Bagian 01 : Jabat Tangan Dua Pemuda Ksatria
⚜
Malam di Afdeling 3 selalu tiba dengan keheningan yang merambat lambat, serupa embun pekat yang menetes dari pucuk-pucuk daun kelapa sawit yang basah seusai hujan lebat petang tadi. Dari arah surau kayu di tepi parit batas perkebunan, gema shalawat selepas Isya baru saja memudar, menyisakan derit gesekan pelepah sawit dan dengung serangga malam yang bersahut-sahutan di pekatnya rimba Sumatra. Di serambi wisma berdinding papan ulin tua yang hitam kecokelatan, Bara Kembara masih duduk terpaku. Kedua tangannya menggenggam bibir cangkir seng enamel yang telah mendingin. Di depannya, nyala semprong lampu teplok menari-nari ditiup angin lembap yang menyusup lewat kisi-kisi teras, memantulkan bayang-bayang panjang yang bergoyang gelisah di lantai papan yang kokoh.
Bara menarik napas panjang, menghirup aroma tanah lempung basah bercampur sisa getah segar yang terbawa kabut. Namun ketenangan alam liar itu gagal meredam badai di dalam dadanya. Pikirannya belum beranjak dari kabar yang diterimanya senja tadi: dr. Farhan—dokter perkebunan yang selama dua tahun terakhir menjadi pahlawan kesehatan para buruh afdeling, sekaligus sosok pria yang pernah digadang-gadang keluarga besar perkebunan sebagai calon pendamping paling sempurna bagi Camilla—meminta waktu untuk berbicara empat mata malam ini. Hanya berdua. Tanpa perantara, tanpa basa-basi serikat kerja.
Langkah kaki yang mantap namun terukur tiba-tiba terdengar berderit menaiki tiga anak tangga ulin di ujung beranda. Bara tersentak dari lamunannya. Sosok tegap bersahaja itu muncul dari kegelapan beranda, masih mengenakan kemeja katun putih polos berlapis rompi safari warna khaki yang sedikit kumal oleh debu perjalanan. Di lehernya tidak lagi menggantung stetoskop kebanggaannya, melainkan seutas tasbih kayu kokka cokelat tua yang melingkar longgar di saku dada.
"Assalamu'alaikum, Mas Bara," suara dr. Farhan memecah kebisuan malam. Suara bariton itu begitu teduh, tidak membawa sedikit pun getar kegugupan apalagi percik dendam seorang rival yang tersisih. Nada suaranya mengingatkan Bara pada suara gemericik air wudhu di pelataran masjid kuno Istanbul—bening, tenang, dan menyucikan.
"Wa'alaikumussalam warahmatullah, Dokter Farhan. Silakan... silakan duduk," Bara bangkit seketika, menegakkan tubuhnya yang tinggi liat. Ada kecanggungan naluriah yang menyergap tenggorokannya. Lelaki di hadapannya bukan sembarang orang. Farhan adalah sosok yang pernah menyelamatkan puluhan nyawa buruh dari sengatan malaria ganas musim penghujan lalu, sosok yang namanya selalu disebut para tetua kampung dengan takzim, dan pria yang dengan segala kemuliaan akhlaknya telah lebih dulu mengenal Camilla jauh sebelum kepulangan Bara dari perantauan studi di Turki.
dr. Farhan melangkah mendekat. Ia tidak langsung duduk di kursi rotan bertumpu rendah yang disediakan. Sebaliknya, ia mengulurkan tangan kanannya ke arah Bara. Mata bening di balik bingkai kacamata tipis itu menatap lurus ke dalam pupil mata Bara, tanpa kepalsuan, tanpa kepura-puraan diplomasi sosial.
Bara menyambut uluran tangan itu. Ketika telapak tangan mereka berpaut, Bara merasakan cengkeraman yang begitu kokoh, hangat, namun di saat yang sama ia menangkap sesuatu yang ganjil: ujung-ujung jemari sang dokter terasa dingin laksana pualam es, dan denyut nadi di pangkal pergelangan tangan pria itu berdetak dengan irama yang terlalu pelan dan rapuh. Untuk beberapa detik yang panjang, kedua pemuda itu berdiri dalam hening, saling mengunci tatapan di bawah temaram kuning lampu teplok.
"Aku datang malam ini bukan sebagai dokter afdeling yang hendak melapor pada pengelola kebun, Mas Bara," Farhan membuka suara seraya tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang meruntuhkan benteng pertahanan psikologis Bara dalam sekejap. "Aku datang sebagai seorang saudara sesama mukmin, sebagai seorang laki-laki yang ingin menitipkan amanah paling berharga yang pernah singgah di dalam doaku."
Jantung Bara berdegup kencang. Sentuhan persaudaraan dalam jabat tangan itu terasa begitu sakral, seolah sebuah jembatan ksatria sedang dibentangkan di atas jurang ego manusiawi yang kerap menjerumuskan para lelaki ke dalam kubangan kedengkian.
❖ ❖ ❖
Bagian 02 : Secangkir Teh Penghormatan
⚜
Bara menarik cangkir tanah liat baru dari baki bambu di sudut meja, lalu menuangkan teh hitam panas yang baru diseduhnya sesaat sebelum Isya. Aroma melati pekat yang bercampur harum rempah kapulaga mengepul ke udara, menciptakan kehangatan kecil di tengah kepungan angin malam yang semakin menusuk tulang. Ia mendorong cangkir itu ke hadapan sang dokter.
"Minumlah, Dokter. Teh ini diracik dari daun teh pegunungan Kerinci dengan sejumput kapulaga. Di Anatolia dulu, saat musim dingin membekukan Selat Bosphorus hingga ke tulang rusuk, seduhan seperti ini yang menjaga darah kami tetap mengalir dan akal sehat tetap terjaga dari keputusasaan," ucap Bara dengan nada rendah, mencoba mengurai ketegangan yang masih membayang di antara mereka.
Farhan meraih cangkir itu dengan kedua tangannya, menghirup uapnya yang membubung, lalu meminumnya perlahan seteguk demi seteguk. Gerakan tangannya teramat tenang, namun Bara memperhatikan dengan saksama bagaimana siku kiri dokter itu sesekali menekan lambungnya secara halus, seolah berusaha menekan nyeri tak kasat mata yang menjalar di balik lipatan rompi safarinya.