Cinta di Ufuk Khatulistiwa

Amrullah Ibrahim
Chapter #44

Sentuhan Halal Pertama

Kutipan Emas : "Kini tidak ada lagi jarak di antara kita, Camilla. Sentuhan ini halal, tatapan ini ibadah, dan cintamu adalah jalan surgaku."

Latar Tempat & Waktu : Kamar Pengantin Ndalem Pesantren Luhur | Pukul 10.00 Pagi Selepas Akad Nikah

❖ ── ✦ ── ❖ 


Bagian 01 : Ambang Pintu Jati dan Doa di Ubun-Ubun

Ketika Tembok Larangan Syariat Melebur Menjadi Telaga Kehalalan

⚜

Derit pintu kayu jati berukir sulur krisan itu terdengar bagai dentang lonceng penanda akhir sebuah zaman. Pukul sepuluh pagi. Sinar matahari keemasan menerobos kisi-kisi jendela kaca patri Ndalem Pesantren Luhur, melukis mozaik hangat di atas permadani Persia tua yang telah menyaksikan doa ratusan generasi santri. Di luar dinding tebal berpelesir kapur sirih ini, gema shalawat badar dan riuh takzim ribuan tamu undangan masih terdengar lamat-lamat, teredam sempurna oleh tirai beludru marun yang menjuntai berat.

Di dalam ruangan itu, waktu seolah berhenti berdetik.

Bara Kembara berdiri mematung di sisi ranjang berkelambu putih tipis. Udara kamar sarat oleh semerbak wangi bunga sedap malam segar yang dijalin melingkar di tiang-tiang peraduan, beradu dengan aroma asap dupa gaharu Kalimantan yang mengepul tipis dari pedupaan kuningan di sudut meja. Setiap tarikan napas Bara terasa begitu pekat, seakan paru-parunya dipenuhi oleh ion-ion ketakjuban yang melumpuhkan sendi.

Di hadapannya, hanya berjarak dua jengkal napas, seorang wanita duduk tertunduk di tepian ranjang. Camilla Samairah. Gaun brokat putih berhias payet mutiara air tawar membalut tubuh rampingnya dengan kesopanan yang agung. Kerudung sutra tipis yang menudungi kepalanya sedikit bergoyang seirama tarikan napasnya yang patah-patah. Jari-jemari Camilla yang lentik bertaut erat di atas pangkuan, meremas kain satin dengan kegugupan yang teramat nyata.

Bara menelan saliva yang terasa mengering di pangkal tenggorokannya. Otaknya bergolak dalam badai retrospeksi kilat. Selama hampir lima tahun pengembaraannya di pesantren ini, ada satir kain hitam tebal setinggi dua meter yang selalu memisahkan mereka di serambi ndalem. Ada jarak adab sepuluh depa yang tak pernah berani ia langgar bahkan dalam lintasan imajinasi terliarnya. Baginya, Camilla adalah mawar surga yang tumbuh di puncak tebing karang—suci, tak tersentuh, dan terlarang bagi tangan seorang pengembara yang pernah berlumur debu jalanan dan lumpur masa lalu.

Namun hari ini, kalimat qabiltu nikahaha wa tazwijaha yang ia ucapkan satu jam lalu dengan satu helaan napas tegas di hadapan sang wali dan para saksi, telah meluruhkan seluruh benteng larangan semesta. Tembok itu bukan runtuh oleh nafsu, melainkan dileburkan oleh kalimat Allah.

Langkah kaki Bara bergeser setengah depa. Karpet beludru meredam derapnya, tetapi degup jantungnya menghantam rongga dada sekeras tabuhan genderang perang. Camilla tersentak pelan. Ujung jemari kakinya yang beralaskan sandal satin tampak merapat.

"Camilla..." Suara Bara keluar begitu serak, sarat oleh timbunan rasa hormat dan getar haru yang hampir tak tertanggungkan.

Camilla tidak mengangkat wajahnya, tetapi bulu matanya yang lentik bergetar hebat. Bara perlahan mengangkat lengan kanannya. Gerakan itu terasa begitu berat, seolah ia sedang mengangkat amanah langit. Telapak tangannya—telapak tangan yang kasar dengan bekas kapalan masa lampau—terayun perlahan melintasi udara yang hangat, hingga akhirnya mendarat dengan kelembutan yang teramat hati-hati di atas ubun-ubun kepala Camilla.

Detik itu, gelombang kejut yang murni menjalar melintasi syaraf kedua insan.

Bara merasakan hangatnya ubun-ubun itu menembus kain kerudung sutra tipis. Camilla menahan napasnya seketika; tubuhnya bergetar laksana daun yang disentuh angin pegunungan pertama di musim semi. Sentuhan halal pertama. Tidak ada rasa bersalah. Tidak ada bayang-bayang malaikat pencatat dosa. Yang ada hanyalah keheningan suci yang menenggelamkan ego kemanusiaan mereka.

Dengan bibir yang bergetar dan kelopak mata yang terpejam menahan bendungan air mata, Bara melafalkan doa nabawi yang telah ia hafalkan sepanjang malam-malam istikharahnya:

"Allahumma inni as-aluka khairaha wa khaira ma jabaltaha 'alaih, wa a'udzu bika min syarriha wa syarri ma jabaltaha 'alaih... Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan watak yang Engkau ciptakan padanya, dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan watak yang Engkau ciptakan padanya..."

Suara Bara tercekat di ujung kalimat. Doa itu bukan sekadar formalitas ritual sunnah, melainkan permohonan seorang musafir papa yang baru saja dianugerahi mahkota kerajaan yang teramat mahal.


❖ ❖ ❖


Bagian 02 : Kecupan Kening dan Runtuhnya Sunyi

Ketika Mata Menatap Cermin Jiwa dan Dialog Emas Terpahat Abadi

⚜

Ketika Bara selesai mengucap amin, Camilla perlahan mengangkat kedua tangannya. Dengan kelembutan yang memesona, jemari wanita itu meraih pergelangan tangan kanan Bara yang masih bertengger di atas kepalanya. Kulit jemari Camilla terasa begitu sejuk, kontras dengan bara hangat yang membakar pembuluh darah Bara.

Camilla membimbing tangan suaminya turun, lalu mendekatkannya ke parasnya. Ia membungkuk dalam-dalam, menempelkan hidung dan bibirnya pada punggung tangan Bara yang kokoh. Kecupan takzim itu berlangsung lama, sangat lama. Nafas hangat Camilla menyapu pori-pori kulit Bara.

Tiba-tiba, Bara merasakan setitik cairan hangat dan basah jatuh tepat di lekukan urat nadinya. Lalu setitik lagi. Air mata Camilla.

Lihat selengkapnya