CINTA ITU K.A.M.U

Shinbul
Chapter #30

FOREVER LOVE

Entah mengapa pagi ini kedua orang tuaku tiba-tiba ingin sekali mengajakku jalan-jalan pagi hari ke Katedral Wina, Austria. Ya memang keluarga besar kami sangat menyukai mengikuti misa pagi hari di sini, karena memang suasananya semagis itu ketika pagi hari.

Langkah kaki kami dihentikan oleh kereta kuda yang melangkah pelan namun pasti, kereta kuda itu berhenti tepat di depanku. Tanpa aku sadari, seseorang yang sudah lama aku rindukan dengan segenap jiwaku tampak hadir nyata di depanku kini. Wajahnya yang memang selalu tampan, senyumannya yang menawan yang selalu hadir di setiap mimpiku. Sekarang dia hadir memenuhi ruang hatiku yang meledak-ledak saking bahagianya. Aku langsung berlari memeluknya, menghirup aroma kerinduan yang sudah lama tak terpuaskan, yang membuatku merasakan hampa tersembunyi karena cinta kami.

"RA! INI BENERAN KAMU, RA?"

"AKU TIDAK SEDANG BERMIMPI KAN?"

"RA! OOH.. RA... BETAPA AKU SANGAT RINDU PADAMU, RA..."

Air mataku perlahan turun dengan sempurna, aku berharap ini sungguh nyata bukan mimpi. Dengan lembut dirimu mengusap air mataku, dan segera membawaku naik ke atas kereta kuda yang sedari tadi sudah siap membawa cinta kami berdua menuju pernikahan Katolik yang abadi.

Hari ini adalah hari H, hari pernikahan aku dengan pujaan hatiku Rawikara Anselmus Giandra Adiwangsa. Suasana pernikahan bangsawan klasik Jawa Surakarta (Solo), sangat sakral, megah dan penuh aturan adat yang ketat. Acara ini dipenuhi alunan gamelan klasik (Gendhing Jawa mengalir pelan menjaga ketukan sakral), balutan busana kain batik berpola khusus, dan tatanan ruang pendopo keraton yang agung dan tenang. Wewangian klasik ala Keraton Surakarta (Solo), beraroma dupa dan Bunga Melati memenuhi seluruh ruangan. Busana pengantin memakai busana pakem keraton berhiasan perhiasan emas, dengan Motif Batik Lar atau Parang khusus kaum Bangsawan. Sedangkan untuk para tamu memakai busana tradisional lengkap dengan kerisnya. Semua rangkaian prosesi sangat sakral, meliputi Panggih Manten (Pertemuan sakral pengantin diiringi dengan keheningan dan doa), Balangan bantal (Saling lempar sirih tanda kasih), Kacar-kucur (Lambang tanggung jawab nafkah suami), dan Sungkeman (Prosesi sujud hormat penuh haru kepada kedua orang tua).

Kami berdua memilih Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus, Ganjuran, Bantul, Yogyakarta. Gereja yang sudah terkenal dengan perpaduan uniknya antara ajaran Katolik dengan budaya Jawa. Gereja yang selama ini sudah menjadi saksi bisu kuat dan indahnya cinta kami berdua. Dan kami yakin kami dapat bertahan dengan cinta kami yang tulus ini.

Prosesi pernikahan atau Sakramen Perkawinan Katolik di Gereja diawali dengan Ritus pembuka, berlanjut ke Liturgi Sabda, Pengucapan janji nikah, dan Pemberkatan, lalu ditutup dengan Liturgi Ekaristi atau Berkat penutup.

Hal yang paling tidak bisa aku lupakan seumur hidupku adalah Pengucapan janji / ikrar pernikahan antara aku dan kamu...

Suatu prosesi suci dan sakral yang diucapkan kedua mempelai di hadapan imam, saksi dan jemaat. Janji / ikrar ini diucapkan secara bergantian antara aku dan kamu.

"Saya, Rawikara Anselmus Giandra Adiwangsa, mengambil engkau Helena Isabel Arunika Adiwarna, untuk menjadi istri saya. Saya berjanji untuk setia kepadamu dalam suka dan duka, dalam kelimpahan dan kekurangan, dalam sakit dan sehat, untuk mencintai dan menghormati engkau sepanjang hidup saya".

Lalu kamu pun mengikuti...

"Saya, Helena Isabel Arunika Adiwarna, mengambil engkau Rawikara Anselmus Giandra Adiwangsa, untuk menjadi suami saya. Saya berjanji untuk setia kepadamu dalam suka dan duka, dalam kelimpahan dan kekurangan, dalam sakit dan sehat, untuk mencintai dan menghormati engkau sepanjang hidup saya".

Lihat selengkapnya