Momen yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, Mbakyu Kayana kakak perempuan keduaku akhirnya disunting oleh pujaan hatinya yang seorang pengusaha kayu dari Jawa Tengah. Aku pun sangat senang sekali, mengingat sudah sejak dua tahun yang lalu, keluarga besar kami menghadiri acara pesta pernikahan keluarga, waktu ketika Mbakyu Manika menikah. Sebenarnya Mbakyu Kayana mau melangsungkan pernikahannya setahun yang lalu, namun dikarenakan adanya pertunjukan tari tradisional Keraton Solo (Surakarta) yang sangat penting dan sakral, yang membutuhkan konsentrasi khusus, jadilah acara pernikahannya ditunda selama setahun.
Pertunjukan tari ini dinamakan Tari Srimpi Sangupati, tari ini adalah mahakarya tari klasik dari Keraton Surakarta Hadiningrat, yang isinya sarat akan makna filosofis dan sejarah. Tarian ini menampilkan perpaduan antara keanggunan gerakan gemulai penari wanita Jawa dan kesiapsiagaan bela diri. Tari Srimpi Sangupati merupakan tarian klasik Surakarta yang diciptakan pada masa pemerintahan Susuhunan Paku Buwono IV tahun 1788-1820 dan populer pada masa pemerintahan Paku Buwono IX. Tari Srimpi Sangupati sendiri lahir pada masa kolonial Belanda, tarian ini awalnya merupakan bentuk diplomasi terselubung. Arti nama "Sangupati" berasal dari kata Sangu Pati (bekal kematian), yang digunakan pihak keraton untuk menunjukkan kesiapan perlawanan atau mati demi membela tanah air. Tarian ini biasanya dibawakan oleh 4 orang perempuan dengan busana pengantin putri keraton, dodotan, dan gelung bokor, dipadukan dengan gerakan yang sangat gemulai, melambangkan kesopanan, budi pekerti, serta pertarungan abadi antara kebaikan dan kejahatan. Para penari tarian Srimpi pada umumnya menggunakan properti seperti keris, sedangkan di sini para penari Sangupati menggunakan properti seperti pistol (pada zaman dahulu biasanya akan diisi oleh peluru asli) dan "gelek inum" (wadah untuk minuman), digunakan dalam menjamu tamu kolonial Belanda. Arti mendalam tentang tarian ini, untuk mengajarkan manusia berani melawan kejahatan, mengendalikan hawa nafsu, dan menempuh jalan kebaikan. Pada masa sekarang tarian ini lebih dipusatkan untuk pelestarian dalam budaya Jawa.
Karena tarian sudah menyatu dan mendarah daging dalam jiwa dan raga kakakku Kayana, sudah pasti dia akan melakukannya secara totalitas. Aku saja sangat mengaguminya. Semua orang yang sudah pernah melihat pertunjukan tarinya, akan berdecak kagum. SUNGGUH BERBAKAT!
Kakakku dengan pujaan hatinya bertemu ketika kakak iparku secara tidak sengaja menghadiri salah satu pertunjukan tari kebudayaan di Kota Solo (Surakarta), Jawa Tengah. Ketika kakakku sedang pentas tari. Disitulah awal mulanya kakak iparku jatuh cinta. Tidak perlu waktu lama gayung pun bersambut mesra, kakakku Kayana pun membalas rasa cinta dari kakak iparku. Dan akhirnya mereka memutuskan untuk menikah. AH, ROMANTIS SEKALI (AKU PUN MULAI TERSENYUM MEMBAYANGKAN KISAH CINTAKU SENDIRI NANTI)..