Hikmah Al-Qur'an: Fa inna ma'al 'usri yusra, inna ma'al 'usri yusra (QS. Al-Insyirah: 5–6)
❖ ── ✦ ── ❖
Bagian 01 : Isak Tangis di Gubuk Kayu - Pukul 19.30 WIB | Blok Rawa Gambut 14
⚜
Malam di pedalaman kebun sawit tidak pernah benar-benar sunyi; ia hanya berganti rupa menjadi kesenyapan yang buas dan menelan. Hujan lebat yang sejak tengah hari melumat rimba gambut akhirnya luruh menjadi derai gerimis tipis yang dingin, bagai ribuan jarum es tak kasatmata yang menusuk pori-pori bumi. Di atas lantai papan kayu ulin yang melengkung dan lembap, Camilla Samairah meringkuk dalam gigil yang kian tak terkendali. Setiap helaan napasnya mengeluarkan uap tipis, bergetar bersama rasa nyeri yang berdenyut hebat dari pergelangan kaki kanannya yang membengkak ungu kebiruan.
Ia masih ingat kilatan arus cokelat pekat beberapa jam lalu—saat tanggul parit primer jebol dan menyeret pemukiman buruh harian lepas. Dalam kepanikan air bah setinggi dada, Camilla hanya memikirkan satu hal: bayi mungil anak Mak Inah yang tergelincir dari sampan bambu. Camilla berhasil menerjang lumpur hisap, menyambar tubuh kecil itu, dan melemparkannya ke atas rakit evakuasi sebelum kakinya dihantam tunggul kayu sawit runcing yang hanyut. Arus liar memisahkannya dari rombongan, membanting tubuhnya ke petak terisolir ini. Merangkak dengan kuku-kuku yang patah dan daging terkoyak, ia menyeret dirinya menaiki tangga reyot gubuk panggung pemanen sawit setinggi dua meter. Di sanalah ia kini terdampar: sendirian, basah kuyup, dan terputus dari dunia.
"Ya Allah... jangan biarkan aku menyerah di tempat ini..." bisiknya parau. Bibirnya yang biasanya merah muda kini pucat pasi membiru, pecah-pecah dimamah hipotermia. Tangannya mencengkeram erat robekan ujung kain jilbabnya yang basah untuk membebat tungkai yang berdenyut perih. Rasa dingin merayap dari telapak kaki, menjalar ke sumsum tulang, melumpuhkan kesadaran perlahan demi perlahan. Dalam remang malam tanpa bulan, satu-satunya pelindung hanyalah atap rumbia yang mulai lapuk, meneteskan air hujan dengan irama ketukan yang terdengar seperti hitungan mundur usia.
Tiba-tiba, suara debur lumpur di bawah kolong pondok memecah hening. Langkah kaki yang terburu-buru, berat, dan sesekali tersandung jerat akar sawit liar. Camilla tersentak, jantungnya berdegup kencang hingga menghantam dinding dadanya. Apakah itu babi hutan rawa, ataukah buaya muara yang terseret limpasan pasang? Ia menahan napas, menempelkan punggungnya pada tiang kayu gubuk yang berderit, bersiap menyambut nasib terburuk dengan sebilah pisau bedah kecil yang tersisa di saku kemejanya.
Lalu, terdengar suara gerendel tangga kayu yang bergetar hebat. Sebuah bayangan tinggi tegap merangsek naik dari balik kegelapan. Sosok itu tidak mengenakan jas hujan; kemeja lapangannya compang-camping, bahunya bersimbah lumpur hitam pekat, dan dadanya naik turun dengan ritme yang terengah ganjil, seolah setiap tarikan udara harus direbut dari cengkeraman maut. Ketika kepala sosok itu mendongak menatap ruang sempit di bawah naungan daun rumbia, seberkas kilat jauh di ufuk timur menerangi rahangnya yang kokoh dan mata elangnya yang merah menyala berkaca-kaca.
"Camilla?!" Suara itu serak, parau, dan pecah oleh luapan emosi yang meluap melampaui kewarasan.
Camilla membeku. Air mata yang sejak tadi ia tahan sekuat tenaga demi menjaga sisa kekuatannya, seketika tumpah ruah membasahi pipinya yang beku. "Mas... Mas Bara?"
Pria itu tidak menjawab dengan kata-kata. Langkahnya goyah seolah pijakan kakinya tak bertulang, lalu ia jatuh berlutut tepat di hadapan Camilla. Lantai papan kayu ulin bergetar menahan bobot tubuhnya. Sepasang tangannya yang berlapis lumpur tebal dan lecet-lecet terangkat gemetar, ragu-ragu di udara, sebelum akhirnya menangkup kedua lengan Camilla yang sedingin marmer. Sentuhan itu nyata. Bukan fatamorgana racun dingin yang kerap menipu orang-orang sekarat.
"Alhamdulillah... Ya Rabb... Engkau masih bernapas... Engkau masih ada di sini..." rintih Bara. Suaranya tercekat di tenggorokan. Air matanya jatuh menetes, membasuh noda lumpur di pipinya sendiri, berbaur dengan cucuran air hujan yang menetes dari ujung rambutnya yang kusut. Lelaki yang selama ini dikenal berhati karang, yang tak pernah bergeming di hadapan badai dan tekanan medan pertempuran logistik apa pun, kini tergugu di atas lututnya sendiri, meluapkan tangis syukur yang merobek rongga dadanya.
"Mas Bara... Mas datang mencariku?" suara Camilla bergetar di antara isak yang menyesakkan dada. "Bagaimana Mas bisa sampai ke sini? Arus parit primer... posko bilang tak ada perahu yang berani menyeberang..."
Bara menatap manik mata Camilla yang basah. Di balik kepayahan yang membayang kelam di wajahnya, terpancar kilatan api tekad yang tak mampu dipadamkan oleh samudra mana pun:
"Bahkan jika engkau hanyut ke ujung samudra, Camilla, aku akan terus mencarimu sampai nafasku habis."
❖ ❖ ❖
Bagian 02 : Menyelubungkan Jaket Hangat - Pukul 19.55 WIB | Gubuk Panggung Pemanen Sawit
⚜
Angin malam khatulistiwa kembali berembus kencang, menggoyangkan rimbun pelepah sawit di sekeliling gubuk panggung. Dedaunan rumbia di atap mendesir riuh, menghasilkan simfoni muram yang menekan kesadaran. Camilla tersengal dalam gigil hebat; rahangnya bergemeletuk tak terkendali. Tubuhnya yang mungil menyusut di sudut pondok, berusaha mencari perlindungan dari tampias air hujan yang menerobos celah dinding papan.
Menyadari kondisi Camilla yang berada di bibir jurang hipotermia, Bara segera tersadar dari keharuannya. Gerakannya gesit namun tampak dipaksakan dengan susah payah. Tangannya bergerak ke risleting jaket lapangan tebal bertipe water-repellent miliknya. Bagian luarnya memang basah kuyup berlumur lumpur, tetapi lapisan bulu angsa di bagian dalam masih menyimpan panas tubuh.
Saat menarik lengan jaket melewati bahunya, Bara sempat terkesiap pendek. Giginya mengatup rapat, dan sejenak raut mukanya memucat bagai kertas perak. Tangannya refleks menekan lambung kirinya dengan tekanan tajam, sebelum secepat kilat ia menyembunyikan gerak-gerik itu di balik gerak mengibaskan jaket. Ia tidak ingin Camilla melihat kelemahan sekecil apa pun.
"Pakai ini, Camilla. Lekas," bisik Bara, seraya membentangkan jaket itu dan menyelubungkannya ke sekeliling pundak Camilla yang ringkih. Ia melingkarkan kerah tebal itu rapat-rapat hingga menutupi leher dan dada sang dokter muda.
Aroma Bara seketika menguar memenuhi indra penciuman Camilla—aroma khas sabun kayu cendana bercampur tanah basah, getah damar, dan bau asin keringat seorang pejuang lapangan. Panas yang tersisa dari tubuh Bara menyengat kulitnya yang mati rasa, mengirimkan gelombang kehangatan yang menjalar perlahan ke pembuluh darahnya. Untuk pertama kalinya dalam lima jam terakhir, rasa takut yang membekukan jantung Camilla mulai mencair.
Namun, Camilla menangkap keganjilan. Bara hanya mengenakan sehelai kaus katun hitam yang tipis, robek di bagian lengan kanan, dan menempel lekat pada kulit dadanya yang bidang. "Mas Bara... jangan berikan ini padaku. Mas sendiri basah kuyup. Mas bisa membeku!"
Camilla berusaha mendorong jaket itu kembali, tetapi Bara menahannya dengan lembut namun bertenaga. Ujung jemari Bara yang dingin menyentuh punggung tangan Camilla, memenjarakan jemari lentik itu di bawah kain jaket. "Dengarkan aku, Camilla. Tubuhku sudah terbiasa dengan hutan dan gigitan cuaca dingin sejak remaja. Tapi engkau... denyut nadimu terlalu lemah. Jika suhu inti tubuhmu turun satu derajat lagi, jantungmu akan berhenti. Jangan membantah pasienku malam ini. Aku dokternya sekarang."