BAB 2
JOGJA YANG TIDAK LAGI RUMAH
Jogja tidak pernah benar-benar sepi, bahkan di pagi hari.
Suara motor sudah mulai terdengar sejak langit masih pucat. Dari gang sempit di depan rumah, orang-orang lewat dengan urusan masing-masing. Ada yang berangkat kerja, ada yang membuka warung, ada yang menyapu halaman yang sebenarnya tidak pernah benar-benar kotor.
Lintang sudah bangun sebelum semua itu dimulai.
Di rumah itu, pagi tidak pernah datang bersamaan bagi semua orang. Ibunya biasanya sudah bangun lebih dulu, duduk di dapur dengan segelas teh hangat yang tidak pernah benar-benar habis. Adiknya bangun belakangan, kadang terburu-buru, kadang seperti tidak punya tujuan yang jelas. Dan Lintang, ia bangun di antara keduanya, tapi dengan ritme yang berbeda dari semuanya.
Ia duduk di samping ranjang Ryan, membiarkan anak itu bangun dengan caranya sendiri. Tidak tergesa. Tidak dipaksa. Tubuh Ryan membutuhkan waktu untuk memahami pagi. Untuk mengingat kembali bagaimana menggerakkan dirinya.
“Bangun pelan-pelan,” katanya pelan.
Ryan membuka mata. Pandangannya berhenti di langit-langit kamar yang sudah mulai kusam. Ada bekas lembap di sudut, membentuk pola yang tidak pernah benar-benar sama.
Lintang membantu menggeser tubuhnya sedikit. Tangannya sudah terbiasa. Ia tahu bagian mana yang harus ditahan, bagian mana yang tidak boleh dipaksa.
Tidak ada keluhan dari Ryan. Ia hanya mengikuti.
“Terapi lagi ya hari ini?” tanya Ryan.
Lintang mengangguk. “Iya. Kita coba lagi ya.”
Kata itu selalu ia pilih. Coba. Tidak menjanjikan, tapi juga tidak menutup kemungkinan.
Di dapur, ibunya sedang duduk menghadap jendela kecil. Cahaya pagi masuk tipis, mengenai wajah yang sudah lama terbiasa menyimpan sesuatu sendiri.
“Kamu sudah bangun?” tanya ibunya tanpa menoleh.
“Sudah, Bu.”
“Kopi atau teh?”
“Air hangat saja.”
Ibunya mengangguk. Tidak banyak bertanya. Ia tidak pernah menjadi orang yang banyak bicara sejak ayah Lintang meninggal.
Semuanya terjadi begitu saja waktu itu. Tanpa sakit. Tanpa tanda. Pagi yang biasa berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Sejak hari itu, rumah ini tidak pernah benar-benar kembali seperti semula.
Ibunya tetap menjalani hari seperti biasa. Memasak, membersihkan, duduk di ruang depan. Tapi ada bagian dari dirinya yang seperti berhenti di satu titik yang tidak pernah ia tinggalkan.
Lintang menuang air ke dalam gelas, mencampur susu untuk Ryan dengan hati-hati. Di meja makan, beberapa kertas tertata tidak rapi. Tagihan, catatan terapi, dan daftar kecil yang ia tulis semalam. Angka-angka di sana tidak pernah terasa ringan.