CINTA ITU K.A.M.U

Shinbul
Chapter #11

Dia Yang Pemalu

Tampaknya semua persiapan untuk acara mendaki gunung bersama sudah terpenuhi dan semua barang sudah tersusun dengan sempurnanya di sisi-sisi dari setiap sudut tas carrier / ranselku yang sudah seperti tas para pendaki profesional. Tas carrier / ranselku dari luar keliatan begitu sederhana, tas carrier berwarna hijau kecoklatan (tentu saja warna favorit aku juga selain warna pink). Menurutku warna hijau kecoklatan ini merupakan warna yang natural yang memadukan unsur kehangatan cokelat dan kesegaran hijau. Atau istilah warna kerennya adalah warna Zaitun (Olive) atau Sage Green (Hijau keabuan). Sangat cocok bukan, dengan acara mendaki gunung bersama ini.

Sejak semalaman aku tidak bisa tidur dikarenakan memang kedua bola mataku ini tidak bisa diajak kerjasama, selalu saja berontak tiap aku ajak tidur malam. Maklum ini adalah acara jalan-jalan pertamaku ke gunung, dan aku hanya bisa berdoa semoga perjalanan kita menuju Gunung Prau selalu dilancarkan segala upaya kami, dan kami semua dapat pergi dan pulang kembali dengan selamat tidak kekurangan suatu apapun.

Pagi pun tiba, dua ayam jantan bernama Si Bona dan Si Boni, piaraan bapak kos aku di daerah Jalan Gejayan (Jalan Affandi) sudah mulai berkokok dengan gagahnya, tanda waktu sudah menunjukkan pukul 03.30 pagi. Aku pun segera bangun, melakukan Doa Rosario pagi dan Doa-doa pribadi. Lalu segera pergi mandi untuk bersiap-siap berangkat ke kampus. Pagi ini kami semua mahasiswa dan mahasiswi janjian untuk berkumpul di Kampus, pas di depan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), kebetulan letak lokasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis ini berada di sisi Timur kampusku (letaknya tidak jauh dari kosan aku di Jalan Gejayan (Jalan Affandi). Hanya dengan berjalan kaki saja sekitar 10 - 15 menit, aku sudah sampai di depan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB). Terlihat semua corak warna-warni ciri khas dari tas carrier / ransel para peserta acara mendaki gunung bersama ini, ada yang membawa tas carrier / ransel berwarna kuning pekat (menyerupai warna kunyit), hijau daun (menyerupai warna emerald / hijau pekat), cokelat kehijauan seperti tas carrier / ranselku. Bahkan ada juga yang membawa tas carrier / ransel berwarna hitam bernuansa merah batu bata (terakota), warna ini menurutku sangat menyatu dengan warna bumi.

Bus-bus yang akan kami tumpangi sudah terlihat berbaris rapi menunggu kedatangan kami semua. Total semuanya ada 3 bus ukuran medium, dengan jumlah masing-masing bus berisikan 25 orang mahasiswa dan mahasiswi. Aku sendiri dapat kursi di bus ketiga, bersama dengan teman-teman sepermainanku selama di kampus. Semua tas carrier / ransel kami sudah tersimpan rapih di bagasi bus kami masing-masing, dan kami pun segera menikmati sarapan pagi kami sebelum berangkat menuju ke Gunung Prau, tampak tenda-tenda makanan pun sudah menanti kami disamping Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB).

Ketika aku sedang asik menyantap sarapanku yang menggoda ini, dari arah sudut mata kananku aku menangkap sesosok tampan yang aku kenal, AH TIDAK PROFESSOR RAWIKARA IKUT JUGA KE ACARA MENDAKI GUNUNG! Tentu aku pun jadi tetiba salah tingkah sendiri, wajahku memerah tanpa sebab, padahal bubur yang aku santap pagi ini tidak terlihat panas ataupun pedas. HELENA, ADA APA DENGANMU? AYO FOKUS KITA AKAN SEGERA BERANGKAT.

Segera aku akhiri sarapanku dan dengan segera aku naik ke bus yang sudah ditetapkan untukku. Sesampainya di kursi, hatiku makin tidak karuan rasanya, kembang kempis seperti anak kecil yang pertama kali merasakan manisnya Permen gulali kapas (populer dengan nama Arum Manis dan Cotton Candy), adalah jajanan manis legendaris yang terbuat dari gula pasir yang diputar menggunakan mesin khusus hingga membentuk serat-serat halus menyerupai kapas. Ya rasanya sungguh manis, ringan, lembut dan langsung lumer di mulut begitu terkena air liur. Sensasi lumer inilah yang selalu aku tunggu-tunggu setiap memakan permen gulali kapas kesukaanku ini.

Aku berusaha meredam rasa gejolak dihatiku dengan menyetel lagu kesayanganku di Spotify (sambil memasang earphones warna pinkku). Terdengarlah sayup-sayup lagu romansa, They Long to be, Close to You by duo legendaris asal Amerika Serikat, The Carpenters. Salah satu lagu yang hits pada tahun 1970an. Lagu ini sebenarnya diciptakan dan ditulis oleh dua komposer Burt Bacharach dengan Hal David pada tahun 1963, hanya saja lebih dipopulerkan oleh The Carpenters.

"Why do birds suddenly appear, every time you are near? Just like me, they long to be.. Close to you.."

"Why do stars fall down from the sky, every time you walk by? Just like me, they long to be.. Close to you.."

Lihat selengkapnya