Kutipan Emas Ayahanda:"Istrimu bukan bawahan di pabrikmu, dan bukan pula murid di pesantrenmu, Bara. Ia adalah belahan rusukmu. Cintailah ia dengan ketaatan, bukan dengan kekuasaan."
❖ ── ✦ ── ❖
Bagian 01 : Secangkir Kopi Gaharu dan Petuah Sang Ayahanda
Pukul 22.45 WIB — Asap Gaharu, Desau Angin Malam, dan Beban Mahligai Suci
⚜
Malam itu, dingin turun dari lereng pegunungan laksana tirai sutra basah yang menyelimuti atap sirap kayu ulin Ndalem Pesantren Salafiyah Al-Quthuz. Di serambi belakang yang beralaskan papan jati tebal berpolitur temaram, Bara Kembara duduk bersila dengan jemari yang saling bertaut erat di balik lipatan sarung sutra Bugis bermotif gerimis. Detak jam dinding kuno berbandul kuningan terdengar begitu pongah, membelah jeda antara desau angin di rumpun bambu ori dan kepulan uap tipis dari dua cangkir porselen kusam bermotif naga hijau.
Aroma kopi tubruk robusta yang diseduh dengan serpihan kayu gaharu dan sejumput kapulaga menyeruak ke udara lembap, menyengat hidung Bara dengan ketenangan yang ganjil. Namun, kehangatan itu gagal menembus lapisan dingin yang mencengkeram tengkuknya. Besok pagi, tepat saat matahari merekah merah jambu di ufuk timur, ia akan duduk bersimpuh di depan penghulu, mengucapkan lafal perjanjian agung—mitsaqan ghalizha—yang sanggup mengguncang Arsy Ilahi.
"Minumlah selagi panas, Bara," suara berat nan serak itu memecah hening.
K.H. Qomaruddin Al Quthuz tidak segera mengangkat cangkirnya. Jemari sang kiyai yang telah renta, dengan urat-urat biru menonjol tegas laksana akar pohon cemara purba, bergerak perlahan memutar butiran tasbih kayu cendana hitam. Wajahnya yang dihiasi janggut memutih sempurna tampak setenang telaga di pedalaman hutan, namun di balik kelopak matanya yang mulai sayu terkandung sorot ketajaman yang selalu sanggup menelanjangi kepalsuan di dada siapa pun yang menatapnya.
Bara menundukkan pandangannya lebih dalam. Di hadapan ribuan buruh perkebunan kelapa sawit miliknya di pedalaman Riau, ia adalah direktur muda yang bertangan dingin—pria yang mampu menundukkan para spekulan tanah, menegakkan sertifikasi kelestarian lingkungan gambut tanpa kompromi, dan menghadapi ancaman parang pembabat hutan liar tanpa sekejap pun berkedip. Namun di hadapan lelaki tua bersahaja yang malam ini hanya mengenakan surjan lurik cokelat pudar dan kopiah putih tanpa ornamen ini, segala arogansi korporasi dan ketangkasan logika bisnisnya rontok tak berbekas. Di sini, ia hanyalah seorang anak lelaki yang ketakutan melangkah ke rimba tak bertuan bernama pernikahan.
"Abah melihat ombak di matamu," lanjut Kiyai Qomaruddin, suaranya tenang mengalir, seperti desau air wudu di pancuran batu kali. "Kau sudah biasa menundukkan hektaran tanah berawa, membelah lebatnya rimba, dan mengatur ribuan kepala dengan sistem komputerisasimu yang canggih itu. Tetapi besok pagi, kau tidak sedang menandatangani kontrak konsorsium bisnis kelapa sawit, Bara. Kau sedang menyerahkan lehermu kepada sebuah amanah langit."
Bara menelan ludah yang terasa berpasir. "Nyuwun sewu, Abah... ananda merasa... gentar. Semakin dekat fajar menyingsing, semakin ananda merasa tidak layak. Bagaimana jika ananda menzaliminya? Bagaimana jika watak ananda yang keras dan terbiasa memerintah di korporasi justru melukai perasaannya?"
Kiyai Qomaruddin tersenyum samar, sebuah senyuman sarat misteri yang sering membuat para santri senior termenung berhari-hari untuk menafsirkan maknanya. Sang kiyai meraih cangkir kopi gaharu, menyesapnya perlahan dalam tiga tegukan sunah, lalu meletakkannya kembali ke tatakan tembaga tanpa menimbulkan bunyi sekecil apa pun.
"Itulah sebabnya Abah memanggilmu malam ini ke serambi ini, bukan ke ruang tamu formal," ucap sang ayahanda seraya menatap lurus ke dalam manik mata putranya. "Dengarkan baik-baik wasiat abahmu ini, Bara. Simpan ini di dasar hatimu yang paling sunyi, jadikan kompas ketika bahtera rumah tanggamu dihantam badai amarah atau kejenuhan."
Kiyai Qomaruddin menjeda kalimatnya, membiarkan desau angin malam membawa aroma tanah basah meresap ke dalam dada mereka berdua.
"Istrimu bukan bawahan di pabrikmu, dan bukan pula murid di pesantrenmu, Bara. Ia adalah belahan rusukmu. Cintailah ia dengan ketaatan, bukan dengan kekuasaan."
Kalimat itu menghujam jantung Bara laksana anak panah perak. Di kepalanya terlintas kilasan memorinya selama tujuh tahun terakhir di Sumatra—bagaimana ia terbiasa memberi instruksi tegas, menuntut kepatuhan mutlak atas indikator kinerja karyawan, dan menilai segala kegagalan dengan angka-angka penalti yang dingin. Betapa mengerikannya jika insting kekuasaan itu terbawa ke balik bilik peraduan rumah tangga.
"Seorang suami yang menuntut kepatuhan istrinya dengan cambuk arogansi kepemimpinan adalah lelaki yang gagal memahami sirah Nabawiyah," sambung Kiyai Qomaruddin dengan nada berwibawa yang membuat tiang-tiang kayu serambi seolah ikut menyimak. "Rasulullah SAW tidak pernah memukul wanita, tidak pernah mencela masakan, dan beliau menjahit sandalnya sendiri di tengah kesibukan mengurus daulah Madinah. Ketika seorang istri marah atau terluka, tugasmu bukan berdebat memakai dalil fiqih untuk membuktikan bahwa dirimu benar secara hukum. Tugasmu adalah memeluk hatinya, mendengarkan kegelisahannya, dan menundukkan egomu di bawah tapak kakinya."
"Tetapi Abah... bukankah suami adalah pemimpin mutlak?" tanya Bara, suaranya tercekat oleh pergulatan batin antara pemahaman tekstual yang kaku dan hikmah luhur sang ayah.
"Pemimpin dalam Islam adalah khadim—pelayan utama," tegas sang kiyai, matanya menyala dalam kelembutan. "Kepemimpinanmu diuji bukan saat istrimu tersenyum patuh, melainkan saat ia sedang diuji emosinya, saat ia menangis karena letih mengandung anakmu kelak, atau saat pandangannya berbeda dengan pandanganmu. Jangan pernah mengangkat suaramu satu oktaf pun melebihi suaranya. Sebab saat kau meninggikan suara kepada belahan jiwamu, sesungguhnya kau sedang mempermalukan dirimu sendiri di hadapan para malaikat pencatat amal."
❖ ❖ ❖
Bagian 02 : Mencium Kedua Kaki Ayah dan Ibu
Pukul 23.30 WIB — Tangis Penyesalan Masa Muda, Nampan Kuningan, dan Air Mata Ibunda
⚜
Derit halus pintu kayu jati di sudut serambi menyentak lamunan Bara. Dari balik bayang-bayang lorong ndalem yang temaram, sesosok wanita bertubuh mungil melangkah keluar dengan keanggunan yang bersahaja. Nyai Hajjah Fatimah, ibunda Bara, membawa nampan kuningan berisi sepiring jadah ketan bakar dan seteko wedang jahe wangi. Kerudung putih gading yang dikenakannya membingkai wajah teduh yang guratan keriputnya menjadi saksi bisu tirakat dan doa-doa panjang di setiap sepertiga malam terakhir.
Bara segera bangkit hendak menyambut nampan itu, namun sang ibu memberi isyarat lembut dengan gelengan kepala. "Duduklah, Le. Malam ini, biar Ibumu yang melayanimu untuk terakhir kalinya sebagai jejaka."