Ibuku, Sekar Anna Aruna Wijayanti adalah seorang wanita Jawa Katolik taat yang memiliki ciri khas anggun, keibuan, lemah lembut, bertutur kata halus, santun dan ramah. Yang kesehariannya mencerminkan budaya keraton yang kuat. Mereka umumnya menjunjung tinggi tata krama, sabar, setia, piawai dalam pelestarian budaya Jawa. Setiap hari ibuku suka memakai kebaya, biasanya kebaya jenis kebaya kutubaru dengan bahan beludru atau brokat. Dan batik bermotif cokelat kayu (Sogan) khas Solo, Jawa Tengah. Gaya rambut ibuku sehari-hari selalu membentuk gelung ukel tekuk (sanggul tradisional khas Jawa Tengah, yang berbentuk tekukan, hal ini melambangkan kedewasaan, kecantikan wanita wanita Jawa pada umumnya. Ya ibuku itu sangat cantik dan membumi sekali, pantes ayahku R. Ranu begitu mengagumi sosoknya. Aku pun juga sangat mengagumi ibuku.
Kegiatan ibuku setiap hari adalah mengajar di Sanggar seni tari di Keraton Surakarta Solo, Jawa Tengah. Sanggar seni ini merupakan pusat pelestarian tari klasik gaya Surakarta, sanggar ini mengajarkan tarian tradisi, seperti tari klasik, Bedhaya Ketawang, dan Gambyong Pareanom, yang sering dipelajari para penari melalui sanggar internal. Pelatihan tarian ini harus melibatkan pelatih professional, terbuka untuk usia anak-anak hingga usia dewasa. Tarian ini berfokus pada seni gerak penuh rasa (wiraga, wirama, wirasa).
Keraton Surakarta Solo, Jawa Tengah memiliki tradisi tari klasik yang ketat, di mana pengajarannya sering melibatkan keluarga keluarga dari keraton itu sendiri. Dan juga didukung oleh akademi seni atau singkatannya ISI Surakarta (Institut Seni Indonesia Surakarta).
Pembelajaran tari klasik berakar pada nilai-nilai tradisi yang biasanya dianggap tarian sakral seperti contohnya tarian Bedhaya Ketawang yang dipentaskan di lingkungan keraton pada saat penobatan raja.
Semua penari akan melalui berbagai proses dalam menari, misal ada pembedaan usia untuk belajar tarian klasik Solo, Jawa Tengah ini. Jika masih usia dini / anak-anak dan selanjutnya usia remaja, disarankan mempelajari tarian seperti Tari Sekar Pudyastuti. "Sekar", artinya bunga (gadis remaja) dan "Pudyastuti", artinya memuja / memuji, menggambarkan keanggunan, kegembiraan, dan syukur (tari klasik putri gaya Yogyakarta yang diciptakan oleh K.R.T Sasmintadipura pada tahun 17 Agustus 1979. Ciri khas tarian ini adalah tentang seorang gadis remaja yang sedang bersolek dengan gerakan lemah lembut, anggun, dan tenang (menggambarkan wanita Jawa, termasuk gerakan Atrap sumping, membenarkan anting). Biasanya tarian ini dibawakan secara berkelompok oleh penari putri dengan busana khas Yogyakarta, untuk tari penyambutan tamu terhormat serta ungkapan rasa syukur dan doa keselamatan.
Iringan musik menggunakan gending Jawa laras pelog patet barang, biasanya Ladrang Mugi Rahayu (lagu gamelan Jawa ciptaan Ki Nartosabdo, era Wiryodiningrat). "Mugi", artinya semoga. Dan "Rahayu", artinya selamat, sejahtera, berkah. Jadi kalau dimaknai "Semoga keselamatan / kesejahteraan". Gending ini difungsikan sebagai doa, sering dimainkan pada acara pernikahan, resepsi, uyon-uyon (karawitan) dan pertunjukan wayang. Gending ini populer di Jawa karena namanya mengandung harapan kebaikan.