Cinta di Ufuk Khatulistiwa

Amrullah Ibrahim
Chapter #38

4 Mata Bersama Kiyai

Kutipan Dialog Emas Sang Kiyai

"Bara, anakku... abah mengutusmu ke rimba Borneo bukan hanya untuk membetulkan ketel uap pabrik sawit, tapi untuk memastikan apakah hatimu mampu mengenali bidadari yang menjaga kehormatan di tanah sunyi. Pilihanmu tepat, Le." — K.H. Qomaruddin Al Quthuz

❖ ── ✦ ── ❖  

Malam telah melipat bising pondok pesantren ke dalam senyap yang kudus. Di luar jendela berkusen jati tua ndalem, gerimis sisa ba'da Isya masih mengetuk-ngetuk genteng tanah liat dengan ritme lambat dan konstan, meluruhkan aroma tanah basah yang menyelinap lewat celah ventilasi berukir kaligrafi kufi. Di dalam perpustakaan pribadi seluas enam kali delapan meter itu, hening terasa begitu padat—sebuah keheningan yang memiliki bobot, menindih pundak Bara Kembara hingga tulang selangkanya ngilu.

Aroma ruangan ini tak pernah berubah sejak Bara masih mengenakan sarung cungklang dan mengeja Jurumiyyah dua belas tahun silam: perpaduan pekat antara kertas-kertas kitab kuning kuno bersampul tebal, minyak gaharu yang menguap dari tungku tembaga kecil di sudut rak, serta semerbak kayu cendana dari tasbih koka yang melingkar di atas meja rehal. Ribuan jilid kitab turats berjajar rapat hingga menyentuh langit-langit—dari syarah Ihya Ulumuddin, Fathul Mu'in, hingga tafsir al-Qurthubi—seolah menjadi saksi bisu ribuan malam perenungan para leluhur darah biru pesantren. Namun malam ini, ribuan jilid tebal itu mendadak menjelma menjadi barisan hakim yang menatap Bara dengan tatapan menelisik.

Bara duduk bersila di atas karpet permadani Persia merah tua bermotif bunga kismis yang serat wolnya mulai menipis. Kedua telapak tangannya bertumpu kaku di atas paha yang berbalut sarung tenun sutra hitam. Otot-otot punggungnya menegang bagai kawat busur panah yang ditarik maksimal. Setiap embusan napasnya tertahan di kerongkongan, gentar jika desah paru-parunya merusak kesakralan ruang di mana fatwa-fatwa penting yang menggerakkan puluhan ribu umat kerap dilahirkan.

Tepat dua meter di hadapannya, dipisahkan oleh sebuah meja dampar bundar berkayu jati ulin Kalimantan, duduklah figur yang paling ia segani di muka bumi: K.H. Qomaruddin Al Quthuz. Sang kiyai karismatik yang kini telah menginjak usia enam puluh dua tahun itu tampak begitu teduh dalam balutan gamis katun putih gading dan sorban hijau zamrud yang tersampir longgar di pundak kirinya. Jenggot putihnya yang terawat rapi membiaskan wibawa seorang alim yang telah menuntaskan nafsu dunianya di altar riyadhoh puluhan tahun.


❖ ❖ ❖ 


Di atas meja dampar yang permukaannya licin mengilap, tergeletak selembar kertas bergaris yang ujung-ujungnya telah melengkung dan menguning karena kelembapan hutan tropis. Kertas itu tidak asing bagi Bara. Sudut matanya berdenyut menyadari bahwa itu adalah surat yang ia tulis dengan tangan gemetar di pondok kayu berdinding seng dekat muara Sungai Barito, tiga pekan sebelum ia dipanggil pulang ke tanah Jawa. Surat yang berlumur debu pabrik, keringat dingin, dan getaran rasa yang selama ini terkunci rapat di balik palung dadanya.


Jemari Sang Kiyai yang kurus namun kokoh, dengan cincin batu pirus urat emas di jari manis kanannya, perlahan menyusuri baris-baris tulisan tangan Bara. Gerakan jemari itu begitu pelan, nyaris menyerupai belaian seorang bapak yang tengah membaca kembali memori masa kecil buah hatinya. Namun bagi Bara, setiap gesekan kulit sang ayahanda pada kertas itu terasa laksana lecutan cambuk psikologis yang mencabik-cabik ketenangannya.

"Bara..." Suara K.H. Qomaruddin memecah keheningan. Nadanya tidak tinggi, bahkan cenderung pelan dan berat, namun bergaung dengan ketukan resonansi batin yang menggetarkan dada anak muda itu.

"Dalem, Abah," sahut Bara lirih. Suaranya tercekat di dasar tenggorokan, sedemikian parau hingga ia sendiri nyaris tak mengenali vokalnya. Matanya tetap tertumbuk lurus pada motif permadani di bawah lututnya, tak berani lancang menatap bola mata sang ayah yang terkenal mampu menembus selubung kepura-puraan santri manapun.

"Tulisanmu di surat ini tidak serapi biasanya saat kau mengkaji Alfiyyah Ibnu Malik," ujar Sang Kiyai dengan bibir yang melengkungkan senyum misterius di balik helai jenggotnya. "Huruf mim dan nun-mu banyak yang terputus di tengah jalan. Tarikan garisnya bergetar, seolah pena yang kau pegang tengah bersaing dengan detak jantung yang melonjak liar. Apa yang sebenarnya sedang bertarung di dalam dadamu ketika tinta ini kau tumpahkan di tepi hutan Borneo tempo hari, Le?"

Pertanyaan itu menusuk tepat ke ulu hati. Bara menelan saliva yang terasa sepahit getah mahoni. Di balik ketundukan fisiknya, sebuah proyektor kenangan berputar liar tanpa kendali di ruang imajinasinya.


❖ ❖ ❖ 


Pikirannya terlempar mundur dua bulan ke belakang, ke tengah kepungan hutan sawit pedalaman Kotawaringin Timur. Udara di sana tidak sejuk seperti di lereng pesantren ini; udara di sana berbau karat besi tua, minyak pelumas mendidih, dan belerang pekat yang menguap dari tungku ketel uap pabrik pengolahan kelapa sawit milik koperasi umat. Waktu itu, ketel uap pipa air nomor tiga bertekanan tiga puluh bar mengalami kebocoran katup pengaman. Satu desah kelalaian teknis saja sudah cukup untuk meledakkan seluruh blok penyulingan dan merenggut nyawa puluhan buruh lokal.

Bara, yang dikirim sang ayah berbekal ijazah teknik mesin dan doa restu pesantren, merayap masuk ke celah turbin yang membara dengan obeng baja dan kacamata las. Kulit lengannya melepuh tersengat uap panas bertekanan tinggi. Di tengah desis maut yang memekakkan telinga dan lolongan kepanikan para pekerja, hanya ada satu sosok yang tidak lari meninggalkan pos darurat: Camilla.

Gadis itu bukan insinyur, melainkan relawan medis dan pengajar anak-anak buruh pedalaman yang ditugaskan yayasan sosial. Namun saat semua pria mundur ketakutan membayangkan semburan uap membakar kulit, Camilla berdiri di ambang pintu turbin dengan basahan handuk es, kotak pertolongan pertama, dan ketenangan spiritual yang ganjil. Jilbab birunya berlepotan jelaga arang, namun sepasang bola matanya di balik kacamata pelindung tetap bening tak bergeming, memantulkan ketabahan yang tak pernah Bara jumpai pada gadis manapun di kota besar.

Gadis itu tidak menjerit. Ia tidak histeris. Ketika Bara berhasil memutar katup pengunci dengan sisa tenaga terakhir lalu roboh tersengal-sengal di lantai semen yang licin oleh oli, Camilla menyeka keningnya dengan kain kasa dingin tanpa menyentuh kulit yang bukan haknya, menjaga batas adab yang ketat sembari berbisik dengan suara setegar karang: 'Bertahanlah, Mas Bara. Demi Allah, tugas belum selesai.'

Sejak detik itulah, sebuah benih mahabbah yang asing tumbuh di retakan dada Bara. Bukan cinta picisan yang lahir dari rayuan asmara atau pandangan mata yang liar di sudut jalan, melainkan sebuah penghormatan sakral terhadap jiwa yang tangguh, seorang perempuan yang mampu menggabungkan kepatuhan syariat dengan keberanian menatap maut di tengah belantara yang ganas.


❖ ❖ ❖ 


Namun kepulangan ke Jawa justru membungkus rasa kagum itu dengan rasa bersalah yang mencekik leher. Siapakah dirinya yang berani memikirkan pernikahan di saat amanah pesantren begitu membentang luas di hadapannya? Bara adalah putra tunggal K.H. Qomaruddin Al Quthuz, pewaris darah kepemimpinan Pesantren Al-Quthuziyah yang menampung lebih dari tiga ribu santri kalong dan mukim. Di pundaknya, para sepuh dan alumni telah menaruh ekspektasi agung: ia digadang-gadang menyunting putri seorang kiyai sepuh dari Jawa Timur demi merajut kembali aliansi trah pesantren Nusantara.

Lihat selengkapnya