CINTA ITU K.A.M.U

Shinbul
Chapter #14

Aku, Kamu dan Gunung Prau II

Setelah kami tiba di camping ground, kami langsung membagi tugas masing-masing per kelompok (dari 70 orang mahasiswa dan mahasiswi yang ikut, termasuk ada 5 orang dosen pembimbing, kami pun membagi 10 kelompok besar, yang masing-masing kelompok terdiri dari 7 orang per tenda. Dan ada 1 tenda khusus yang berisikan 5 orang dosen pembimbing).

Mendirikan tenda di Gunung Prau wajib dilakukan di area perkemahan (camping ground) resmi. Gunakan alas tenda (groundsheet), pasak dengan formasi silang, dan pastikan pintu tenda membelakangi arah angin. Usahakan jangan mendirikan tenda di puncak, dikarenakan anginnya sangat kencang dan suhu bisa mencapai 0 derajat Celcius. Dalam mendirikan tenda harus dilakukan dengan cepat, solid, dan aman. Area resmi di Gunung Prau, yaitu berkemahlah hanya di area camping ground yang sudah ditentukan oleh pihak pengelola, seperti area sabana, pelawangan, atau area sunrise camp, Jangan mendirikan tenda di jalur air atau cekungan karena berisiko banjir saat hujan. Kami sebagai pendaki wajib mematuhi peraturan selama berada di Gunung Prau, ada beberapa larangan seperti dilarang menebang pohon, memotong ranting Edelweiss, atau merusak vegetasi sekitar untuk area tapak tenda.

Setelah kegiatan mendirikan tenda selesai, saatnya kami memulai kegiatan memasak, kami mulai membongkar bahan-bahan makanan (meal prep) yang sudah kami persiapkan dari rumah (bahan makanan yang sudah kami potong-potong, seperti daging ayam (biasanya kami pilih yang potongan tanpa tulang / fillet, atau bagian sayap dan sudah dibumbui / marinasi). Sedangkan untuk daging sapi (biasanya kami siapkan irisan tipis atau daging giling yang sudah dibumbui / marinasi). Biasanya kami memasak menu praktis ketika sedang melakukan pendakian ke gunung, misalnya seperti menu steamboat / sup, nasi goreng, indomie, omelet / telur orak arik (pokoknya menu makanan yang simple dan tidak merepotkan). Kegiatan memasak kami berlangsung meriah, karena ada beberapa dari kami memang mempunyai skill memasak yang handal layaknya chef professional. Dan kalau kamu boleh mengetahuinya, Professor Rawikara juga termasuk diantara beberapa orang itu. Dengan cekatan dia mengolah semua bahan-bahan makanan kami bersama dengan tim masaknya yang berjumlah 6 orang (total tim masak ada 7 orang, termasuk Professor Rawikara sendiri). Aroma masakan yang lezat pun mulai menyeruak tajam dan menyebarkan wewangian yang sangat menggugah selera siapa saja yang menghirupnya. Perut kami tampak sungguh lapar, para penghuni perut kami pun semakin tampak liar memberontak, seakan tak kuasa menahan gejolak lapar yang hadir setelah seharian mendaki. Menu simple yang sederhana dan memang tampak sangat lezat hadir nyata dihadapan kami semua, menu nasi goreng kampung (nasi goreng legendaris yang aku yakin semua orang pasti suka, yang dibuat dengan ciri khas nasi putih, kecapnya yang tidak terlalu banyak, dengan campuran beberapa butir telur ayam, sayuran seperti sawi hijau, bisa juga ditambahkan irisan sosis (boleh sosis ayam / sapi sesuai selera), bumbu biasanya sudah kami persiapkan dari rumah seperti bawang merah, bawang putih, cabai rawit hijau, cabai rawit merah, garam, merica, kaldu jamur / penyedap, dan tentu minyak goreng (semua dimasak menjadi satu kesatuan, penuh cinta dan terciptalah masakan nasi goreng kampung yang sangat enak).

Hari pun sudah mulai tampak semakin sore, langit-langit senja di Gunung Prau pun menawarkan sensasi yang berbeda, kami semua takjub disuguhkan dengan ikatan panorama magis di mana semburat warna jingga, ungu, dan merah muda berpadu sempurna. Dari ketinggian 2.565 - 2.590 mdpl, momen ketika matahari terbenam sungguh sangat memukau hatiku. Apalagi jika kamu bisa menikmatinya dengan salah satu makhluk ciptaanNya yang sempurna (sambil kulirik dengan sengaja satu sosok tampan Sang Professor Rawikara yang duduk tidak begitu jauh dari tempat dudukku, yang melihatnya saja hatiku merasa teduh dan nyaman). Batinku semakin ingin mengenalnya lebih jauh, dan hatiku semakin berdetak cepat setiap melihatnya. Dan tanpa kusadari, sorot mata Professor Rawikara ternyata sedari tadi sejak kami semua sampai di Camping ground Gunung Prau selalu diam-diam tertuju kepadaku.

Ah, sebelum keadaan semakin gelap dan mulai merayap menuju malam, akankah lebih baik kami semua segera bersiap-siap untuk membereskan semua sisa makanan sore kami dan segera menuju tenda kami masing-masing untuk membersihkan diri dan berganti baju yang lebih hangat (mengingat suhu di Gunung Prau ini cukup dingin berkisar antara 3 - 10 derajat Celsius). Bahkan jika musim kemarau, suhunya bisa mendekati 0 derajat Celsius (sangat dingin dan berisiko memicu Hipotermia, adalah kondisi darurat media saat suhu tubuh turun drastis di bawah 35 derajat Celsius). Di Camping ground Gunung Prau memang tidak ada fasilitas sumber air atau MCK (karena suhu di puncak yang ekstrem), biasanya para pendaki membawa tisu basah untuk membersihkan diri (metode dry bathing).

Aktivitas utama di camping ground Gunung Prau meliputi trekking santai, berburu pemandangan matahari terbit / terbenam, fotografi lanskap Pegunungan Dieng, serta berkemah dan menikmati malam dengan udara sejuk. Gunung setinggi 2.565 - 2.590 mdpl ini sangat populer di kalangan pendaki pemula karena jalurnya yang relatif bersahabat, pemandangan awan megah di pagi hari. Karena waktu sudah cukup malam, akhirnya kami semua berkumpul ditengah camping ground, kami mencoba menikmati suasana malam hari yang syahdu, ditengah desisan nyala api unggun yang saling bersautan satu sama lain. Masing-masing dari kami ada yang sedang memasak indomie sekedar untuk camilan malam hari. Ada juga yang sedang menyeduh susu cokelat, teh atau kopi sekedar penghangat di malam hari.

Dari jauh pun sudah mulai terdengar petikan-petikan suara gitar dan lantunan suara merdunya Professor Rawikara. Aku yang sedang menikmati segelas susu cokelat panas, tiba-tiba kaget mendengar suara merdu khasnya yang sungguh membiusku. Lantunan lagu Perfect by Ed Sheeran melantun dengan sempurna (sesempurna hatiku yang semakin hari semakin jatuh cinta kepada sosok Professor Rawikara).

I found a love for me

Oh, darling, just dive right in and follow my lead

Well, I found a girl, beautiful and sweet

Oh, I never knew you were the someone waitin' for me

'Cause we were just kids when we fell in love'

Not knowin' what it was

I will not give you up this time

Oh, darling, just kiss me slow

Your heart is all I own

Lihat selengkapnya