas yang luluh lantak. Di sana, tersangkut pada serpihan kosen jendela kaca nako yang pecah berantakan, sesuatu melambai perlahan di permukaan air yang berputar lambat. Jantung Bara seakan diremas tangan besi yang beku. Ia menerjang air, menyeret kedua kakinya yang terbelenggu sedimen gambut berakar tajam. Tangannya yang gemetar meraih lembaran kain basah itu.
Itu adalah kain voal berwarna sage green—jilbab cadangan yang selalu tersimpan di laci meja pengajar Camilla. Kain itu basah kuyup, dingin, dan masih meninggalkan samar aroma sabun daun bidara yang menjadi ciri khas gadis itu. Bagi Bara, kain itu bukan sekadar serat kain mati; itu adalah tamparan retrospektif yang meremukkan keangkuhannya.
Pikirannya terlempar mundur ke tiga hari sebelum tanggul kanal primer ini jebol. Di beranda barak medis afdeling yang temaram oleh lampu minyak tanah, Camilla pernah menatapnya dengan sepasang mata teduh yang sarat beban terselubung. Gadis itu telah berulang kali memperingatkan bahwa saluran pembuangan blok tujuh tersumbat tumpukan tandan kosong, dan jika hujan badai dari hulu turun serentak dengan pasang surut sungai besar, tanggul tanah tak padat itu akan runtuh menelan balai anak.
"Bara," bisik Camilla saat itu, suaranya setenang aliran embun fajar meski tangannya mengikat perban pada jemari buruh yang sobek, "Jangan menakar murka alam dengan tabel kalkulasi betonmu. Tanah gambut ini bernapas dengan kepedihan mereka yang diperas tenaganya. Bila saatnya tiba, ia menuntut ruangnya kembali. Jangan tunda evakuasi balai anak hanya demi mengejar target panen harian pimpinanmu."
Dan apa jawaban Bara waktu itu? Bara membalasnya dengan senyum sinis yang kini terasa seperti racun yang ditelannya sendiri: "Kamu terlalu melankolis, Camilla. Alam ini hanya serangkaian variabel fluida dan mekanika tanah. Semua terkendali dalam ambang toleransi lima belas persen. Jangan biarkan khayalan mistis mengaburkan nalar kerja kita."
Kini, di tengah genangan air dingin yang membusuk, toleransi lima belas persen itu menjelma menjadi kuburan basah bagi segala yang ia cintai. Bara meremas jilbab sage green itu ke dadanya, merasakan air keruh merembes ke kemeja lapangannya. Kesombongan intelektualnya runtuh rata dengan tanah. Tidak ada ruang bagi formula mekanika tanah di sini; yang tersisa hanyalah kekosongan mencekam dan kesadaran mengerikan bahwa kebodohan congkaknyalah yang mungkin telah menyerahkan Camilla ke dalam pelukan maut.
❖ ❖ ❖
Bagian 02 : Teriakan Menembus Gemuruh Badai
Latar: Parit Batas Blok Perkebunan & Jalur Pipa Afdeling 7 | 18.05 WIB — Kegelapan Pekat Merayap di Balik Kabut
⚜
Gemuruh mesin perahu ketinting terdengar sayup dari arah lorong barisan kelapa sawit di blok sebelah barat. Bunyi ketukan baling-baling kuningan yang bergesekan dengan tandan sawit tenggelam memacu kembali denyut nadi Bara. Dengan sisa tenaga di kedua lengannya, ia mendorong sampannya menembus semak paku pakis yang merambat liar di atas permukaan kanal yang meninggi.