Detik-detik paling sakral yang membelah keheningan tiga ribu santri. Ketika sebuah jabat tangan bukan sekadar ikatan halal dua raga, melainkan serah-terima tebusan dosa fiktif satu dekade yang siap meledak menjadi badai hukum baru.
❖ ── ✦ ── ❖
Bagian 01 : Dinginnya Marmer Mihrab dan Bayang-Bayang Sumpah
Detik-detik menuju meja akad di hadapan ribuan santri
⚜
Udara pagi di dalam Masjid Jami’ Pondok Pesantren Luhur Al-Quthuz terasa beku kendati matahari bulan Rajab mulai memanjat pucuk-pucuk kubah tembaga. Aroma ronce melati yang menjuntai di tiang-tiang jati berpadu pekat dengan asap dupa gaharu Yaman, menciptakan atmosfer magis yang menusuk langsung ke rongga dada. Ribuan santri berbaju putih duduk bersila rapat dalam keheningan yang menyesakkan, menyerupai lautan kafan yang bersiap menyambut pengadilan akhir zaman.
Di tengah hamparan marmer hijau zamrud yang dingin menusuk hingga ke persendian tulang, Bara Kembara duduk bersimpuh. Beskap putih sutra berpayet perak yang dikenakannya terasa seberat baju zirah baja. Telapak tangannya yang kapalan—jejak nyata dari tujuh tahun membelah belantara kelapa sawit di pedalaman Ketapang—terasa basah oleh keringat dingin. Di hadapannya, sebuah meja jati berukir ayat kursi telah disiapkan, diapit oleh tumpukan berkas dari Kantor Urusan Agama dan sebuah kotak kayu mahoni berpahat sulur klasik yang masih terkunci rapat.
‘Apakah ini pelabuhan akhir dari pelarian panjangmu, Bara?’ desis suara dalam benaknya sendiri, tajam laksana belati yang digoreskan ke cermin retak. ‘Ataukah kau justru sedang menyerahkan lehermu ke tiang gantungan yang paling suci? Menikahi putri dari orang yang kau anggap pahlawan sekaligus penghancur hidupmu... mitsaqan ghalizha ini bukan tiket ke surga, melainkan perjanjian pertukaran nyawa.’
Bara melirik ke barisan shaf terdepan tamu kehormatan. Di sana duduk Pak Rusdi dengan kemeja batik lawas bermotif parang rusak. Pria tua berkulit legam terbakar terik khatulistiwa itu tampak menggenggam tasbih kayu kokka dengan jemari gemetar. Matanya yang merah tidak pernah lepas menatap kotak mahoni di atas meja akad, sesekali beralih cemas ke arah pintu gerbang masjid yang dijaga laskar santri berbaju hitam. Ada sesuatu yang tidak beres. Ada getaran teror yang coba diredam di balik kumandangan selawat badar yang bergulir dari pengeras suara.
❖ ❖ ❖
Bagian 02 : Retrospeksi Asap Gambut dan Jeritan Kalimantan
Kenangan berdarah sepuluh tahun silam yang menolak terkubur
⚜
Selawat badar yang meliuk-liuk di bawah lengkung langit-langit masjid mendadak menjelma menjadi deru angin kencang di telinga Bara. Ingatannya terseret mundur secara brutal ke petang nahas sepuluh tahun silam di Divisi III Perkebunan Sawit Tanjung Harapan. Ia mencium lagi bau sangit gambut yang terbakar, jeritan sirene pemadam yang kalah cepat melawan bara api yang melahap tangki penampungan minyak CPO, dan sosok Haji Samairah yang terkapar bersimbah darah di bawah reruntuhan traktor derek.
‘Bara... demi Allah... jangan biarkan Camilla tahu,’ rintih Haji Samairah kala itu, jemarinya yang patah mencengkeram kerah baju Bara yang bernoda jelaga. ‘Pesantren ini... tanah leluhur di Al-Quthuz ini akan disita rentenir korporasi jika mereka tahu akulah yang memantik suluh pada tangki asuransi itu. Kau yang harus mengaku sebagai operator yang lalai, Nak. Hanya dengan begitu klaim mereka cair dan pesantren selamat. Lindungi Camilla... bawa dia kembali ke tanah Jawa...’