Cinta di Ufuk Khatulistiwa

Amrullah Ibrahim
Chapter #37

Kembali ke Tanah Pesantren Luhur

"Alhamdulillah 'ala kulli hal... engkau pulang dengan selamat, Le. Dan abah melihat ada binar yang berbeda di matamu." — K.H. Qomaruddin Al Quthuz

❖ ── ✦ ── ❖


Bagian 01 : Lambaian Tangan di Gerbang Pesantren

Latar : Gerbang Utama Pondok Pesantren Luhur Al-Quthuz | Sore menjelang senja | 16.45 WIB

⚜

Deru mesin Toyota Innova hitam berdebu itu melambat ketika rodanya menggilas kerikil basah jalanan desa. Di ufuk barat Jombang, matahari terpeleset di balik Pegunungan Anjasmoro, menumpahkan semburat jingga tembaga ke hamparan sawah basah. Hawa sejuk sisa hujan berembus membawa wangi tanah lempung, asap tebu kering di kejauhan, serta aroma lumut tua dinding bata merah Pesantren Luhur Al-Quthuz.

Namun ketenangan kampung halaman itu tak mampu meredam bara yang membakar dada Bara Kembara. Di sampingnya, Camilla Samairah duduk membeku. Jilbab abu-abu asap membingkai wajahnya yang pucat pasi—wajah yang kian tembus pandang oleh keletihan yang melampaui raga. Tangan kanan Camilla terbenam di saku gamis hitam, meremas saputangan putih berlipat yang ternoda karat kecokelatan.

"Kita sudah tiba di batas pondok, Camilla," bisik Bara. Tenggorokannya tercekat.

Camilla menatap siluet beringin raksasa di pelataran utama pesantren yang memayungi atap masjid. Bibir gadis itu tersenyum tipis, senyuman rapuh yang menorehkan perih di rusuk Bara. "Alhamdulillah... udaranya harum sekali, Mas Bara. Bau melati dan doa para santri."

Mobil menembus gapura agung berbahan jati tua berukir kaligrafi ayat kursi. Begitu moncong mobil melintasi pos jaga, pekikan takbir membubung ke langit petang. Ratusan santri putra bersarung gelap dan berkopiah hitam yang sedari ashar berbaris di tepi pagar bambu bergerak merangsek maju. Mereka mengelu-elukan mobil yang membawa pulang sang putra mahkota—pejuang yang dua bulan lalu berangkat ke belantara Kalimantan menyelamatkan kilang bioenergi dan kebun sawit santri dari cengkeraman konglomerasi hitam.

Bara menurunkan kaca jendela mobil beberapa sentimeter. Puluhan tangan berebut menyentuh pintu; binar mata para santri memancarkan kebanggaan murni. "Gus Bara rawuh! Takbir!" gemuruh suara mereka bersahut-sahutan dengan dentang kentongan kayu gardu jaga.

Bara membalas lambaian tangan mereka dengan senyuman yang ia paksakan tegak. Tangannya yang melambai terasa seberat timah hitam. Jantungnya berdentam dalam kepedihan retrospeksi yang menyergap kejam. Para santri itu tersenyum riang membayangkan pesantren mereka selamat dari kebangkrutan, membayangkan beasiswa mereka tetap mengalir dari hasil pabrik Sebangau. Mereka tidak pernah tahu bahwa empat malam lalu di tepi Sungai Kahayan, pabrik itu bukan diselamatkan oleh kelihaian tanda tangan kontrak di ruang ber-AC.

Ingatan Bara terlempar ke malam jahanam itu. Bau gas klorin yang mencekik napas, jerit sirine darurat di antara kobaran api sabotase pipa fraksinasi, dan tubuhnya yang terhimpit tiang reaktor. Ketika semua teknisi melarikan diri, sosok bertubuh ringkih dengan jas lab terbalut jilbab itulah yang menerobos kabut racun. Camilla memutar katup pengaman manual lima puluh kilogram dengan telapak tangan melepuh, menahan semburan zat pemati saraf demi mencegah tangki utama meledak dan membantai empat ratus keluarga santri buruh. Camilla keluar dari ruangan itu bukan sebagai pemenang, melainkan dengan paru-paru tersedak busa beracun, muntah darah di atas tanah gambut basah.

"Tolong naikkan kacanya, Mas Bara," bisik Camilla lirih. Gadis itu menekan batuk keringnya sekuat tenaga agar tak terdengar keluar. "Mereka tak boleh melihat mata Mas Bara berair. Seorang pemimpin tak boleh terlihat gentar saat pasukannya merayakan kemenangan."

Bara menelan ludah yang terasa sepahit empedu. Ia menekan tombol jendela, menutup riuh sorak-sorai di luar. Di dalam kabin yang kedap, napas Camilla terdengar pendek dan memberat. Tangan Bara mencengkeram kemudi hingga buku jarinya memutih. Kemenangan ini adalah kepalsuan yang terlalu mahal harganya. Dan di hadapan abahnya nanti, kepalsuan itu harus ia bedah dengan pengakuan paling berdarah.


❖ ❖ ❖


Bagian 02 : Kepulangan Camilla ke Rumah Umi Salamah

Latar : Teras Rumah Keluarga Umi Salamah (2 Km dari Ndalem Pesantren) | Sore temaram | 17.15 WIB

⚜

Innova itu berbelok ke jalan setapak tanah padat membelah rimbun kebun tebu dan rumpun bambu ori. Dua kilometer dari pusat pesantren, rumah panggung berdinding jati tua berlantai terakota merah berdiri tenang di balik rimbunnya kemuning mekar. Aroma bunga menyambut derak roda mobil yang berhenti di pelataran berpasir putih.

Pintu berukir semanggi terbuka. Sosok wanita paruh baya bertubuh ramping dengan mukena terusan putih melangkah ke beranda: Umi Salamah. Di wajahnya yang diukir ketabahan janda ulama, sepasang mata teduh itu menahan tangis rindu sejak putrinya pamit bertaruh nyawa di tanah seberang.

Bara turun membukakan pintu. Ketika kaki Camilla menyentuh tanah, tubuhnya goyah. Bara secara naluriah mengulurkan tangan memapah, namun Camilla dengan kesadaran syariat menarik sikunya ke belakang, menolak bersentuhan sembari melempar tatapan mata yang menyiratkan: 'Bukan di sini, Mas. Jagalah kehormatanmu di depan ibuku.'

"Umi..." suara Camilla bergetar sehalus dawai.

Umi Salamah menuruni undakan terakota tanpa alas kaki, merengkuh tubuh putrinya ke dalam dekapan erat. Air mata rindu tumpah membasahi kain jilbab abu-abu Camilla. Aroma minyak mawar khas sang ibu bercampur dengan hawa dingin rumah kayu.

"Alhamdulillah ya Allah... permata hatiku pulang..." isak Umi Salamah. "Tiap malam Umi tak bisa memejamkan mata saat angin selatan bertiup kencang, takut tanah Kalimantan menelanmu, Nduk..."

Lihat selengkapnya