BAB 1
BATU YANG TIDAK PERNAH BENAR-BENAR DINGIN
Pagi di Batu selalu datang seperti sesuatu yang ragu-ragu. Cahaya turun perlahan, tidak pernah benar-benar terang, seolah ada yang menahannya di atas sana. Dari jendela ruang depan, kabut masih menggantung di antara pohon-pohon apel yang sudah lama tidak dipanen. Udara dingin masuk tanpa permisi, merayap ke dalam rumah yang terlalu besar untuk dihuni dua orang yang sama-sama tidak banyak bicara.
Arga sudah duduk sejak subuh, meskipun ia sendiri tidak yakin sejak kapan tepatnya ia bangun. Laptop di depannya terbuka, halaman kosong memantulkan wajahnya yang tampak lebih tua dari usianya. Di meja, secangkir kopi yang tadi sempat hangat kini tinggal sisa pahit yang tidak lagi menarik untuk diminum.
Ia menatap layar itu cukup lama sampai akhirnya tidak benar-benar melihat apa-apa.
Dari dalam kamar, batuk ibunya terdengar lagi. Kering, pendek, lalu memanjang seperti sesuatu yang dipaksa keluar dari tubuh yang sudah terlalu lelah untuk menahan. Batuk itu tidak pernah benar-benar berhenti dalam beberapa bulan terakhir. Hanya berpindah waktu. Kadang pagi, kadang malam, kadang datang tiba-tiba di tengah percakapan yang bahkan tidak pernah benar-benar dimulai.
Arga menoleh sedikit, lalu kembali ke layar. Ada jeda di sana. Jeda yang tidak bisa disebut sebagai pilihan, tapi lebih seperti kebiasaan yang tumbuh tanpa disadari.
Ia tahu ia harus masuk ke kamar itu. Menanyakan sesuatu. Membawa air, atau sekadar memastikan ibunya masih baik-baik saja. Tapi ada bagian dalam dirinya yang menunda, bukan karena tidak peduli, melainkan karena tidak tahu harus memulai dari mana.
Beberapa tahun terakhir, hubungan mereka berjalan di permukaan yang tipis. Tidak retak, tapi juga tidak pernah benar-benar kokoh. Mereka saling memahami tanpa benar-benar saling mendekat. Kalimat-kalimat yang seharusnya sederhana terasa terlalu berat untuk diucapkan.
Batuk itu berhenti.
Sunyi yang tersisa justru terasa lebih jelas daripada suaranya.
Arga menarik napas, lalu kembali menatap layar. Kursor kecil di sudut kiri atas berkedip dengan ritme yang hampir menenangkan. Ada sesuatu yang setia di sana. Sesuatu yang tidak bertanya, tidak menuntut, tidak juga pergi.
Ia menggerakkan jari-jarinya di atas keyboard. Menekan beberapa huruf, lalu menghapusnya kembali. Kalimat pertama selalu terasa seperti sesuatu yang terlalu menentukan, seolah seluruh hidupnya bergantung pada bagaimana ia memulai.
Padahal tidak ada siapa pun yang menunggu.
Tidak ada editor yang menagih. Tidak ada pembaca yang bertanya. Bahkan teman-temannya yang dulu sering membicarakan tulisan sudah jarang menghubunginya untuk hal-hal seperti itu. Mereka sibuk dengan pekerjaan yang lebih jelas bentuknya. Lebih mudah dijelaskan kepada keluarga.
Arga pernah berada di antara mereka. Duduk di kafe-kafe Jakarta, berbicara panjang tentang perubahan, tentang peran intelektual, tentang masa depan yang seolah bisa dirancang dengan kata-kata. Ia ingat bagaimana mereka saling meyakinkan bahwa tulisan adalah sesuatu yang bisa menggerakkan dunia.
Sekarang dunia bergerak tanpa menunggu siapa pun menulis tentangnya.
Ponselnya bergetar pelan di atas meja. Ia tidak langsung meraihnya. Getaran itu berhenti, lalu muncul lagi. Nama Lintang muncul di layar.
Ia melihatnya beberapa detik lebih lama dari yang diperlukan, seolah sedang memastikan bahwa ia benar-benar siap untuk menjawab.
Akhirnya ia mengangkat.
“Halo.”
Di seberang, suara itu terdengar seperti biasanya. Tidak tinggi, tidak rendah, tidak menunjukkan sesuatu yang berlebihan. Justru karena itu, Arga tahu ada jarak yang tidak bisa diukur dengan kata-kata.
“Kamu lagi di rumah?”