Cinta di Ufuk Khatulistiwa

Amrullah Ibrahim
Chapter #40

Rombongan Khitbah Resmi

Bagian 01 : Iring-Iringan Seserahan Bernuansa Melati

⚜

Matahari Ahad pagi merambat naik di atas pucuk-pucuk pohon trembesi tua, membiaskan cahaya keemasan yang memandikan jalanan berbatu menuju pekarangan rumah Umi Salamah. Udara pagi yang semestinya sejuk itu justru terasa pengap di tenggorokan Bara Kembara. Semerbak wangi kuncup melati basah yang dipetik sebelum subuh mengepung indra penciumannya—aroma yang begitu suci, begitu bersih, namun baginya terasa menusuk tajam laksana belati perak yang siap menuntut pembalasan.

Bara berdiri kaku di depan deretan mobil keluarga Ndalem Pesantren Luhur al-Hidayah. Setelan jas koko berbahan sutra abu-abu muda yang membungkus pundak tegapnya jatuh dengan siluet sempurna, dipadukan dengan sarung sutra tenun Samarinda bermotif lurik tembaga gelap dan peci hitam beludru tinggi yang memancarkan wibawa ningrat pesantren. Namun, di balik lipatan kain sutra yang halus dingin itu, jantungnya berdegup tak beraturan, menghantam tulang rusuknya dengan dentuman liar yang memekakkan telinga.

Di saku dada sebelah kiri jas kokonya, tepat di atas jantung yang meronta, tersimpan sebuah benda kecil yang terbungkus kain beludru hitam: sebutir tasbih ambar tua yang permukaannya retak melintang. Benda itu bukan sekadar kenang-kenangan. Benda itu adalah kutukan yang ia bawa pulang dari makam Maulana Rumi di Konya, Turki.

"Tegakkan kepalamu, Bara," bisik K.H. Qomaruddin lembut, namun setiap suku kata sang ayah mengandung bobot wibawa yang mampu menundukkan ribuan santri. Kyai kharismatik itu mengenakan jubah putih gading berhias surban kasmir bersulam benang perak. Tangannya yang dingin dan keriput menepuk pundak Bara. "Hari ini engkau menunaikan separuh agamamu. Langkah seorang lelaki yang hendak meminang tidak boleh diseret oleh keraguan. Di balik pintu itu, masa depan Ndalem dan kehormatan darah kita dipertaruhkan."

Kehormatan darah kita? Atau tabir penutup dosa masa lalu, Abah? jerit batin Bara tertahan. Bibirnya terkatup rapat, hanya sanggup mengangguk takzim sembari menundukkan pandangan.

Di belakang mereka, enam santri senior berpakaian serba putih berbaris rapi dengan langkah khidmat. Kedua tangan mereka menopang baki-baki kayu jati berukir sulur daun krisan khas Jepara, dipercantik dengan lilitan pita sutra warna zamrud dan hamparan kelopak melati segar.

Baki pertama memuat Mushaf Al-Qur’an bertatahkan kulit unta dengan ukiran kaligrafi emas murni di setiap tepi lembarnya. Baki kedua membentangkan kain batik tulis kuno motif sido asih yang digarap selama sembilan bulan purnama, menyimbolkan doa agar kedua mempelai senantiasa saling mengasihi dalam naungan berkah Ilahi. Baki ketiga memamerkan seperangkat perhiasan emas putih bertatahkan berlian solitaire yang berkilau dingin. Dan pada baki keempat serta kelima, tersusun rapi toples-toples kristal berisi kurma ajwa Madinah serta manisan baklava pistachio khas Beyoğlu yang Bara bawa langsung dari gang-gang sempit Konstantinopel—manisan yang dulu menjadi saksi bisu air mata kesepiannya saat menuntut ilmu di negeri seberang lautan.

Bara menatap baki-baki hantaran itu dengan rasa ngilu yang merayap di tengkuknya. Retrospeksi meluncur deras tanpa ampun ke dalam benaknya, membawanya kembali ke sebuah malam bersalju di pelataran Masjid Süleymaniye, tiga tahun silam.

Malam itu, seorang syekh tua berjanggut salju dari garis keturunan ulama Nusantara menyerahkan sebuah amplop cokelat bersegel lilin merah pekat kepada Bara. Di dalamnya terdapat surat lusuh tanpa nama pengirim, membeberkan kronik berdarah dari tragedi kebakaran Maktabah Induk Pesantren dua puluh tiga tahun silam—tragedi yang menewaskan Kyai Syihabuddin, paman kandungnya sendiri, saudara kembar K.H. Qomaruddin, sekaligus ayah biologis Camilla Samairah. Surat itu menorehkan kebenaran yang mengerikan: kebakaran itu bukanlah takdir malang korsleting listrik, melainkan sabotase perebutan kepemimpinan wakaf tanah pesantren. Dan cincin stempel perak yang melingkar di jari telunjuk Kyai Qomaruddin saat ini semestinya adalah hak milik garis keturunan Syihabuddin.

Sejak malam itu, tatapan Bara pada sosok ayahnya berubah menjadi jurang kecurigaan yang menyiksa. Mengapa sang ayah begitu gigih memaksanya mengkhitbah Camilla sejak Bara menginjakkan kaki kembali di tanah air? Apakah ini murni karena kecintaan pada putri mendiang saudaranya yang yatim sejak belia, ataukah sebuah rekayasa politik dinasti demi menyatukan kembali sertifikat wakaf yang terpecah, agar aib masa silam selamanya terkubur di bawah ranjang pengantin?

"Bara, bismillah..." bisik Nyai Hajjah Fatimah, ibunya, seraya merapikan letak kerah koko putranya dengan tatapan mata yang hangat namun berkaca-kaca. Ada getar halus di jemari sang ibu—getaran cemas seorang perempuan yang tahu bahwa kedamaian rumah tangga mereka berdiri di atas tanah yang rapuh.

"Bismillah, Umi," sahut Bara dengan suara berat yang ia paksakan stabil.

Iring-iringan mulai bergerak melintasi gapura bambu berselubung janur kuning. Suara gemerisik kerikil di bawah sepatu kulitnya beradu dengan deru degup jantungnya sendiri. Rumah panggung berarsitektur kolonial-Jawa milik Umi Salamah berdiri anggun di hadapan mereka, dinaungi pohon cempaka dan bougenville ungu yang berguguran di atas genteng tanah liat. Halamannya disapu bersih, dan di teras depan, deretan vas tanah liat berisi untaian melati menyebarkan aroma yang semakin menusuk, seolah menyambut mereka ke sebuah pelataran mahkamah gaib.


❖ ❖ ❖ 


Bagian 02 : Sambutan Hangat dan Gelas Air Zam-Zam

⚜

Daun pintu kayu jati ganda berukir kalam kaligrafi ayat kursi terbuka lebar. Umi Salamah berdiri di ambang pintu didampingi dua paman sepuh Camilla. Perempuan paruh baya itu tampak bersahaja namun memancarkan keagungan ruhani yang menundukkan hati. Ia mengenakan gamis sutra kelabu tua dengan jilbab lebar berwarna putih bersih tanpa perhiasan mencolok, kecuali sepasang mata teduh yang menyimpan lapisan duka tak berdasar.

Begitu rombongan Ndalem menaiki anak tangga teras, senyum Umi Salamah mengembang—senyum seorang ibu yang begitu lembut hingga sebutir air mata luruh membasahi pipinya yang mulai berkerut.

"Ahlan wa sahlan... Marhaban bikum, Kyai, Nyai... Mas Bara," suara Umi Salamah bergetar menahan luapan emosi.

Nyai Hajjah Fatimah langsung maju memeluk saudara iparnya itu erat-erat. Kedua wanita sepuh itu terisak pelan di bahu masing-masing, pelukan dua jiwa yang telah berbagi duka keluarga selama puluhan tahun, sementara K.H. Qomaruddin menundukkan kepala seraya melafalkan tahmid dalam nada rendah yang bergetar.

"Alhamdulillah, Ya Allah... Segala puji bagi-Mu yang masih memanjangkan umur hamba untuk menyaksikan hari yang dijanjikan ini," bisik Umi Salamah seraya menyeka air matanya dengan ujung kerudung.

Rombongan dipersilakan masuk ke ruang tamu utama yang berlantai tegel abu-abu klasik. Ruangan itu luas, sejuk, dan wangi dupa cendana samar berpadu dengan melati basah. Tidak ada sofa mewah modern; para tamu duduk bersila di atas karpet Persia tebal berwarna merah tua yang digelar mengitari meja kayu jati rendah.

Di atas meja, telah tersaji gelas-gelas kristal berkaki pendek berisi air zam-zam dingin yang didatangkan langsung dari Makkah, berdampingan dengan piring-piring porselen kuno berisi kue-kue basah tradisional: lapis legit, klepon bertabur kelapa parut wangi pandan, dan serabi kinca kental.

Umi Salamah mempersilakan para tamu dengan gestur tangan yang begitu halus. "Minumlah air zam-zam ini, Kangmas Qomar, Mbakyu Fatimah. Semoga kesejukan mata air surga ini membasuh segala lelah dan menyucikan niat kita yang hadir di majelis ini."

Bara meraih gelas kristal itu dengan tangan yang gemetar halus. Ketika cairan dingin zam-zam itu menyentuh kerongkongannya, dinginnya tidak mampu memadamkan bara panas yang membakar lambungnya. Dari sudut matanya, ia melihat sang ayah menatap Umi Salamah dengan intensitas yang aneh—campuran antara keharuan yang melimpah dan bayangan rasa bersalah yang disembunyikan di balik senyuman seorang kyai karismatik.

Setelah basmalah dan shalawat dilantunkan bersama oleh para sesepuh yang hadir, suasana ruangan perlahan menghening. Ketegangan sakral merayap memenuhi setiap sudut ruang tamu, menuntut kata-kata yang akan menentukan garis nasib dua keluarga.

K.H. Qomaruddin berdeham pelan. Wajahnya yang agung mengalihkan pandangan lurus ke arah Umi Salamah, lalu menatap ke arah tirai sutra hijau zamrud di sudut ruangan yang memisahkan ruang tamu dengan lorong kamar dalam.

"Adinda Salamah yang kami muliakan," suara K.H. Qomaruddin mengalun berat, berirama mantap khas pembacaan khutbah nikah, namun sarat dengan getaran jiwa yang pekat. "Bismillahirrohmanirrohim. Kehadiran kami sekeluarga dari Ndalem Pesantren Luhur al-Hidayah pada pagi Ahad yang penuh berkah ini bukanlah untuk sekadar bersilaturahmi biasa. Sungguh, kami datang bukan sekadar membawa hantaran duniawi, melainkan membawa niat suci putra kami, Bara Kembara, untuk memohon izin menjadi imam dan pelindung bagi putri tercinta, Camilla Samairah."

Hening meremangkan ruangan. Kalimat emas itu menggantung di udara laksana perjanjian yang diukir di atas batu karang.

Lihat selengkapnya