Cinta di Ufuk Khatulistiwa

Amrullah Ibrahim
Chapter #33

Menolak Lamaran dr. Farhan

"Dokter adalah pemuda yang sangat baik dan mulia. Saya berdoa semoga Allah menghadirkan bidadari terbaik yang jauh lebih pantas mendampingi perjuangan dokter daripada saya."

❖ ── ✦ ── ❖ 


Bagian 01 : Duduk Berdampingan dengan Saksi Bu Marti

Di Bawah Kanopi Akasia dan Debaran Gelisah Sungai Meliau (Pukul 16.30 WIB)

 ⚜

Arus Sungai Batang Meliau masih bergulung pekat kecokelatan, menghanyutkan patahan gelondongan kayu dan endapan lumpur yang dimuntahkan rimba hulu dua malam lalu. Kendati bah telah surut dari pelataran bangsal Klinik Sehat, aroma anyir tanah basah bercampur sengatan tajam klorheksidin masih mengambang tebal di udara sore yang dingin. Kabut putih tipis merayap pelan dari pusaran air di sela tiang pancang dermaga ulin, menebarkan kesenyapan murung yang menguji keteguhan batin.

Camilla Samairah duduk di ujung bangku kayu panjang tepat di bawah naungan pohon akasia tua. Setiap kali embusan angin pegunungan bertiup, kelopak-kelopak kuning keemasan luruh tanpa suara, mendarat di atas gamis hijaunya yang bersahaja. Pergelangan kaki kirinya masih terbebat perban elastis cokelat—bekas luka terkilir tatkala ia tergelincir di pematang tanggul saat membopong balita buruh kebun di tengah kepanikan evakuasi malam itu.

Di sisi kirinya duduk Bu Marti. Jemari wanita paruh baya berkerudung kopi gosong itu menggenggam lembut telapak tangan Camilla yang sedingin es. Bu Marti hadir bukan sekadar menemani, melainkan sebagai saksi syariat dan perisai adab. Dalam tata krama Islam, seorang muslimah yang hendak membicarakan perkara sakral penolakan pinangan tidak selayaknya bersua berduaan tanpa pendamping yang dituakan, demi mencegah bisikan prasangka dan menjaga marwah kehormatan.

“Tarik napasmu, Nduk,” bisik Bu Marti serak dan penuh keibuan. “Kejujuran yang disampaikan dengan santun adalah obat pahit yang menyembuhkan. Jangan gantungkan harapan seseorang, sebab ketidakpastian adalah luka paling menyiksa bagi laki-laki yang berniat tulus.”

Camilla mengangguk pelan. Dadanya bergemuruh laksana bendungan yang menahan jutaan kubik limpasan air. Dari kejauhan, langkah tenang dr. Farhan Al-Fatih terlihat menyusuri jalan setapak berkerikil. Jubah putih sang dokter tersampir di pundak kemeja katun abu-abunya. Wajahnya yang bersih menyiratkan keletihan fisik setelah empat puluh delapan jam berjibaku di posko darurat, namun sorot matanya tetap jernih, memancarkan kesalehan yang sulit dicari tandingannya.

Melihat sosok dokter muda itu, ingatan Camilla terseret pada malam bencana. Saat hujan menggila dan atap posko bergetar, Farhan dengan jemari kokoh dan teliti mencabuti paku berkarat dari telapak kakinya yang berdarah tanpa sekalipun mengeluh. Farhan adalah lulusan terbaik fakultas kedokteran ibu kota yang rela meninggalkan kenyamanan kota besar demi mewakafkan ilmunya untuk buruh perkebunan pedalaman.

Tiga hari sebelum banjir melanda, Farhan telah memberanikan diri menemui Bu Marti secara terhormat. Ia menitipkan sepucuk surat bertuliskan tangan yang memuat niat sucinya meminang Camilla menjadi pendamping hidup dan rekan seperjuangan dakwah medis. Lamaran itu bukan sekadar ketertarikan fana, melainkan hasil istikharah panjang seorang pemuda beriman.

“Assalamu’alaikum warahmatullah, Bu Marti, Mbak Camilla,” sapa dr. Farhan seraya berhenti pada jarak dua meter. Sesuai adab gadhul bashar, ia menundukkan pandangannya sebelum duduk di kursi bambu yang telah dipersiapkan dengan jarak yang patut di seberang meja kayu.

“Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh, Dokter,” sahut keduanya nyaris berbarengan. Kerongkongan Camilla tercekat kelu. Jemarinya meremas kain selendang, merasakan debaran jantung yang menghentak rusuknya.

“Bagaimana pergelangan kaki Mbak Camilla sore ini? Apakah kompres dingin tadi siang berhasil meredakan bengkaknya?” tanya Farhan penuh perhatian tulus, melirik sekilas perban di kaki Camilla sebelum kembali menatap permukaan meja.

“Alhamdulillah Dokter, sudah jauh membaik berkat pertolongan Allah dan kecekatan Dokter di posko,” tutur Camilla. Kata-kata itu tulus mengalir, namun sekaligus menebalkan rasa bersalah di palung batinnya.

Hening sejenak menyergap. Deru air kali Batang Meliau dan desau daun akasia menjadi latar yang menegangkan. Bu Marti mengusap punggung tangan Camilla, memberi sinyal bahwa waktu penentuan tak boleh lagi ditangguhkan.

Menata sisa napasnya, Camilla menegakkan punggung. “Dokter Farhan... maksud saya memohon waktu berbicara bersama Bu Marti sore ini, tiada lain untuk menyampaikan jawaban atas surat dan niat mulia yang Dokter amanahkan kepada Bu Marti tempo hari sebelum banjir melanda.”

Sorot mata dr. Farhan mengencang sepersekian detik. Tangannya yang bertengger di atas lutut mengepal pelan lalu kembali mereda. Dokter yang biasa tenang menghadapi detik-detik kritis pasien di meja operasi itu kini menanti putusan nasib hatinya dengan ketabahan seorang mukmin.


❖ ❖ ❖


Lihat selengkapnya