Cinta di Ufuk Khatulistiwa

Amrullah Ibrahim
Chapter #36

Senja Terakhir Kalimantan

"Camilla Samairah binti Ahmad... di bawah langit Borneo ini, aku memintamu menjadi penyejuk mataku di dunia dan bidadariku di akhirat. Bersediakah engkau pulang bersamaku ke ndalem untuk menerima restu Abah?"

Latar: Dermaga Kayu Ulin, Tepian Sungai Kahayan, Kalimantan Tengah | Sore menjelang magrib, hening kepulangan ke Jawa

❖ ── ✦ ── ❖


Bagian 01 : Angin Senja Menggoyangkan Pelepah Sawit

Ujung Dermaga Ulin Tepian Kahayan · 17.15 WIB — Cahaya Lembayung Emas

⚜

Matahari sore itu tidak tenggelam dengan kepasrahan yang biasa. Di atas langit pedalaman Kalimantan Tengah, ia merekah bagai tembaga pijar yang dileburkan ke bentangan kanvas purba, membasahi pucuk-pucuk kanopi rimba dan pelepah sawit dengan kilau jingga keemasan yang muram sekaligus agung. Angin dari arah hulu berembus pelan namun menusuk, membawa serta aroma khas tanah gambut basah—bau pekat lumut purba, humus asam, dan getah rawa yang telah mengendap ratusan tahun di bawah permukaan bumi Borneo. Di ujung dermaga kayu ulin yang menghitam legam oleh tempaan cuaca dan pasang surut air rawa, dua pasang tapak kaki berdiri membeku.

Kayu ulin itu berderit lirih setiap kali arus Sungai Kahayan menampar tiang-tiang pancangnya. Air sungai yang pekat sewarna seduhan teh tua—akibat pelepasan tanin vegetasi rawa gambut—berkilap seperti perisai baja yang memantulkan langit terbakar. Bara Kembara menarik napas panjang. Udara lembap yang mengisi rongga dadanya terasa berat, sarat dengan kegelisahan yang telah ia tahan selama tiga puluh hari terakhir. Kemeja linen kelabu yang ia kenakan berkibar ditiup angin senja, memperlihatkan garis bahunya yang tegap namun menyiratkan keletihan batin seorang pemuda yang memikul beban lebih berat dari usianya.

Tiga langkah di sisi kirinya, berjarak dua depa dalam batas kepatutan yang tak pernah mereka langgar, berdiri Camilla Samairah. Angin senja mengibarkan ujung jilbab katun berwarna hijau zaitun yang ia kenakan, menyibak sedikit wajahnya yang bersih tanpa pulasan bedak berlebih. Di pelukan tangannya, Camilla mendekap sebuah buku catatan tebal bersampul kulit kerbau yang tepiannya telah terkoyak oleh kelembapan hutan tropis. Pandangan gadis itu terpaku lurus menatap riak air di tengah sungai, di mana sebuah perahu kelotok bermesin tempel melintas perlahan, meninggalkan garis buih putih yang segera ditelan kehitaman Kahayan.

"Besok jam delapan pagi kelotok jemputan dari bandara Palangka Raya sudah merapat di dermaga ini, Mas," suara Camilla memecah deru angin. Suaranya bening, tenang di permukaan, namun Bara yang telah sebulan penuh mengamati setiap desah napas dan kerut kening gadis itu dapat menangkap getaran samar di balik ketegaran itu. "Tiga puluh hari rasanya seperti tarikan satu napas panjang. Rasanya baru kemarin lusa kita bertengkar di balai desa soal pemetaan kanal hidrologi dan kubah gambut yang nyaris membakar tiga ratus hektar kebun rakyat."

Bara tersenyum tipis, kendati matanya tetap menatap jauh ke seberang sungai, tempat hutan sekunder mulai diselimuti kabut tipis kebiruan. Memori hari pertama itu berputar seketika dalam benaknya dengan ketajaman yang menyayat. Sebulan yang lalu, di dermaga ulin yang sama persis, Camilla melangkah turun dari perahu kayu dengan sepatu bot berlumpur dan ransel penelitian yang tampak terlalu besar untuk tubuh rampingnya. Gadis itu tidak datang sebagai asisten laboratorium yang penurut, melainkan sebagai seorang hidrolog muda berpendirian sekeras batu karang yang berani membanting data satelit di hadapan dewan direksi perkebunan.

"Kita tidak bertengkar, Camilla," balas Bara pelan, suaranya dalam dan berat, sarat dialek pesisir Jawa Timur yang santun dan terjaga. "Kita hanya sedang saling menguji: apakah akal sehat dan nurani kita masih bernyawa di tengah pusaran kepentingan tanah yang begitu rakus ini. Dan engkau... tidak pernah mundur satu jengkal pun. Bahkan saat para mandor mengancam akan membakar kamp ukur kita di Blok Tujuh."

Camilla menoleh sedikit, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman getir yang sangat dipahami Bara. "Mundur berarti mengkhianati tanah ini, Mas Bara. Tanah gambut ini tidak bisa bersuara ketika ia dikeringkan hingga menjadi abu. Seseorang harus berdiri di tepian kanal untuk mencatat setiap tetes air yang dirampok." Gadis itu terdiam sejenak, lalu jemarinya yang mendekap buku bersampul kulit itu mengetat, buku-buku jarinya memutih. "Tapi besok... kita harus meninggalkannya. Kembali ke kota. Kembali ke dunia nyata yang menuntut kita memilih peran."

Di balik kata-kata Camilla, Bara mendengar dentang lonceng peringatan yang telah lama berdengung di kepalanya. Dunia nyata. Kata itu bagai palu godam yang menghantam dadanya. Bagi Camilla, dunia nyata mungkin adalah laboratorium riset, publikasi jurnal, dan pertanggungjawaban data ilmiah. Namun bagi Bara, dunia nyata adalah tembok bata merah Pesantren Luhur di pedalaman Jawa Timur—ndalem Abah yang agung, wibawa sebuah dinasti ulama yang disegani ribuan santri, dan sebuah amanah perjodohan lama antar-trah kiai yang telah disepakati bahkan sebelum Bara berangkat menempuh studi magister teknik lingkungan di Turki empat tahun silam.

Bara menunduk, menatap celah-celah papan kayu ulin tempat lumut sungai tumbuh subur di batas air. Di bawah permukaan kayu itu, kegelapan Sungai Kahayan tampak begitu pekat, seakan mampu menenggelamkan rahasia apa pun tanpa meninggalkan jejak. Hatinya bergulat hebat. Sejak dua minggu terakhir, setiap kali ia sujud di sepertiga malam terakhir di bilik bambu barak perkebunan, nama Camilla tidak pernah absen dari bisikan doanya. Ia tahu, membiarkan seorang wanita menyusup sedalam ini ke dalam sanubarinya adalah pertaruhan yang berbahaya. Ini bukan sekadar rasa kagum seorang insinyur terhadap ketegasan seorang peneliti rekan kerjanya. Ini adalah kehausan spiritual akan seorang belahan jiwa yang mampu memandang dunia dengan kedalaman rasa dan takwa yang sama.

Namun, pantaskah seorang Bara Kembara—anak laki-laki tertua Kiai Hasanuddin yang selalu diharapkan pulang membawa kemuliaan trah—menyerahkan hatinya pada seorang gadis yatim yang masa lalunya masih tertutup kabut rahasia? Apakah langkah yang hendak ia ambil sore ini adalah kepatuhan pada takdir ilahi, ataukah sekadar kelemahan nafsu yang ia bungkus dengan dalih cinta suci? Angin senja tiba-tiba berembus lebih kencang, menggoyangkan pelepah-pelepah sawit di sepanjang bantaran sungai hingga terdengar suara gemerisik tajam, laksana desah seribu pasang mata yang menyaksikan kebimbangan di ujung dermaga ulin itu.


❖ ❖ ❖


Lihat selengkapnya