Professor Rawikara memang terkenal galak diantara dosen dosen pengajar lainnya. Dia bahkan tidak segan segan menghukum kami jika tidak mengerjakan pekerjaan rumah (Homework) kami di rumah. Pasti pulang pulang setelah jam perkuliahan kami selesai, kami akan mendapat tumpukan pekerjaan rumah atau bahkan bisa tiba tiba besok jadi jadwal ujian buat kami.
Ah memang dia dosen killer (itu sebutan kami untuknya), dia sangat jarang sekali tersenyum selama mengajar di kelas. Apa boleh buat, demi mata kuliah yang harus kami tempuh ini, kami berjuang dengan sungguh sungguh demi mencapai nilai IP yang bagus pada setiap akhir semester nanti.
Aku pernah tidak sengaja bertemu dengan Professor Rawikara di luar jam perkuliahan kampusku, tampak sosok tingginya yang memukau, dengan wajah tampannya dan tatapannya tajamnya sungguh mampu membius setiap wanita yang melihatnya.
Ooh.. Tuhan, begitu indah salah satu makhluk ciptaanMu ini..
Aku rasa aku pun jatuh hati kepadanya.. setiap melihatnya hatiku jadi tak karuan rasanya, dilihat salah, tidak dilihat juga salah (sayang sekali wajah tampannya seakan sering mampir dalam ingatanku setiap hari jadinya).
Aku mulai menepuk nepuk kecil kedua pipiku, SADAR HELENA.. SADAR.. DIA ITU DOSENMU.. AYO BANGUN DARI MIMPIMU..
Aku pun hanya bisa tersenyum simpul malu malu setelahnya. Akhirnya aku melanjutkan kegiatanku sendiri sambil mencari cari sesuatu di dalam perpustakaan kampusku.
Tanpa kusadari ternyata Professor Rawikara juga diam diam sedang memantauku dari kejauhan. Dia hanya terdiam dibalik buku yang dibacanya, tatapannya sedikit kaku namun tetap berwibawa khas dosen dosen pada umumnya.