Cinta di Ufuk Khatulistiwa

Amrullah Ibrahim
Chapter #39

Musyawarah Keluarga Ndalem

Kutipan Dialog Emas:"Adat yang bertentangan dengan dalil harus diluruskan dengan hikmah. Menikahi sepupu adalah halal dan penuh keberkahan silaturahmi, sebagaimana sunnah yang dicontohkan sebaik-baik manusia."

❖ ── ✦ ── ❖


Bagian 01 : Denting Jam Kuno & Kerikil Tradisi

⚜

Jarum jam dinding kayu jati berornamen bandul tembaga di ruang tengah Ndalem berdentang sepuluh kali. Setiap dentingannya bergaung berat, menyayat keheningan ruang pertemuan yang pagi itu disesaki oleh para pemangku dzurriyah Pesantren Baitul Quthuz. Asap tipis dari dupa kayu cendana berpilin pelan di dekat kusen gebyok berukir sulur lung-lungan Jepara, bertarung dengan aroma seduhan kopi jahe rempah yang baru saja diletakkan di atas meja panjang berkaki pendek. Cahaya matahari pagi yang condong dari sela-sela kisi jendela kayu menimpa lantai terakota merah tua, menciptakan garis-garis bayangan yang mirip jeruji penjara tak kasatmata.

Di sudut dekat pintu penghubung serambi dalam, Bara Kembara bersimpuh dengan lutut merapat ke lantai anyaman pandan. Jemari tangannya mengepal di atas kain sarung lurik tenun Tuban yang dikenakannya, menekan getaran halus yang merayap dari pergelangan tangan hingga ke tulang belikatnya. Detak jantungnya bertalu liar seperti derap telapak kuda pacu di padang bebatuan. Bara tahu, ruangan ini adalah mahkamah tak bertulis bagi masa depannya. Di hadapannya, sepuluh orang sesepuh dzurriyah—para paman, bibi, dan sesepuh kerabat berdarah biru pesantren—duduk bersila membentuk setengah lingkaran yang kaku, memancarkan aura wibawa yang dingin sekaligus menghakimi.

Bara menundukkan pandangannya ke lantai kayu jati, namun telinganya menangkap setiap tarikan napas berat yang bersahut-sahutan di ruangan itu. Bayangan lima belas tahun silam mendadak melintas di benaknya bagai sabetan kilat hitam: wajah ayahnya yang kuyu dan bermata merah, menyeret koper seng usang di bawah rintik hujan malam hari, terusir dari halaman ndalem ini karena menentang kehendak sesepuh demi membela prinsip harga dirinya. Akankah sejarah terkutuk itu terulang padanya hari ini? Apakah cintanya yang tulus kepada Khumaira—gadis santri berhati bening yang juga merupakan anak perempuan dari adik kandung mendiang paman sepuhnya—akan dipenggal tepat di lantai yang sama, di atas altar prasangka yang diwariskan turun-temurun?

Nyai Hajjah Fatimah duduk anggun di sisi kiri mimbar kecil, mengenakan kerudung sulam sutra putih tulang yang membingkai paras teduhnya. Meski tatapan matanya memancarkan keibuan yang menenangkan para hadirin, jemarinya yang lentik menggenggam erat ujung kain jarik batiknya. Ada keresahan tersembunyi yang ditahannya dengan segenap kewarasan batin. Nyai Fatimah melirik suaminya, lalu beralih menatap Bara dengan sorot iba yang sarat rahasia masa silam. Hanya Nyai Fatimah yang tahu beban apa yang sesungguhnya sedang dipertaruhkan di ruangan ini.

Keheningan yang mencekik itu akhirnya pecah ketika Kyai Warson, adik sepupu mendiang pendiri pondok yang paling dituakan di antara trah kerabat, meletakkan cangkir tembaganya ke lepek dengan denting yang sengaja dikeraskan. Bunyinya bergetar pendek, cukup untuk membuat seluruh pasang mata tertuju pada wajah tuanya yang dipenuhi guratan usia dan kerutan kening yang dalam.

"Qomaruddin," suara Kyai Warson serak namun berwibawa, sarat ketegasan orang tua yang tak terbiasa dibantah oleh generasi di bawahnya. Sorot matanya yang tajam di balik kacamata berbingkai tanduk menatap lurus ke arah K.H. Qomaruddin Al Quthuz. "Keluarga besar berkumpul di ndalem ini bukan semata-mata untuk mencicipi jenang dodol dan kopi jahe. Kami mendengar desas-desus yang kian santer di kalangan santri dan masyarakat desa seberang kali. Bara Kembara berniat melamar Khumaira. Apa benar rencana ini sudah kamu restui secara sepihak?"

Kyai Qomaruddin tidak langsung menyahut. Pengasuh pondok yang bersahaja itu hanya menggeser butiran tasbih kayu galih kelor di tangan kirinya dengan tenang, seolah setiap butirnya adalah jeda kebijaksanaan yang menepis ketergesaan nafsu amarah. "Segala niat baik keluarga, Kangjeng Paman Warson, selayaknya memang kita dudukkan bersama di ruang musyawarah ini dengan hati yang jernih dan niat mencari ridha Allah," jawab Kiai Qomaruddin lembut, suaranya laksana aliran air sungai jernih di tengah sahara bebatuan.

"Jernih katamu?" Kyai Warson mendengus pendek, alis putihnya bertaut rapat. Tangannya yang keriput menepuk pelan lututnya sendiri. "Sejak zaman Mbah Buyut Hasan Besari babat alas tanah pesantren ini, trah kita pantang melanggar pakem leluhur! Bara dan Khumaira itu sanak dekat—sepupu tunggal kakek, anak dari dua saudara sepupu yang sekandung nasab. Dalam adat Jawa kita, ini namanya ngalap sanak! Wong Jowo ngerti wewaler, Qomar. Menikahi sanak famili dekat itu pamali, tabu! Konon, pernikahan macam itu bikin rezeki seret, anak-pinak rentan pagebluk, dan menutup pintu paseduluran dengan pihak luar. Mengapa kamu membiarkan Bara memancing petaka adat yang bisa mencoreng marwah pesantren kita di mata sesepuh kampung?"

Bisik-bisik lirih seketika menjalar di antara para bibi dan paman yang duduk di barisan belakang. Bibi Rodhiyah, kerabat sepuh dari jalur barat, mengangguk-angguk kecil membenarkan ucapan Kyai Warson. Ketakutan akan mitos tumpes kelor dan sanksi sosial adat seakan bangkit menjadi raksasa bayang-bayang yang mengepung sudut-sudut ndalem.

Dada Bara Kembara berdenyut nyeri seakan dihantam gada godam. Napasnya tercekat di tenggorokan. Kata-kata Kyai Warson bukan sekadar keraguan tradisi; itu adalah vonis mati bagi impian sucinya. Dalam dialog batinnya yang kalut, Bara menjerit tanpa suara: Mengapa manusia begitu mudah memperbudak diri pada ketakutan tak bertuan? Apakah cinta yang halal dan menjaga kehormatan harus selalu dikalahkan oleh dongeng masa lalu yang tak berpijak pada syariat Rabbul 'Alamin? Jika cinta ini terlarang hanya karena darah kami bertaut pada satu kakek yang sama, mengapa Allah meniupkan rasa condong yang begitu murni di relung jiwaku?

Bara menatap Kiai Qomaruddin dengan mata berkaca-kaca, memohon perlindungan rohani dari sang guru yang telah menjadi suluh hidupnya di tengah belantara takdir.


❖ ❖ ❖


Bagian 02 : Uraian Dalil Kitab Kuning Sang Ulama

⚜

Melihat ketegangan yang kian menggelegak di dalam dada para kerabat, K.H. Qomaruddin Al Quthuz menghentikan putaran tasbihnya. Beliau meletakkannya dengan takzim di atas meja kecil di samping kitab-kitab tebal bersampul kulit marun yang telah dipersiapkan sejak fajar. Wajah sang kiyai tidak menunjukkan setitik pun kegusaran; sebaliknya, senyum teduh terbit di bibirnya, memancarkan ketenangan seorang nahkoda ulung yang hafal betul watak karang di tengah badai samudra.

"Bara," suara Kiai Qomaruddin memecah keheningan dengan wibawa yang meresap ke sanubari, "ambilkan kitab Tuhfah dan Fathul Wahhab di samping rak jati itu. Bawa kemari, Nak."

Lihat selengkapnya