Cinta di Ufuk Khatulistiwa

Amrullah Ibrahim
Chapter #32

Perahu Penyelamat yang Merebak

Kutipan Dialog Emas (dr. Farhan kepada Camilla):

"Cinta di mata Mbak Camilla bukan sekadar rasa terima kasih pada penolongnya... itu adalah pandangan seorang wanita pada belahan jiwanya."

❖ ── ✦ ── ❖


Bagian 01 : Lambaian Tangan di Cahaya Pagi

⚜

Kabut tebal yang menggelayuti rawa gambut Afdeling Tujuh perlahan koyak oleh bilah-bilah cahaya fajar. Air bah Sungai Batang Sawit yang semalaman mengamuk layaknya naga cokelat berlumpur kini mulai menampakkan riak-riak keemasan yang menipu. Di atas permukaan air yang keruh, dahan-dahan kelapa sawit yang tumbang hanyut terbawa pusaran, saling beradu dan memercikkan buih kotor yang berbau tanah basah serta getah busuk. 

Deru parau mesin diesel perahu penyelamat memecah kesunyian subuh yang mencekam. Suara getaran katup mesin Yanmar dua puluh empat tenaga kuda itu bergema ritmis, memantul pada dinding tebing tanah yang longsor. Di haluan perahu aluminium tim SAR perkebunan, Pak Rusdi berdiri memicingkan mata, memegang erat tiang lampu sorot yang kini padam. Di sampingnya, dr. Farhan mendekap tas medis kedap air ke dadanya—kedua matanya sembap, sarat oleh ketegangan tak berujung selama sepuluh jam menyisir labirin banjir yang menenggelamkan ribuan hektar perkebunan.

"Di sana! Pak Rusdi, belokkan ke kiri! Arah rumpun nibung tua itu!" teriak dr. Farhan tiba-tiba. Suaranya serak, melengking melewati desau angin pagi yang dingin menggigit.

Di kejauhan, kurang lebih delapan puluh meter di tepi pusaran tanggul yang jebol, sebuah pondok panggung darurat tampak miring empat puluh lima derajat. Tiang-tiang ulin penyangganya mengerang menahan hantaman arus. Dan di atas atap seng yang tersisa separuh, tampak sesosok siluet tegap. Bara Kembara berdiri di tubir kematian, mengibarkan selembar sobekan kain putih—bekas perban bagian dalam yang telah ternoda lumpur pekat. Lambaian tangan itu tidak berirama tergesa, melainkan tegas dan berulang, semacam tugu ketabahan yang menolak ditundukkan oleh maut.

"Masya Allah! Mereka masih hidup! Mereka bertahan!" pekik Pak Rusdi seraya memutar kemudi kayu perahu ke arah kiri, menambah bukaan gas hingga cerobong knalpot perahu memuntahkan jelaga hitam pekat ke udara pagi.

Bara tidak melompat girang. Tatapan matanya yang cekung tetap waspada mengawasi sudut arus. Tangan kanannya yang berbalut sarung tangan kerja sobek-sobek terus melambai, sementara tangan kirinya terentang ke belakang, menutupi tubuh seorang wanita yang bersandar lemas pada punggungnya. Camilla Samairah duduk meringkuk di atas bilah kayu seng yang licin, mendekap lutut kirinya erat-erat. Wajah ayunya yang biasa memancarkan ketegasan manajer riset agronomi kini pucat pasi bagai pualam pudar, dengan bibir membiru akibat hipotermia berkepanjangan.

Ketika perahu SAR membentur pelan tiang panggung dengan bantalan ban karet bekas, air muncrat membasahi geladak.

"Bara! Camilla!" dr. Farhan berseru seraya melompat pertama kali ke titian bambu yang berguncang liar. Dadanya bergemuruh hebat, campuran antara kelegaan luar biasa dan kepedihan yang belum sanggup ia namai.

"Hati-hati, Dok! Lantai ulin bawah sudah rapuh tergerus arus dasar!" suara Bara terdengar parau, dalam, dan berat. Lelaki itu tidak bergerak dari posisinya sampai dr. Farhan dan dua personel regu penyelamat memijakkan kaki dengan aman.

"Camilla... demi Allah, kau bertahan..." bisik dr. Farhan seraya berlutut di samping wanita itu. Tangannya yang mengenakan sarung tangan lateks terulur gemetar hendak menyentuh kening Camilla.

Namun, sebelum jemari sang dokter sempat mendarat, Camilla membuka kelopak matanya yang berat. Pandangannya tidak tertuju pada dokter tampan yang telah menempuh bahaya mencarinya sepanjang malam itu. Bola mata Camilla yang berair dan rapuh langsung terarah ke samping—mencari sosok Bara yang sedang membungkuk mengendurkan tali simpul yang mengikat pinggang mereka berdua ke tiang utama pondok.

"Bara..." desah Camilla lirih sekali, hampir tak terdengar di antara gemuruh air, namun mengandung getaran kepasrahan yang begitu intim. "Jangan lepaskan talinya dulu... perahunya masih terombang-ambing..."

"Perahu sudah aman, Mbak Camilla. Tim medis sudah tiba. Tugas saya selesai," jawab Bara dingin, nyaris tanpa intonasi, namun kedua tangannya yang gemetar menahan bobot tubuh Camilla saat memindahkannya ke atas tandu basket lipat membantah segala kepura-puraan dingin itu.

Di sudut mata dr. Farhan, sebuah retakan batin yang sunyi mulai merebak.


❖ ❖ ❖


Bagian 02 : Pemeriksaan Medis di Atas Perahu

⚜

Kabin perahu penyelamat itu berukuran sempit, berdinding aluminium polos dengan bau antiseptik yang segera mengalahkan amis lumpur rawa. Begitu tandu berhasil dinaikkan ke geladak tengah dan Pak Rusdi memutar haluan menjauhi reruntuhan pondok yang beberapa detik kemudian ambruk ditelan arus pusaran, dr. Farhan langsung bergerak dengan presisi seorang dokter bedah terlatih.

"Gunting perban daruratnya! Siapkan splint traksi dan larutan Ringer Laktat hangat!" perintah dr. Farhan kepada perawat pembantu. 

Kedua mata dr. Farhan terfokus pada pergelangan kaki kanan Camilla yang terbebat seadanya. Ketika ia menggunting sobekan kain sarung yang kotor itu, tampaklah dua bilah bambu yang diserut kasar menjadi bidai penahan. Kulit di sekitar maleolus lateral Camilla membengkak ungu kebiruan dengan deformitas sudut yang nyata—indikasi fraktur tertutup akibat benturan balok kayu saat menyelamatkan diri tadi malam.

"Siapa yang memasang bidai ini?" gumam dr. Farhan spontan seraya meraba denyut arteri dorsalis pedis di ujung jemari kaki Camilla.

"Bara..." suara Camilla bergetar saat dr. Farhan menyentuh titik nyeri. "Dia... dia mencabut bambu dinding dengan tangannya sendiri... menyerutnya dengan belati agar tidak menusuk kulitku..."

dr. Farhan tertegun sejenak. Potongan bambu itu begitu presisi melingkupi sendi pergelangan, dilapisi lumut kering dan daun pandan hutan sebagai bantalan alami penahan gesekan. Itu adalah pengetahuan bertahan hidup tingkat tinggi yang hanya dimiliki oleh orang yang telah berkali-kali menatap kematian di mata.

dr. Farhan menarik napas panjang, menyingkirkan gejolak rasa rendah diri yang mendadak menyengat ulu hatinya. Ia meraih stetoskop dari sakunya, menempelkan diafragma logam dingin itu ke dada Camilla untuk memeriksa bunyi napas dan ritme jantungnya.

*Deg. Deg. Deg. Deg.*

Irama jantung Camilla terdengar cepat, takikardia ringan akibat rasa sakit dan suhu tubuh yang anjlok ke tiga puluh lima derajat Celsius. Namun ketika Bara melangkah masuk ke pintu kabin—bermaksud meletakkan dayung kayu darurat—stetoskop di telinga dr. Farhan menangkap lompatan ritme yang drastis. 

Lihat selengkapnya