Kalau dilihat lihat dengan seksama, memang keluarga besarku itu sangat menyukai semua hal yang berhubungan dengan budaya Jawa, tentu saja mengingat sisilah keluarga kami yang berkaitan erat dengan Keluarga Keraton Surakarta Solo, Jawa Tengah. Hanya saja di dalam keluarga besarku, hanya keluarga kami yang menganut agama Katolik (memang tidak banyak yang menganut agama Katolik ini, diantara keluarga yang lain, yang mayoritas menganut agama Islam). Perbedaan keyakinan tidak membuat kami sekeluarga merasa berbeda satu sama lain, sedari dulu kami selalu berprinsip, kami harus tetap menyatu dan melebur menjadi satu jika sudah berkumpul dengan semua keluarga besar. Prinsip utama keluarga Jawa adalah berfokus kepada pondasi kerukunan / keharmonisan, dimana konflik dapat diselesaikan melalui musyawarah dan kompromi. Seorang ibu akan dipandang sebagai "tiang" atau pondasi kehidupan yang sangat dihormati, sementara anak akan diajarkan nilai hormat kepada orang tua. Masyarakat Jawa umumnya lebih mengutamakan kebersamaan, kejujuran, dan kesederhanaan dalam kehidupan sehari-hari demi tercapainya kebahagiaan internal dalam keluarga.
Ayahku bernama R. Ranu Albert Putra Adiwangsa, beliau adalah sosok seorang bapak yang sangat mengayomi keluarganya (Beliau sangat perhatiannya dengan keluarganya, semua kebutuhan keluarga selalu dia penuhi, apalagi mengenai pendidikan anak anaknya, sudah pasti dia utamakan, karena menurutnya pendidikan itu sangat penting untuk dapat memiliki kualitas hidup yang lebih baik ke depannya). Ayahku merupakan seorang Jawa Katolik yang taat, beliau juga mempunyai perawakan yang tinggi besar, tegap, pembawaannya tenang penuh percaya diri (istilahnya Andhap asor, rendah hati dan sopan santun dalam berperilaku) dan berwibawa (tetap memegang teguh pakem Jawa). Sehari-hari ayahku suka memakai baju batik (beliau sangat menyukai batik sedari kecil, sejak masi ada jaman eyang buyutku di Surakarta). Busana batik akan dipakai ayahku setiap hari baik untuk kegiatan sehari-hari di rumah ataupun untuk menghadiri acara kegiatan di luar rumah. Semua keluarga besar sangat hafal dengan prinsip hidup ayahku ini (harus tetap rapih dalam berpakaian dimana pun kita berada).
Batik Surakarta Solo biasanya khas dengan nuansa warna sogan (warna cokelat kekuningan), dan bermotif geometris yang halus (sarat dengan filosofi Jawa. Batik Sogan ini berakar dari Keraton Kasunanan, ciri khas yang paling menonjol adanya penghinaan warna cokelat (sogan), ktem dan putih yang memberikan kesan klasik, hangat dan lebih membumi.
Pola batik khas Solo cenderung tipis, kecil dan rapi bila dibandingkan dengan batik batik khas kota lainnya. Sering kali membentuk pola geometris yang lebih tertata rapi. Pola yang terkenal populer adalah motif batik tradisional Parang (yang artinya kekuatan), Kawung (yang artinya kebijaksanaan), Sawat (yang artinya kekuasaan). Secara historis motif batik Parang ini sakral dan hanya boleh dipakai oleh raja atau keluarga kerajaan. Motif batik Parang ini termasuk dalam Awisan (batik larangan) yang diatur dalam undang-undang keraton Yogyakarta tahun 1927 dan Surakarta, dimana penggunaannya terbatas hanya untuk keluarga kerajaan. Selain itu motif batik Parang juga merupakan simbol kekuatan dan wibawa raja, memakainya dianggap tidak sopan atau menyaingi posisi raja.
Setiap motif batik Solo memiliki makna harapan dan doa, seperti Sidomukti (harapan kemuliaan), Sidoasih (kasih sayang), dan Truntum (cinta yang bersemi kembali). Indah bukan filosofi mendalam yang terkandung dalam setiap motif motif batik Surakarta Solo, Jawa Tengah. Tidak heran berapa ayahku R. Ranu begitu mengagumi pesona batik Solo ini.
Keseharian ayahku R. Ranu adalah sebagai pengelola pariwisata kebudayaan dan Keraton Surakarta Solo, Jawa Tengah. Para keturunan bangsawan Surakarta sering terlibat langsung dalam pengelolaan Pura Mangkunegaran atau Kasunanan Surakarta. Pekerjaan ini meliputi manajemen area wisata seperti Pracima Tuin, penyelenggaraan event adat, serta pemandu budaya Keraton Surakarta Solo, Jawa Tengah.
Selain itu ayahku R. Ranu juga mempunyai bisnis keluarga lainnya, seperti bisnis batik tulis dan kuliner khas kerajaan, misalnya di area kompleks Pracima Tuin di Pura Mangkunegaran, ada di dalamnya Pracimasana sebuah restoran fine dining spesifik yang menawarkan pengalaman bersantap ala kerajaan. Selain itu di dalam Pracima Tuin ada juga terdapat Pracimaloka, yaitu area kafe yang lebih santai, disini kita bisa menikmati teh atau pastry dan letaknya terpisah dari Pracimasana. Untuk berkunjung ke keduanya, harus melakukan reservasi lebih dulu melalui Instagram.