Aku sudah membulatkan tekadku untuk segera menyatakan perasaanku ini kepadanya. Pujaan hatiku tercinta yang sudah sejak lama aku mencoba memendam rasa ini. Aku tahu diriku agak tidak terlalu percaya diri kalau sudah berhubungan dengan urusan wanita. Sedari dulu aku bisa dibilang agak pemilih soal wanita, entah sudah berapa wanita yang orang tuaku kenalkan kepadaku, aku hanya bisa menolaknya. Sudah sejak pertama kali aku melihatnya di kampus UGM. Seorang wanita yang mampu mencuri suatu rasa khusus di dalam relung hatiku.
Dialah Helena Isabel Arunika Adiwarna, seorang wanita blasteran Indonesia-Austria. Seorang wanita yang berdarah campuran, setengah Indonesia dan setengah Austria. Namun aku sangat yakin dia memiliki jiwa Indonesia yang kental sekali dibalik casing darah campurannya. Bagaimana tidak, nilainya setiap mata perkuliahan bahasa dan sastra Jawa selalu mendapatkan nilai diatas 90.
Bahkan sampai dihampir menuju semester pertengahan saja nilai IP nya selalu diatas 3 koma sekian dan memang memuaskan untuk sebagian orang, terutama aku sebagai dosennya. Aku saja sangat bangga kepadanya. Wajar saja aku jatuh hati kepadanya, wajah dan senyumannya selalu bermain-main manis disetiap lamunanku setiap hari.
Siang itu kami berjanji untuk pertemuan berikutnya disuatu kafe unik di daerah Malioboro, hari ini tepat pertemuan kami yang ketiga setelah pertemuan pertama, kedua beberapa waktu kemarin. Hari ini akan menjadi hari yang paling bersejarah untuk seorang Rawikara, aku akan menyatakan perasaanku kepadanya, aku sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi, aku pun mencoba memberanikan diriku sendiri (walau jantung dan hatiku berdetak tak karuan rasanya, tanganku menjadi sedingin es batu). Aku hanya bisa berdoa, semoga rasa cintaku tak bertepuk sebelah tangan.
Hari ini aku memakai kemeja warna biru tua, dibalut dengan celana panjang bahan warna krem muda. Rambutku sudah tertata rapih, parfum favoritku (kebetulan hari ini aku sedang memakai parfum Hugo Boss Classic Green), pun sudah menyebarkan wanginya sedari tadi di sepanjang ruangan kafe ini. Sambil menata hatiku untuk terlihat lebih kalem dan datar. Bunga Dandelion merah yang sudah aku persiapkan, aku sengaja meletakkannya di bangku disebelahku. Bunga yang akan aku persembahkan untuk pujaan hatiku, Helena.
Tidak berapa lama wanita pujaan hatiku sampai, dia langsung menuju meja tempat kami janjian bertemu. "YA TUHAN, HARI INI DIA SANGAT CANTIK SEKALI. DENGAN DRESS WARNA BIRU MUDANYA, DAN SYAL WARNA KREMNYA BEGITU TERLIHAT SENADA DENGAN PAKAIAN YANG AKU KENAKAN...".
"AKU BEGITU TERPANA DIBUATNYA".
"RA... Kamu sudah lamakah?"
Maafkan aku ya, taxiku sedikit terlambat. Jalanan hari ini macet sekali (tampaklah senyumannya yang mampu membuatku meleleh seketika).
"Kamu mau pesan makanan dan minuman apa? Disini yang terkenal untuk snack adalah menu Banana Pancake dan Tahu Tunanya loh. Kalau untuk main course yang paling favorit adalah Grilled Tropical Salmon dan Ribeye Pepper Steaknya (ini menurutku the best seh). Sedangkan untuk minumannya yang paling aku suka adalah Classic Tubruknya (bahkan keluargaku pun menyukainya, rasanya yang otentik dengan cita rasa Indonesia mampu melunakkan keangkuhan PenciptaNya)".
Aku pun menjadi semakin gelisah dibuatnya, aku jadi sering mencuri-curi pandang melihatmu. Semakin tidak sabar aku untuk segera menyatakan perasaanku ini kepadamu. Sambil menarik nafas dan mencoba membuka topik pembicaraan sambil menunggu semua pesanan makanan dan minuman kami datang. Aku mencoba memberanikan diri bertanya dan meneguhkan hati.
"HELENA...".