⚜❖ ── ✦ ── ❖ ❖ ❖ ❖
Bab 41: Untaian Pantun, Cincin Pengikat, dan Senyum yang Sempurna
Latar: Ruang Utama Kediaman Umi Salamah, Kudus Kulon (Siang hari terik, pukul 11.00 WIB)
Matahari tepat bertengger tanpa ampun di pucuk langit Kudus Kulon, menumpahkan lelehan terik yang memanggang genting-genting tanah liat kuno kediaman Umi Salamah. Di dalam ruang utama yang dipagari dinding gebyok jati setebal delapan sentimeter berukir motif lung-lungan dan bunga teratai keraton, udara terasa laksana perapian tertutup yang dijejali serbuk dupa gaharu dan wangi kuncup melati basah. Jam dinding kuno berbandul tembaga buatan Jerman di sudut barat terus mengayunkan detik demi detik dengan suara ketukan logam yang angkuh dan monoton. Setiap dentangnya terdengar laksana palu godam tak kasat mata yang menghantam tempurung kepala Bara Kembara. Tiga puluh pasang mata dari para sesepuh berbusana sarung sutra dan jas tutup duduk bersila kaku di atas permadani Isfahan tua, namun keheningan yang merajai ruangan itu begitu pekat hingga desau napas dan gesekan kain jarik pun terdengar laksana bisikan konspirasi di lorong pekuburan.
Bara membetulkan letak kopiah beludru hitam bermerek Istimewa dengan jemari yang diam-diam dingin dan basah oleh keringat beku. Jas beskap hitam bermotif kembang cengkih keemasan yang ia kenakan mendadak terasa menyekap laksana baju zirah berkarat. Serat-serat kain wolnya seakan menyempit, mencekik trakeanya setiap kali ia mencoba menarik oksigen yang terasa menipis di ruangan itu. Pikirannya terseret mundur secara liar menuju lorong ingatan tujuh tahun silam, di tepi tebing Sungai Gelis saat petang berdarah meredupkan cakrawala. Bayangan sesosok lelaki paruh baya yang rebah bersimbah darah di antara bebatuan kali yang licin kembali menusuk benaknya tanpa belas kasihan. Tatapan mata pria yang meregang nyawa itu—sorot mata tajam Ahmad Syuhada—terpahat persis pada potret sepia berbingkai kayu jati kusam yang dipajang tinggi di dinding timur ruang tamu ini. Bara menelan salivanya yang mendadak terasa pahit bagai getah bidara. 'Dosa itu tidak pernah membusuk di dalam tanah,' batinnya berbisik pedih. 'Ia hanya berganti nama menjadi sebuah upacara adat yang penuh basa-basi santun.'
Tepat di sebelah kanan Bara, duduk ibundanya, Nyai Hajjah Fatimah. Punggung wanita paruh baya itu tegak lurus laksana pilar batu masjid Menara, tak menunjukkan sedikit pun kerutan rapuh kendati usianya telah menapak enam puluh tahun. Jarinya yang lentik namun berotot terus memutar butiran tasbih kayu cendana tua warisan pesantren lereng Muria. Hanya Bara yang tahu bahwa putaran tasbih ibundanya saat ini tiga kali lebih kencang dari biasanya—sebuah pertanda biologis tak terbantahkan bahwa sang harimau betina pesantren sedang mengendus aroma bahaya di sekelilingnya. Sorot mata Nyai Fatimah yang setajam belati sesekali menusuk ke arah pintu kayu kamar timur yang masih tertutup rapat di balik tirai beledu zamrud bersulam benang perak murni.
[Untaian Pantun - Kiyai Qomaruddin]
Kiyai Qomaruddin, tokoh sepuh yang duduk beralas bantal sutra di tengah majelis selaku juru bicara pihak laki-laki, berdehem panjang. Suara seraknya yang berat berwibawa seketika membelah ketegangan yang merambati dinding-dinding papan jati. Dengan senyum diplomatis khas ningrat pesisir, beliau melantunkan seuntai pantun adat pembuka yang sarat makna simbolis:
---
'Bukan rotan sembarang rotan,
Rotan dianyam di lereng Muria.
Bukan datang sembarang datang,
Datang menyunting permata mulia.
---
Bunga cempaka harum mewangi,
Tumbuh mekar di taman santri.
Niat tulus sudah terpatri,
Memohon rida bidadari negeri.'
❖ ❖ ❖
Di seberang meja lamaran, Paman Dzulkifli selaku wali nasab Camilla menyambut untaian pantun itu dengan senyuman yang teramat tipis—senyuman yang tak menyentuh kelopak matanya yang cekung dan dingin. Guratan urat di pelipisnya berkedut halus saat ia membetulkan lipatan sarung Samarinda hitamnya, lalu menjawab dengan intonasi yang mendesing laksana gesekan pedang di sarung tembaga:
---
'Bilah keris berhulu ukir,
Disimpan rapat di balik peti.
Jika janji telah terukir,
Jangan sampai melukai hati.
---
Air Sungai Gelis mengalir deras,
Membawa pasir berlumur cuka.
Jangan meminang bermodal emas,
Bila di dada menyimpan luka.'