Cinta di Ufuk Khatulistiwa

Amrullah Ibrahim
Chapter #45

Mahligai Sakinah di Antara Dua Sungai

Perjalanan Bara dan Camilla membuktikan bahwa sakinah bukanlah kepulangan menuju istirahat yang pasif, melainkan ketetapan hati yang teguh untuk terus mengalirkan kemanfaatan bagi semesta di mana pun takdir melabuhkan jiwa. Latar : Beranda Wisma Afdeling 3 Tepian Sungai Kahayan, Kalimantan Tengah | Satu tahun pasca-prahara keluarga, senja hari khatulistiwa

Hikmah Islami : Man shabara zhafira — Siapa yang bersabar menjaga kesucian dan kehormatan di jalan Ilahi, niscaya Allah akan menganugerahkan kemenangan batin yang melampaui batas prasangka manusia.

❖ ── ✦ ── ❖ 


Bagian 01 : Senja di Atas Kanopi Zamrud Borneo

Napas Lembayung di Beranda Kayu Ulin dan Riak Arus Purba Kahayan. Lokasi & Waktu : Beranda Wisma Afdeling 3 Tepian Sungai Kahayan | Satu tahun kemudian, menjelang maghrib di Kalimantan Tengah. Tokoh : Bara Kembara, Camilla Samairah, Bayi Rayyan

⚜

Matahari khatulistiwa tidak pernah tenggelam dengan tergesa-gesa; ia luruh laksana lelehan tembaga pijar yang ditumpahkan perlahan ke atas hamparan kanopi zamrud Borneo. Dari bibir beranda wisma panggung kayu ulin Afdeling 3, sejauh mata memandang ke ufuk barat, ribuan hektar pelepah kelapa sawit membentang bak samudra hijau yang bernapas dalam ritme yang tenang namun purba. Hembusan angin petang membawa serta aroma yang khas—percampuran antara uap tanah gambut basah yang baru diguyur gerimis siang, semerbak minyak kelapa hangat dari cerobong pabrik ramah lingkungan di seberang kanal, dan getah pohon ulin berusia ratusan tahun yang menyangga tiang-tiang rumah panggung tempat Bara Kembara kini mematungkan diri.

Bara berdiri bertelanjang kaki di atas papan-papan ulin yang dingin dan hitam legam. Di tangan kanannya, ia memegang cangkir seng berisi seduhan kopi robusta pahit yang telah kehilangan kepulan asapnya. Bekas luka bakar memanjang melintang di telapak tangan itu—jejak malam pekat setahun silam ketika jemarinya mencengkeram pipa tembaga panas demi mencegah sabotase katup uap di tangki distilasi minyak rakyat. Setiap kali cuaca beralih dari terik membakar menuju dinginnya senja berhawa gambut, serat-serat syaraf di telapak tangannya itu berdenyut ngilu, seakan mengirimkan telegram tak kasat mata dari masa lalu: sebuah pengingat bahwa perdamaian yang dinikmatinya hari ini bukanlah tanah lapang yang terbentang cuma-cuma, melainkan rampasan perang atas takdir yang nyaris menghancurkan akal sehatnya.

Sungai Kahayan di hadapannya meliuk lebar seperti ular naga yang tertidur pulas. Airnya yang pekat sewarna seduhan teh kental memantulkan guratan warna lembayung, jingga kemerahan, dan serat nila kelam yang mulai menguasai cakrawala. Namun Bara tahu persis, di balik keheningan cermin air yang tampak tenang di permukaan itu, arus bawah Kahayan menyimpan daya hisap yang mematikan. Palung-palung sungai purba itu tidak pernah mengampuni siapa pun yang terlena oleh tenangnya permukaan. Persis seperti hidupnya sendiri. Persis seperti rentetan badai keluarga yang telah mengoyak martabatnya di tanah Jawa, memaksanya menatap jurang keputusasaan sebelum ia memutuskan membawa martabat itu ke jantung belantara Kalimantan.

"Kau masih memikirkan pertemuan dewan yayasan esok lusa, Mas?"

Suara itu hadir bukan dengan sentakan, melainkan dengan kelembutan tetesan embun yang meresap ke dalam celah batu karang. Bara tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa pemilik suara itu. Langkah kakinya begitu ringan, hampir tak berderak di atas lantai ulin yang konon semakin tua usianya justru semakin keras menyerupai besi tempa. Camilla Samairah melangkah mendekat, mengenakan gamis katun panjang berwarna hijau lumut yang diselimuti pasmina wol tipis berwarna pasir gurun. Di dadanya, terbungkus selendang tenun songket khas Samarinda, sesosok makhluk mungil yang baru berusia tiga bulan tertidur dalam keheningan yang suci.

Bara menarik napas panjang, membiarkan aroma minyak telon bercampur wangi melati yang menguar dari tubuh Camilla membasuh sisa-sisa kepenatan otaknya. Ia menoleh perlahan, lalu tersenyum tipis—senyuman yang hanya bisa diartikan oleh seorang istri yang pernah melihatnya berlumuran jelaga dan air mata kehinaan.

"Bukan yayasan, Dinda," bisik Bara dengan suara bariton yang serak dan berat. Ia meletakkan cangkir sengnya ke atas pagar beranda, lalu menyandarkan bahunya pada tiang kayu ulin. Matanya menatap lembut lekuk wajah Camilla yang diterpa pendar cahaya senja keemasan. "Yayasan telah menemukan jalurnya sendiri. Para santri yang kita boyong dari pesantren Jawa kini telah memegang kendali laboratorium mikrobiologi limbah cair di afdeling utara. Para tetua adat Dayak Ngaju di hulu pun sudah menandatangani pakta kelestarian plasma ulayat. Semua angka surplus produksi dan sertifikasi hijau internasional telah terpenuhi."

"Lalu, apa yang membuat kening suamiku berkerut sedalam alur riam Kahayan itu?" tanya Camilla seraya melangkah satu langkah lebih maju hingga bahunya bersentuhan dengan lengan Bara. Kehangatan tubuh wanita itu menular seketika, mengusir hawa dingin yang mulai naik dari kolong rumah panggung.

Bara terdiam sejenak. Pandangannya kembali terlempar ke arah titik pertemuan dua arus di tikungan sungai, tempat riak air Kahayan berbenturan dengan muara anak sungai Rungan. Dua warna air yang berbeda—yang satu cokelat kemerahan karena gambut, yang satu kehitaman jernih dari rawa perawan—bertemu di satu pusaran yang tak henti-hentinya bergulat sebelum akhirnya melebur menjadi satu aliran agung menuju Laut Jawa.

"Aku sedang berpikir tentang ketenangan ini, Camilla," ujar Bara lirih, matanya menyipit menahan silau sisa-sisa matahari yang kini tinggal separuh di tepi cakrawala. "Terkadang, kebahagiaan yang datang setelah penderitaan panjang terasa begitu menakutkan bagi jiwa yang terbiasa bersiap menerima hantaman. Selama setahun penuh kita memeras keringat di sini, membelah belantara antara mengajar teknologi industri di ruang kuliah daring pesantren dan mencangkul tanah gambut basah bersama buruh. Kita merasa telah memenangkan segalanya. Namun jauh di dalam dasar dadaku, ada suara batin yang berbisik: apakah mahligai sakinah yang kita bangun ini adalah buah ridho Ilahi yang abadi... ataukah sekadar sebuah gencatan senjata yang dipinjamkan langit sebelum badai yang sesungguhnya menagih janji?"

Camilla menatap mata suaminya tanpa berkedip. Dalam sepasang bola mata cokelat pekat milik wanita itu, tidak ada kilat kepanikan atau keraguan yang terpancar. Yang ada hanyalah kedalaman pemahaman yang telah ditempa oleh malam-malam panjang penuh air mata dan doa istikharah yang tak terhitung jumlahnya. Di gendongannya, Rayyan Quthuz melenguh pelan dalam tidurnya, bibir mungil bayi itu mengecup-ngecup udara seakan sedang mereguk mimpi manis dari alam ruhaniah yang murni.


❖ ❖ ❖


Lihat selengkapnya